JOGJA - Event Malioboro Run berdampak pada peningkatan okupansi hotel di DIY. Pasalnya, 70 persen persertanya dari luar DIY, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan hunian penginapan terutama di Kota Jogja.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranomo Eryono mengatakan, peningkatan okupansi hotel mencapai 10 hingga 20 persen dibanding hari biasa terutama hotel area Malioboro.
Jika di akhir pekan tidak ada event lari, okupansi hanya 50 hingga 60 persen. Namun jika ada event lari bisa mencapai 60 sampai 80 persen dengan rata-rata menginap dua hari.
“Tentunya event lari biasanya pagi-pagi otomatis peserta luar kota harus menginap,” ujarnya Minggu (4/10/2026).
Baca Juga: Sejumlah Pasar di Gunungkidul Ini Dilakukan Revitalisasi, Toilet hingga Musala Dibenahi
Sementara itu, Dinas Periwisata (Dispar) DIY Eling Priswanto mengatakan, dengan adanya Malioboro Run yang pesertanya lebih banyak dari wilayah luar DIY, dapat memberikan dampak positif bagi ekosistem pariwisata dan perekonomian Jogja.
“Tingginya persentase para peserta dari luar DIY, ini mengubah gelaran lari dari sekedar ajang olahraga, menjadi mesin penggerak sport tourism.” Tuturnya.
Selain peningkatan okupansi hotel, dampak dari event ini bisa memberikan multiplier effect kepada UMKM dan kuliner. Mereka berpotenasi membeli oleh-oleh seperti bakpia, batik, maupun kerajinan di DIY. Hingga warung-warung yang dianggap legendaris juga bisa mendapatkan dampak positifnya. “Dapat memberikan suntikan omzet secara langsung,” lanjutnya.
Baca Juga: Over Kuota! Konsumsi BBM dan LPG Subsidi di DIY, Pemprov Ajukan Tambahan hingga Akhir Tahun
Malioboro Run juga dinilai bisa mempromosikan nilai budaya dan heritage di DIY. Sebab, rutenya melintasi ikon-ikon sejarah. Seperti Kawasan Benteng Baluwarti, Keraton, Pura Pakualaman, hingga Tugu.
“Hal ini memberikan pengalaman visual tourism,” katanya. r
Penerapan ekonomi produk lokal dan nontunai dalama event lari ini, juga menjadi salah satu program partisipasi mitra lokal di area Race Village dan adopsi pembayaran digital (QRIS).
Hal ini ikut mengedukasi ekosistem transaksi lokal sekaligus memutae arus uang langsung ke pedagang kecil. Menurutnya, peserta dari luar daerah membuktikan Malioboro Run sangat efektif menjadi magnet event based tourism.
“Kuncinya ke depan, menjaga manajemen lalu lintas, kebersihan, kenyamanan, agar pelari selalu rindu untuk kembali ke Jogja,” tandasnya. (cin)
Editor : Winda Atika Ira Puspita