MAGELANG - Pemkot bakal menghelat kegiatan bertajuk Magelangan: Kota Sejuta Karya pada 3-4 Oktober 2026. Bukan sekadar pameran atau hiburan, gelaran itu dirancang menjadi wadah untuk mempertemukan kreator, komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, hingga pemerintah sekaligus memperlihatkan karya dari berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai Parekraf Fair itu akan dipusatkan di kawasan depan Rektorat Universitas Tidar (Untidar), Kampus Sidotopo. Agenda selama dua hari tersebut memadukan pameran produk kreatif, pertunjukan seni, film, fesyen, workshop, kompetisi, olahraga, hingga aktivitas yang berkaitan dengan pariwisata.
Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang Yetty Setia Ningsih menjelaskan, Magelangan menjadi satu upaya pemerintah untuk memberikan panggung kepada pelaku ekonomi kreatif dan pariwisata di Kota Magelang.
Baca Juga: Serasa 'Match' di Dunia Nyata, Tradisi Cari Jodoh Suku Wodaabe Afrika, Unik No Basa-Basi
"Ini seperti hari rayanya teman-teman ekonomi kreatif dan juga teman-teman yang berkecimpung di dunia pariwisata," kata Yetty saat konferensi pers, Kamis (24/9).
Menurut dia, selama ini geliat 17 subsektor ekonomi kreatif di Kota Magelang tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama. Karena itu, pemerintah ingin mengetahui sekaligus memperlihatkan aktivitas, karya, dan produk yang dihasilkan para pelaku kreatif sepanjang tahun.
"Setahun itu pergerakan teman-teman ngapain saja, kemudian produknya seperti apa. Kita juga perlu menampilkan mereka, memberikan wadah," ujarnya.
Baca Juga: Tak Perlu Chat, Tradisi Unik Cari Jodoh di Afrika Ini Cukup Pakai Gerakan
Satu subsektor yang mendapat perhatian khusus adalah film. Pada gelaran Magelangan, film tidak hanya ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk memperlihatkan keterhubungan berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Yetty menilai, film dapat menjadi ruang dokumentasi berbagai karya dan aktivitas kreatif. Di dalam produksi film, misalnya, terdapat unsur kain, seni, visual, musik, hingga berbagai industri pendukung lainnya. Karena itu, film dipilih sebagai satu materi utama dalam agenda malam pembukaan.
Dia menambahkan, Magelangan juga dirancang sebagai perwujudan konsep hexaheliks, yakni kolaborasi lintas unsur dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif. Karena pemerintah ingin membangun wadah yang dapat mempertemukan berbagai pelaku kreatif secara rutin.
Baca Juga: Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League, Update Tim, Starting XI dan Hasil Akhir
Magelangan pun dirancang untuk digelar secara rutin setiap tahun. Evaluasi dari penyelenggaraan tahun ini akan menjadi dasar untuk pengembangan kegiatan pada tahun berikutnya.
Harapannya, lanjut Yetty. ekosistem kreatif Kota Magelang dapat berkembang lebih jauh seperti kota-kota lain yang telah memiliki ekosistem ekonomi kreatif yang kuat, antara lain Bandung dan Malang.
Panitia Magelangan, Asef F Amani melanjutkan, penggunaan nama Magelangan bukan sekadar pergantian nama dari Parekraf Fair. Nama tersebut sengaja dipilih untuk memberikan identitas lokal yang lebih kuat.
Baca Juga: Manchester United Mulai Siapkan Pengganti Luke Shaw, Bek Crystal Palace Masuk Radar
"Ini perlu ada lokalitas yang diangkat. Maka kita kepikiran untuk memakai nama Magelangan," terang Asef.
Magelangan, kata dia, tidak hanya menempatkan produk yang dapat dijual dalam stan. Panitia mencoba menghadirkan karya kreatif melalui berbagai bentuk. Dalam expo, produk dari pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Magelang akan ditampilkan secara langsung.
Satu yang diperkirakan cukup dominan adalah wastra, termasuk batik, kain, dan produk fashion. Namun, subsektor yang produknya tidak cocok ditampilkan melalui stan juga tetap mendapat ruang.
Baca Juga: 276 Siswa dan Orang Tua di Batang Diduga Keracunan MBG, Dapur Penyedia Disetop Sementara
Karya desain komunikasi visual, misalnya, akan hadir melalui elemen visual yang membangun keseluruhan acara. Begitu pula subsektor video dan film yang ditampilkan melalui materi audiovisual dan agenda screening.
"Jadi mereka tidak perlu membuka stand, tetapi secara keseluruhan karya visual ini adalah karya-karya dari teman-teman desain komunikasi visual," bebernya.
Dengan konsep tersebut, panitia ingin pengunjung tidak sekadar datang melihat deretan stan, tetapi merasakan berbagai bentuk karya kreatif sejak memasuki kawasan acara. (aya)
Editor : Heru Pratomo