SLEMAN - Prambanan Jazz Festival kembali digelar di Pelataran Candi Prambanan pada Jumat hingga Minggu (3-5/7). Pada tahun ke-12 ini Prambanan Jazz mengusung tema besar Celebrate The Joy dengan menghadirkan jajaran musisi nasional dan internasional. Mulai dari NIKI, Henry Moodie, Michael Learns To Rock, Xdinary Heroes, The Rose, Joey Alexander, dan banyak lainnya.
Salah satu penonton yang datang, Nabila mengaku khusus datang menonton idolanya yaitu Xdinary Heroes. Perempuan asal Jawa Timur ini mengaku sampai menyiapkan freebies atau hadiah gratis yang diberikan pada sesama fans K-pop. Saat pertama kali datang dia mengaku langsung disambut dengan desain gerbang yang artistik dan cocok untuk dibuat konten.
"Aku sudah datang dari pukul 14.00 siang. Ini pertama kali datang Prambanan Jazz dan dapat pengalaman luar biasa," katanya ditemui di lokasi, Jumat (3/7).
Baca Juga: Upaya Mengentaskan Kemiskinan, DPUPKP Bantul Ajukan Seribu RTLH ke Kemen PKP RI untuk Diperbaiki
Dia sebut memang ada berbagai persiapan khusus yang dilakukan. Salah satunya memasang koyo di kaki agar kuat berdiri lama-lama untuk menikmati sajian para musisi. "Pokoknya pengen seneng-seneng. Aku datang sendiri, tapi ini sudah dapat temen," katanya.
Hal senada disampaikan oleh penonton lain, Septiana yang khusus datang karena ingin melihat penampilan dari Michael Learns To Rock. Dia sebut artis yang diundang sangat bagus dan ditunjang dengan desain pintu masuk dan panggung artistik. Perempuan asal DIJ ini datang bersama seluruh keluarganya. Termasuk dua anaknya yang berusia sepuluh bulan dan tujuh tahun.
"Aku rasa ramah aja buat bawa keluarga karena penontonnya enggak merokok juga," ujarnya.
Baca Juga: Wabup Dion Agasi Minta Kelompok Mayoritas Beri Rasa Aman terhadap Minoritas di Purworejo
Prambanan Jazz Festival 2026 ini memang menggandeng seniman kawakan Indonesia, Eko Nugroho sebagai Commissioned Artist. Eko sebut acara ini merupakan ruang untuk pulang. Ia menerjemahkan tema Celebrate The Joy dengan menghadirkan identitas visual yang akan menyambut setiap pengunjung sejak memasuki kawasan festival.
"Visual ini jadi representasi kebahagiaan, keberagaman, serta pertemuan berbagai budaya yang menjadi semangat Prambanan Jazz Festival 2026," katanya.
CEO Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi menyebut, acara ini dia tempatkan ibarat sebagai rumah untuk pulang dan kepulangan ini harus dirayakan dengan dengan sebesar-besarnya. Prambanan Jazz Festival juga bukan hanya sebuah festival musik, tetapi sebuah festival yang dapat dinikmati oleh semuanya. "Itulah semangat yang kami usung melalui tema Celebrate The Joy," ujarnya.
Festival Curator Prambanan Jazz Festival 2026, Shadu Rasjidi menjelaskan, proses kurasi festival tidak hanya berfokus pada pemilihan musisi yang akan tampil. Namun, juga pada upaya untuk menjaga perkembangan Prambanan Jazz Festival tanpa kehilangan identitasnya sebagai festival jazz.
Menurutnya, sebuah festival perlu tetap memiliki karakter yang kuat, tetapi di saat yang sama juga harus mampu terus berkembang agar dapat bertahan. "Prambanan Jazz Festival terus berupaya menjaga keseimbangan antara menghadirkan kualitas musikal yang baik dan secara bertahap memperkuat unsur jazz dalam setiap penyelenggaraannya," tambahnya.
Prambanan Jazz Festival 2026 sendiri memang menghadirkan beragam program. Salah satunya adalah Playing Jazz. Sebuah konsep yang mempertemukan musisi lintas genre untuk mengeksplorasi jazz melalui karakter musikal mereka masing-masing. Perunggu, The Panturas, Rio Febrian, Salma Salsabil, White Chorus, dan Jogja Hip Hop Foundation adalah sekian yang terpilih untuk mengadopsi jazz dengan pendekatan yang sesuai identitas dan karakter musik mereka.
Semangat perkembangan jazz juga diwujudkan melalui I'm Jazz a Kids. Program yang dirancang sebagai ruang regenerasi musisi jazz muda Indonesia. Para pemenang I'm Jazz a Kids tahun sebelumnya akan turut tampil di panggung Prambanan Jazz Festival bersama para musisi yang telah lebih dahulu mewarnai perjalanan jazz di Indonesia. Formasi ini terbagi ke dalam tiga kategori band, yaitu Senandung untuk usia tujuh hingga sembilan tahun, Irama usia 10 hingga 12 tahun, dan Harmoni 13 hingga 15 tahun. (del/pra)
Editor : Heru Pratomo