JOGJA – Penyelenggara ARTJOG 2026 akhirnya buka suara terkait polemik keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) sebagai strategic partner festival seni tahunan tersebut.
DHF hanya memberi dukungan pendanaan dan tidak memiliki pengaruh terhadap proses kuratorial maupun kebebasan berekspresi seniman.
Sebagai salah satu festival seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia, ARTJOG 2026 akan berlangsung selama 73 hari atau sekitar 2,5 bulan. Namun, menjelang pembukaan pameran beberapa hari lalu, muncul kritik dari sejumlah pegiat seni terkait pencantuman DHF sebagai strategic partner.
Nama yayasan tersebut kemudian tidak lagi tercantum dalam daftar mitra saat festival resmi dibuka.
Baca Juga: SPMB Hari Pertama di SMPN 6 Jogja, Ortu Calon Siswa Masih Kebingungan karena Gaptek
PR & Publication Director PT ARTJOG Matra Nusantara Amelberga Astri menjelaskan, penjajakan kerja sama dengan DHF telah dilakukan sejak akhir tahun lalu. Dalam kemitraan itu, DHF berperan memberikan dukungan pendanaan bagi pelaksanaan ARTJOG 2026.
"Peran DHF sebagai strategic partner fokus ke dukungan finansial bagi kegiatan ARTJOG 2026. Bagi kami, proses kemitraan ini praktis dan terukur, layaknya standar kemitraan sponsorship pada umumnya," ujarnya kepada Radar Jogja, Senin (22/6/2026).
Astri menyebut, ARTJOG menggandeng DHF karena lembaga tersebut memiliki perhatian dan visi yang sejalan dalam pengembangan ekosistem seni dan budaya di Indonesia. Kendati demikian, dukungan tersebut juga tidak pernah memengaruhi proses kuratorial maupun kebebasan para seniman dalam membuat dan menghasilkan karya.
"Kami apresiasi dan terbuka ke berbagai dukungan untuk keberlangsungan festival dengan tetap memegang prinsip, bahwa tidak akan intervensi independensi kuratorial maupun kebebasan berekspresi para seniman di ARTJOG," tegasnya.
Lebih lanjut, dia mengakui keputusan menghapus nama DHF dari daftar strategic partner diambil hanya sehari sebelum pembukaan festival. Keputusan tersebut, kata Astri, merupakan respons atas kritik yang berkembang di ruang publik.
"Proses dan keputusan ini terjadi sehari sebelum pembukaan, tentunya untuk menghormati kritik yang telah kami terima," ungkapnya.
Meski demikian, pihak penyelenggara menilai kritik yang muncul merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap festival seni yang selama ini menjadi ruang pertemuan publik, seniman, dan berbagai pemangku kepentingan kebudayaan.
"Kami melihatnya sebagai bentuk kepedulian publik terhadap acara ini," jelasnya.
Sebelumnya, keterlibatan DHF menuai sorotan dari sejumlah pegiat seni dan publik. Sebagian pihak menilai kehadiran yayasan tersebut berpotensi menjadi praktik artwashing sekaligus mencerminkan kedekatan ruang seni dengan kekuasaan.
Kritik tersebut ramai diperbincangkan di media sosial maupun forum-forum komunitas seni menjelang pembukaan ARTJOG 2026.
Baca Juga: Jaga Listrik Tetap Menyala, Kisah Rejo Handoyo Teknisi PLTMH Kedungrong Kulon Progo
Menanggapi tudingan tersebut, pihak penyelenggara membantah adanya kepentingan politik maupun praktik artwashing dalam penyelenggaraan festival.
"Kami dengar dan sangat hargai kekhawatiran teman-teman. Namun, kami ingin meluruskan hal ini sangat tegas, tidak ada campur tangan politik maupun praktik artwashing dalam penyelenggaraan ARTJOG," tegasnya.
Menurutnya, independensi ruang seni tidak berarti menutup diri terhadap kolaborasi dengan berbagai pihak. Dukungan sponsor dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan festival seni berskala besar yang dapat diakses publik secara luas.
"Ruang seni ini milik bersama yang independensinya kami jaga dengan profesional. Pihak-pihak yang menjadi sponsor, termasuk DHF, hadir murni atas komitmen mereka untuk mengembangkan ekosistem seni dan budaya di Indonesia," lanjutnya.
Selanjutnya, terkait mekanisme pemilihan sponsor dan strategic partner, ARTJOG menyatakan terbuka terhadap berbagai bentuk dukungan yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan seni dan budaya.
Namun, mereka memastikan setiap kerja sama tidak akan memengaruhi kebebasan berkarya, proses kuratorial, maupun independensi festival. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita