JOGJA - Pasar Kangen bertajuk Ana Upaya Ana Upa di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 2026 resmi dibuka Senin (22/6/2026). Sebanyak 300 tenan terlibat selama sepekan berlangsungnya even tahunan ini.
Terdiri atas 165 tenan kuliner dan 135 tenant kerajinan, barang antik, dan jasa. Mereka terpilih melalui proses kurasi dari total 687 pendaftar.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam (PA) X mengatakan, Pasar Kangen bukan sekadar menghadirkan kembali benda-benda masa lalu. Tetapi penting untuk menjadi ruang merefleksikan nilai-nilai yang pernah hidup di tengah masyarakat.
"Di Pasar Kangen ini mari perluas kerinduan kita ke masa lalu bukan semata pada benda-benda lawasnya, tapi juga menyentuh aspek nilai-nilai yang pernah hidup di dalamnya. Seperti kedekatan, kesederhanaan, gotong royong, dan rasa kebersamaan," ujarnya saat pembukaan.
PA X menjelaskan, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk bergerak maju tanpa kehilangan akar budayanya. Esensi Pasar Kangen dianggap sebagai pelajaran pengalaman masa lalu untuk menghadapi kehidupan masa kini dan mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menuturkan, Pasar Kangen tahun ini dirancang tidak hanya sebagai ruang nostalgia, tetapi juga sarana edukasi dan pelestarian budaya.
"Pasar Kangen TBY ini ruang di mana kita merayakan kekayaan warisan budaya, kuliner, kerajinan, barang antik, kesenian dan tradisi lokal. Jadi tidak sekadar jadi media nostalgia, tapi juga sarana edukasi, pelestarian, dan regenerasi nilai-nilai kearifan lokal," katanya.
Selain aktivitas jual beli, kegiatan yang berlangsung hingga 28 Juni mendatang itu juga dimeriahkan panggung seni yang melibatkan 19 grup kesenian dengan sekitar 380 pelaku seni.
Baca Juga: Jaga Listrik Tetap Menyala, Kisah Rejo Handoyo Teknisi PLTMH Kedungrong Kulon Progo
Berbagai pertunjukan mulai dari musik tradisional, tari, ketoprak hingga wayang kulit dijadwalkan tampil setiap hari.
Di antara ratusan tenan yang berpartisipasi, Doni, penjual apem dan kue cucur asal kawasan Pasar Ngasem menjadi salah satu peserta yang telah mengikuti Pasar Kangen selama hampir dua dekade.
Ia mengaku rutin mengikuti Pasar Kangen sejak 2007 dan tidak pernah absen meski lokasi penyelenggaraan beberapa kali berpindah.
"Kita jaga makanan tradisional, terutama untuk rasa. Biar anak muda itu tahu makanan tradisional, enggak cuma makan kekinian," ujarnya.
Menurutnya, minat generasi muda terhadap makanan tradisional mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu juga terlihat dari banyaknya pengunjung muda yang datang ke lapaknya untuk mencicipi apem maupun kue cucur.
"Sudah senang banget kalau anak muda mau coba makanan tradisional. Oh ini toh namanya apem, oh rasanya gini. Oh ini cucur, oh rasanya gini," jelasnya.
Selama Pasar Kangen berlangsung, Doni menjual apem dan cucur dengan harga Rp 4.000 per buah. Ia menyebut pada hari-hari ramai jumlah penjualan bisa mencapai sekitar seribu item dalam sehari.
Meski demikian, ia berharap durasi penyelenggaraan dapat diperpanjang. Sebab pelaksanaan selama tujuh hari masih dirasa singkat dibanding beberapa edisi sebelumnya yang pernah berlangsung hingga 10 hari.
"Semoga lebih meriah lagi dan semakin banyak anak muda yang datang melihat Pasar Kangen," tambahnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita