JOGJA - Pasar Kangen Taman Budaya Yogyakarta (TBY) 2026 kembali digelar pada 22 hingga 28 Juni mendatang, menghadirkan 294 tenant atau meningkat dibanding tahun sebelumnya 218 tenant.
Dan 19 grup kesenian bakal memeriahkan gelaran tahun ini yang mengusung tema Ana Upaya Ana Upa.
Kepala UPT TBY Purwiati mengatakan, peningkatan jumlah tenant tersebut dimungkinkan setelah sejumlah ruang yang sebelumnya dalam proses renovasi kini kembali siap digunakan.
"Jumlah pendaftar memang turun, tetapi tenant yang terlibat justru lebih lengkap dan lebih banyak. Sebelumnya ruang yang tersedia terbatas karena renovasi, sekarang sudah siap sehingga bisa menampung lebih banyak peserta," katanya saat konferensi pers, Jumat (19/6/2026).
Dari total 687 pendaftar yang mengikuti proses seleksi dan kurasi, TBY menetapkan 294 tenant yang terdiri atas 165 tenant kuliner tradisional serta 129 tenant kerajinan, barang antik, dan jasa.
Menurutnya, kehadiran Pasar Kangen tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pelaku UMKM. Bahkan peserta tahun ini tidak hanya berasal dari DIY, melainkan juga dari berbagai daerah di Indonesia.
"Ada tenant dari Aceh, Manado dan daerah lainnya. Jadi semakin beragam. Kami berharap kegiatan ini berjalan lancar, sukses, dan seluruh tenant bisa laris manis," ujarnya.
Ia mengungkapkan, pada penyelenggaraan tahun lalu perputaran uang selama satu pekan mencapai sekitar R p4,5 miliar. Angka tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan yang rutin digelar setiap tahun.
Selain menghadirkan ratusan tenant, penyelenggaraan tahun ini juga akan dimeriahkan pertunjukan dari 19 grup kesenian yang menampilkan seni tradisi, musik, tari, teater tradisional hingga wayang kulit pakeliran padat.
Sementara itu, Seniman sekaligus Kurator Pasar Kangen Ong Hari Wahyu menyebut ,penyelenggaraan tahun ini memiliki makna khusus karena menandai dua dekade perjalanan Pasar Kangen sejak pertama kali digelar pada 2007.
"Ini tahun ke-20 Pasar Kangen yang terus kami perjuangkan adalah makanan tradisi harus tetap ada. Kami punya tagline besar, yakni kedaulatan pangan. Perjuangan ini tidak boleh berhenti dan harus terus berjalan," katanya.
Ong menuturkan antusiasme pelaku UMKM masih tinggi. Meski kuota resmi sebanyak 294 tenant, panitia masih berupaya menambah ruang sehingga jumlah peserta berpotensi mencapai sekitar 300 tenant.
Penyelenggaraan Pasar Kangen juga menjadi bentuk dukungan bagi pelaku UMKM yang saat ini menghadapi tantangan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat.
"Di situasi ekonomi yang tidak mudah, kami merasa perlu memfasilitasi dan memberi peluang usaha. Karena itu kami juga hitung perputaran uang yang terjadi sampai hari terakhir sebagai salah satu indikator keberhasilan," jelasnya.
Berdasarkan evaluasi penyelenggaraan sebelumnya, jumlah pengunjung bisa mencapai 28 ribu hingga 30 ribu orang per hari. Namun, tren belanja masyarakat cenderung menurun sehingga panitia berupaya menjaga harga tetap terjangkau. Harga makanan dibatasi paling mahal Rp 20 ribu.
"Kami ingin menyesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini," bebernya.
Baca Juga: Dapat Insentif Rp 1.000 per Ompreng, Mendukbangga Kenalkan Tugas Baru TPK Mengawal Distribusi MBG 3B
Ong juga menilai keberhasilan Pasar Kangen tidak hanya diukur dari transaksi ekonomi, tetapi juga dari keberhasilannya mengenalkan kembali kuliner dan budaya tradisional kepada generasi muda.
"Yang membahagiakan, pengunjungnya banyak anak muda. Bahkan banyak yang baru mengenal makanan-makanan tradisional melalui Pasar Kangen. Menariknya lagi, penjualnya juga banyak dari kalangan anak muda," tambahnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita