BANTUL - Sesi Business Talks JFF 2026 yang dipandu oleh Chairman CT Corp Chairul Tanjung dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi puncak hari pertama Jogja Finansial Festival 2026 (JFF 2026) yang digelar di Jogja Expo Center Jumat (22/5).
Purbaya kembali memaparkan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Mantan Ketua Dewan Komisioner Lempaga Penjamin Simpanan (LPS) itu terus menyuarakan optimisme ekonomi Indonesia baik-baik saja.
"Mari kita kaya bersama," tegasnya di depan ribuan tamu undangan dan peserta JFF 2026 yang didominasi mahasiswa dan pelajar.
Dengan gaya khasnya, Purbaya memaparkan optimismenya dengan melihat daya beli masyarakat. Dimulai dengan paparan jumlah penjualan kendaraan mobil dan motor. "Per April ini data menunjukkan penjualan motor dan mobil naik, artinya daya beli masyarakat masih ada," ungkapnya.
Begitu pula terkait dengan penerimaan negara yang meningkat pada April lalu. Tak hanya karena batas akhir pelaporan SPT. Purbaya menyebut sistem coretax yang salah satunya digagas oleh Ketua Dewan Komisioner LPS saat ini Anggito Abimanyu waktu masih menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
“Sistem itu terbukti berjalan sangat baik, terima kasih ya Pak Anggito, sekarang penerimaan pajak sudah sangat baik dan meningkatkan transparansi serta kepatuhan wajib pajak,” ujarnya.
Termasuk ketika ditanya Chairul Tanjung soal nilai tukar rupiah terhadap dolar. Dia menjanjikan pada Juni akan mulai ada perbaikan. Menurut dia nilai tukar rupiah terhadap dolar akan kembali pada Rp 15 ribu per dolar. Dia pun memberikan saran pada pemain valuta asing. "Sekarang ini saatnya jual dolar," katanya diikuti senyuman khasnya.
Anggito sendiri dalam sambutannya menyatakan, JFF yang dulunya bernama LPS Financial Festival merupakan gagasan dari Chairul Tanjung dan Purbaya saat menjadi ketua dewan komisioner LPS.
Anggito pun mengaitkan dengan perkembangan teknologi artificial intelegence saat ini. Menurut dia, masyarakat khususnya generasi muda tidak boleh membiarkan teknologi tumbuh lebih cepat daripada etika, literasi, dan tanggung jawab finansial bangsa.
“Kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan dimana anak muda mudah membuka akun investasi, tetapi belum mampu menyusun perencanaan keuangan," jelasnya. "Masyarakat semakin aktif bertransaksi digital, tetapi banyak rekening menjadi pasif; pinjaman online ilegal tumbuh cepat; judi digital menyusup melalui platform teknologi, dan investasi semu terus memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat."
Menurutnya, itulah alasan yang tepat, mengapa JFF 2026 digelar di Yogyakarta. Terlebih Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar. JFF kata dia, adalah pertemuan gagasan, keberanian, dan harapan generasi muda Indonesia. "Tempat anak-anak muda belajar bahwa mengelola masa depan bukan hanya soal mencari manfaat finansial, tetapi tentang membangun ketahanan, menguasai teknologi, memitigasi risiko, menjaga martabat, dan menciptakan peluang,” jelasnya.
Gubernur DIY Hamengku Buwono X menyampaikan apresiasinya, beliau menyambut baik penyelenggaraan forum ini, sebagai ruang untuk menata arah bersama, bagaimana kebijakan, budaya, ilmu, dan teknologi dapat bertemu, agar pertumbuhan ekonomi tidak tercerabut dari martabat manusia.
“Kita sedang meletakkan fondasi bagi sesuatu yang lebih besar, lebih bijak menggunakan uang sebagai budaya baru Indonesia, bukan sebagai gerakan moralisme yang menggurui, melainkan sebagai kesadaran kolektif, bahwa bangsa yang besar, adalah bangsa yang cerdas mengelola sumber dayanya,” ujar HB X.
Editor : Heru Pratomo