MAGELANG - Kota Magelang bersiap menjadi tuan rumah penyelenggaraan Interhash atau Red Dress Run 2026, ajang olahraga rekreatif berskala internasional pada Jumat (8/5) mendatang. Nantinya, kegiatan ini diproyeksikan diikuti sekitar 3.000 peserta dari 44 negara, mulai dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Australia.
Panitia Interhash 2026, Ngadiso menjelaskan, Interhash merupakan aktivitas olahraga non-kompetitif yang memadukan lari atau jalan santai di alam terbuka dengan unsur petualangan dan kebersamaan.
"Ini bukan lomba. Fokusnya pada kebugaran, eksplorasi, dan interaksi sosial. Jadi peserta tidak sekadar berlari, tapi juga menikmati perjalanan," ujarnya di Kantor Wali Kota Magelang, Rabu (6/5).
Baca Juga: Enam Solusi Mengatasi Flek Hitam di Wajah Secara Herbal
Karakter lintasan dalam kegiatan Interhash umumnya menantang. Sebab melintasi berbagai kontur seperti perbukitan, persawahan, hingga aliran sungai. Namun khusus di Kota Magelang, rute dirancang lebih ramah sekaligus menonjolkan sisi historis dan keindahan kota.
Dia menyebut, rute kegiatan ini akan dimulai dari kawasan Bangunan Eks Karesidenan Kedu atau Bakorwil dan berakhir di gedung Tri Bhakti dengan jarak sekitar 3 kilometer (km). Dari titik start, peserta akan bergerak menuju perempatan CPM, lalu melintasi Jalan Pemuda atau kawasan Pecinan sebelum finis di gedung Tri Bhakti.
Meski disebut run, kata Ngadiso, dalam praktiknya kegiatan ini lebih menyerupai jalan santai. Peserta diberi keleluasaan untuk menikmati suasana kota, berinteraksi, hingga mendokumentasikan pengalaman mereka sepanjang perjalanan.
Dia menambahkan, sesuai namanya, Red Dress Run identik dengan atribut berwarna merah yang dikenakan peserta. Namun panitia memastikan pelaksanaan tetap memperhatikan norma dan budaya lokal. "Peserta tetap berpakaian sopan, hanya ada unsur merah sebagai ciri khas komunitas," katanya.
Setibanya di lokasi finis di Tri Bhakti, rangkaian acara akan dilanjutkan dengan hiburan hingga malam hari. Panitia juga merancang berbagai atraksi di sepanjang rute, mulai dari penampilan drumband hingga keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meski konsep finalnya masih dimatangkan.
Dari sisi partisipasi, lanjut Ngadiso, peserta Interhash 2026 berasal dari berbagai negara seperti Australia, Brunei, Kamboja, Kongo, India, Turki, Singapura, hingga Malaysia yang menjadi penyumbang peserta terbanyak, diperkirakan mencapai sekitar 500 orang.
Baca Juga: Pemkot Jogja Kumpulkan Orang Tua Korban Daycare, Tuntut Restitusi dari Yayasan Little Aresha
Setelah agenda di Kota Magelang, kegiatan akan berlanjut pada 9-10 Mei di sejumlah lokasi lain, seperti Tuksongo di kawasan Borobudur dan Plaosan di Prambanan, sebelum ditutup di Tebing Breksi, Jogja. Pada tahap ini, peserta akan terbagi ke dalam beberapa titik kegiatan untuk menghindari penumpukan.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menilai, penyelenggaraan Interhash menjadi momentum strategis untuk menggerakkan sektor jasa dan perdagangan di daerahnya. "Event seperti ini membawa dampak ekonomi yang luar biasa, ada multiplier effect yang dirasakan langsung oleh masyarakat," bebernya.
Baca Juga: Turis Meninggal Dunia Jatuh dari Tebing di Huaying Tiongkok, Tali Pengaman Ayunan Ekstrem Putus
Dia menegaskan, kehadiran ribuan peserta dari berbagai negara akan memberikan dampak signifikan, mulai dari sektor perhotelan, kuliner, hingga usaha kecil di sekitar lokasi kegiatan. Menurutnya, kota tanpa event akan kehilangan daya tarik. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional.
Damar melihat Interhash sebagai peluang untuk memperkuat citra Kota Magelang sebagai kota bersejarah (historical city) sekaligus destinasi wisata yang berkesan. "Ini kesempatan luar biasa untuk memperkenalkan Magelang ke dunia. Banyak spot yang bisa dikunjungi dan dikenang oleh peserta," paparnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo