JOGJA - Geliat panggung seni peran di DIY kembali semarak menjelang diadakannya Yogyakarta Urban Teater Festival (YUTFest) pada 6 hingga 8 Mei di TBY. Dari 25 kelompok seni yang mengajukan proposal, terpilih enam kelompok yang akan mementaskan karyanya.
Kepala TBY Purwiati mengatakan, YUTFest tahun ini mengalami perubahan nama dari Linimasa menjadi YUTFest. Konsep "urban" yang diusung tidak merujuk secara harfiah pada kehidupan perkotaan atau proses menuju kemapanan fisik, melainkan perspektif teatrikal untuk membedah ketegangan sosial, dinamika ekonomi, politik, budaya lokal, hingga interkoneksi kultural yang sering terlupa antara wilayah rural dan urban di tengah pesatnya pembangunan daerah.
"Target penonton besok 1.100 orang sesuai dengan kapasitas Concert Hall TBY," ujarnya saat ditemui di TBY, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: Pemprov DIY Wadul ke DPR RI, Kekurangan Penilik Hambat Pengawasan Daycare: Di Kota Hanya Satu, Per Mei Sudah Pensiun
Menurutnya, perubahan nama di tahun ini berkaitan dengan sumber pendanaan acara. Tahun ini, festival tersebut dibiayai melalui DAK nonfisik yang sebelumnya didanai dari Dana Keistimewaan (Danais). Namun, semuanya sama karena bersumber dari pemerintah.
"Dengan adanya efisiensi anggaran, ada beberapa kegiatan yang sebagian pembiayaannya kami alihkan ke DAK. Namun, secara kualitas tetap menjadi hal yang paling utama bagi kami," bebernya.
Seleksi penampil YUTFest 2026 dilakukan sejak Januari. Tujuannya untuk memastikan kedalaman gagasan artistik dan formula pembaruan para penampil. Hasil akhir didapatkan enam kelompok seni yakni Teater Seriboe Djendela, Sanggar Ori Gunung Kidul, Emprit Sett Panggung, Serbet Budaya, Mendak Creative, dan Hurung Nemu.
Baca Juga: Tindak Lanjuti Ingub Penataan Daycare se-DIY, DP3AP2KB Kota Jogja: 31 Daycare Layak tapi Belum Legal, Ini Upayanya!
"Pementasan dilaksanakan tiga hari secara maraton, setiap malam ada dua kelompok yang akan pentas," tuturnya.
Kurator YUTFest 2026 Elyandra Widharta mengatakan, tahun ini ada mekanisme baru dalam melakukan seleksi penampil. Dari 25 proposal kelompok seni yang masuk akan dipilih sebanyak 10 kelompok yang nantinya mereka wajib melakukan presentasi secara daring. "Dari 10 kemudian kita tetapkan menjadi enam," ujarnya.
Keberagaman latar belakang penampil serta variasi genre menjadi salah satu indikator seleksi. Kelompok yang terpilih berasal dari berbagai latar belakang seni baik dari seni kerakyatan di kampung,sanggar hingga mereka yang memang kelompok teater profesional.
Baca Juga: Ketua Dewan Pers: Publik Akan Kembali Cari Informasi Bermutu daripada Konten Emosional Medsos
"Kelompok yang terpilih mengusung genre masing-masing, ada yang musikal, realis drama berbahasa Jawa, intradisiplin misalnya dalang kolaborasi teater dan tari serta teater dokumenter," bebernya.
Urban, dimaknai sebagai cara membaca teater di DIY dengan melihat dinamika sosial misalnya isu terkait pariwisata. Urban juga bisa dimaknai sebagai gaya berekspresi kelompok seni yang membaca persoalan-persoalan di DIJ. "Mereka melihat Jogja pada konteks teater pada hari ini seperti apa," imbuhnya. (oso/wia)