Acara tersebut dijadwalkan berlangsung 25 April 2025 di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta mulai pukul 19.00 hingga selesai.
Baca Juga: Wakapolda Lepas 33 Personel Polda DIY yang Akan Berangkat Haji 2026
Kegiatan ini secara khusus didedikasikan untuk menjadi ruang refleksi atas posisi perempuan dalam kehidupan bernegara.
“Acara ini mempertanyakan sejauh mana emansipasi sudah menelusup, menjadi jaring dan akar yang kokoh dalam kehidupan bernegara,” ungkap Sastrawan Evi Idawati Kamis (23/4/2026).
Kegiatan ini juga mengangkat tiga pilar penting dalam Trisakti Presiden Soekarno, yakni politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Perempuan, dalam konteks tersebut, tidak lagi dipandang sekadar pelengkap, melainkan diharapkan menjadi penggerak sekaligus pemangku kebijakan.
Baca Juga: Jelang May Day, Polresta Magelang Gelar Simulasi Penanganan Unjuk Rasa di DPRD Magelang
"Mereka akan membacakan puisi sekaligus menyampaikan motivasi, inspirasi, serta petuah bagi generasi sastra di Jogja," katanya.
Selain itu, acara ini juga akan menampilkan tiga repertoar puisi, yakni kisah Ratu Kalinyamat, Roro Jonggrang, dan Ratu Shima.
Repertoar tersebut akan dibacakan oleh anak-anak, remaja, hingga ibu rumah tangga yang tergabung dalam program piwulang membaca.
Program ini sendiri merupakan proyek baru dari Rumah Sastra Evi Idawati yang bertujuan memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar membaca dan menulis puisi, sekaligus menjadikan sastra sebagai gaya hidup.
Baca Juga: Istri Tewas di TKP, Pasangan Lansia Jadi Korban Laka Lantas di Jalan Magelang: Begini Kronologinya!
“Tiga tokoh perempuan penting dalam sejarah dan legenda Indonesia ini dihadirkan," tuturnya.
Melalui kisah-kisah tersebut, publik diajak melihat bagaimana perempuan dalam sejarah memiliki legitimasi berdasarkan kemampuan, seperti keadilan hukum dalam kepemimpinan Ratu Shima serta kemandirian ekonomi dan militer pada sosok Ratu Kalinyamat.
Rumah sastra ini sengaja menghadirkan tokoh dari bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam acara ini untuk membuka wawasan generasi muda, pelaku, serta penikmat sastra.
Sastra, kata dia, tidak berhenti pada kata-kata dan kalimat saja. Ada ruang-ruang yang bisa dieksplorasi dan dikolaborasi. Sastrawan menurutnya harus melek politik dan ekonomi, begitu pula sebaliknya.
"Acara ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara gratis," tambahnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita