Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Arak-arakan Rajakaya dan Ritual Gumbregan Membuka FKY 2025 di Gunungkidul, Cek Detail Prosesinya..

Winda Atika Ira Puspita • Selasa, 14 Oktober 2025 | 15:00 WIB

 

Fasad instalasi seni “Sumur Tiban” karya kolektif ABDW menjadi pintu masuk utama FKY 2025 di Lapangan Logandeng, Playen, Gunungkidul.
Fasad instalasi seni “Sumur Tiban” karya kolektif ABDW menjadi pintu masuk utama FKY 2025 di Lapangan Logandeng, Playen, Gunungkidul.

GUNUNGKIDUL – Even tahunan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 kembali digelar. Tahun ini, FKY terpusat di Lapangan Desa Logandeng, Plembon Kidul, Logandeng, Playen, Gunungkidul, DIY.

Rangkaian pembukaan even ini telah dilangsungkan sejak Sabtu (11/10/2025) dimeriahkan dengan Pawai Rajakaya. Pawai berangkat dari Pasar Ternak Siyono menuju Lapangan Desa Logandeng pada pukul 14.30.

Sepanjang rute pawai warga dari anak-anak hingga dewasa memadati jalan untuk menyaksikan.

Berakat pada upacara adat Gumbregan, Pawai Rajakaya menghadirkan simbol-simbol agraris yang merefleksikan hubungan manusia, hewan dan alam. Sekaligus memperlihatkan daya hidup tradisi di tengah festival.

Pawai ini diikuti oleh 5 sapi dan 31 kambing dari empat kabupaten dan satu kota di DIY dihiasi ubo rampe dan kupat gantung, serta diiringi oleh para peternak, keluarga, dan komunitas lokal.

Pawai dimeriahkan oleh pasukan Bregada Sungu Sumbermulyo, Suko Rahmadi x Pasukan Ubo Rampe, Sanggar Move Art Dance, pasukan panji desa dari Kompetisi Panji Desa, kontingen Dinas Kebudayaan dari empat kabupaten dan satu kota di DIY, serta kotingen Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pesisir Barat, Lampung.

Tahun ini, FKY 2025 mengusung tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu”, yang secara harfiah berarti jauh dari raja/pemimpin, dekat dengan batu. Tema ini merepresentasikan etos kebudayaan khas masyarakat Gunungkidul.

Sebuah pandangan hidup yang lahir dari jarak dengan pusat kekuasaan, namun justru menumbuhkan daya lenting dan kemandirian.

Sekprov DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, tema ini bukan sekadar permainan kata, melainkan “cermin dari realitas di masyarakat.

“Jarak fisik memberi kesempatan untuk mengolah daya, membangun kemandirian, dan melahirkan kebudayaan yang berakar kuat namun lentur menghadapi zaman,” katanya dalam sambutan Gubernur DIY Hamengku Buwono X.

Kebudayaan, lanjutnya, menjadi perantara antara rakyat dan kekuasaan, antara pusat dan pinggiran, antara yang mengatur dan yang diatur.

Di antara keduanya selalu ada dialog yang tak pernah selesai. “Dan di situlah kebudayaan bekerja dengan caranya yang lembut tapi pasti,” ujarnya.

Senada dengan itu, Sekda Kabupaten Gunungkidul Sri Suhartanta menegaskan, kebudayaan bukan barang usang yang ditinggal di museum.

Melainkan ruh kehidupan yang harus dihidupkan, adaptasi, dan dijadikan kekuatan untuk membangun masa depan.

“FKY menjadi ruang untuk menjaga agar nilai-nilai luhur tetap hidup, berkembang, dan memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan adalah sumber inspirasi, kreativitas, dan ketahanan bangsa,” jelasnya.

FKY 2025 berlangsung pada 11–18 Oktober 2025 dengan Gunungkidul sebagai tuan rumah dan tema “adat istiadat” diangkat sebagai ruh utama festival. Gunungkidul dan “adat istiadat” adalah dua hal yang sulit dipisahkan.

Wilayah ini kaya akan tradisi yang beragam, tumbuh secara organik bersama sejarah, diwariskan lintas generasi, dan melekat dalam interaksi sosial sehari-hari.

Rangkaian pembukaan FKY 2025 dimulai dengan doa dan ritual Gumbregan, sebuah tradisi yang merepresentasikan ungkapan syukur dan doa masyarakat agraris, khususnya para peternak, kepada Sang Pencipta atas kesehatan serta keselamatan hewan ternak mereka.

Dalam prosesi ini, para tamu undangan memberi makan sapi dan menuangkan air ke kendi sebagai simbol dibukanya festival secara resmi.

Setelah itu, para peserta pawai dan penampil mempersembahkan Ritus Gerak “Swasti Wijang”, yaitu doa yang diwujudkan dalam bentuk artistik, merefleksikan hubungan suci antara manusia, hewan ternak, dan alam semesta.

Selanjutnya, pada program Panggung FKY di sore hari, penampilan Campursari SRGK dan Dhimas Tedjo turut memeriahkan suasana pembukaan.

Selama FKY 2025 berlangsung, pengunjung dapat mengikuti berbagai program seperti Pameran: Gelaran Olah Rupa yang telah dibuka sejak Jumat (10/10/2025).

Selain itu, terdapat pula FKY Bugar, Panggung FKY, Pasaraya Adat Ruwang Berdaya, Pawon Hajat Khasiat, FKY Rembug, serta berbagai kompetisi seperti Panji Desa, Rajakaya, dan Jurnalisme Warga.

Seluruh program FKY 2025 terbuka untuk umum, dan pengunjung dapat melihat agenda harian festival melalui media sosial @infofky dan wesbite FKY (fky.id). (*/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Gunungkidul #pawai rajakaya #Even tahunan #fky 2025