Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berhenti dan Mengingat Jati Diri Melalui Seni, Pameran Seni Rupa Nandur Srawung 2025 Jadi Ruang Bersama Merenungi Kesadaran

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 10 Oktober 2025 | 02:50 WIB
Beberapa karya seni dalam pameran Nandur Srawung 2025 yang berlangsung 9–18 Oktober 2025 di Lobi Gedung Militaire Societeit, kompleks Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (9/10/2025).
Beberapa karya seni dalam pameran Nandur Srawung 2025 yang berlangsung 9–18 Oktober 2025 di Lobi Gedung Militaire Societeit, kompleks Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (9/10/2025).

JOGJA - Pameran Seni Rupa Nandur Srawung kembali digelar tahun ini. Mengangkat tema Eling| Awakening, pameran tersebut mengajak masyarakat untuk berhenti dan 'eling' atau mengingat kembali jati diri sebagai manusia.

"Menjadi ruang bersama untuk merenungi kesadaran dan kebangkitan di tengah dunia yang terus bergerak cepat," ujar Tim Kurator Nandur Srawung 2025 Rain Rosidi saat ditemui di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (9/10/2025).

Pameran tersebut berlangsung 9–18 Oktober 2025 di Lobi Gedung Militaire Societeit, kompleks TBY. Tahun ini, ada lima kurator dalam pameran yakni Arsita Pinandita, Bayu Widodo, Irene Agrivina, Rain Rosidi, dan Sudjud Dartant.

Mereka menghadirkan gagasan kuratorial yang berangkat dari kesadaran bahwa dunia kini tengah dihadapkan pada multi-krisis pandemi yang baru saja berlalu, konflik geopolitik yang terus memanas, disrupsi teknologi yang mengguncang, hingga krisis iklim yang kian nyata.

“Krisis geopolitik, krisis teknologi, dan krisis iklim yang kini terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari kita. Apa yang terjadi di luar sana seperti konflik, disrupsi, dan perubahan iklim sudah masuk ke rumah kita sendiri, bahkan ke dalam diri kita," bebernya.

Pergulatan itu melahirkan gagasan konsep eling dalam pameran tersebut. Sebuah kesadaran yang utuh dalam pandangan hidup Jawa.

Eling, bukan sekadar mengingat, tetapi juga menghadirkan diri secara penuh baik secara fisik maupun batiniah.

“Kami ingin mengajak semua orang menemukan kesadaran baru, kebangkitan bersama yang bersumber dari rasa dan empati manusia,” paparnya.

Lebih dari 100 seniman lokal, nasional, dan internasional menampilkan karya mereka di pameran tersebut.

Instalasi luar ruang yang disebut Art Garden berpadu dengan karya-karya di dalam ruangan, menciptakan pengalaman menyeluruh bagi pengunjung.

Karya-karya itu lahir dari proses kuratorial yang menekankan penghanyatan personal.

“Kami ingin menampilkan karya yang tidak hanya merespons realitas, tetapi juga memisahkan ulang relasi antara diri, tubuh, waktu, dan dunia,” ucapnya.

Ia berharap konsep Eling| Awakening menjadi pintu masuk menuju kesadaran baru yang lahir dari refleksi dan kebersamaan. Tidak hanya tumbuh di kalangan seniman, melainkan masyarakat luas

"Seni bisa menjadi ruang perjumpaan yang menyadarkan, bukan sekadar menghibur," tandasnya.

Program ini menjadi semacam ruang pemulihan kolektif melalui pengalaman artistik.

"Ada program Nandur Gawe, mengambil bentuk open studio di ruang NS XII Lab, di mana pengunjung dapat menyaksikan langsung proses kreatif seniman," paparnya.

Sementara itu, Kepala TBY Purwiati menambahkan, melalui tema yang diusung, diharapkan seni menjadi pengingat tentang siapa sejatinya manusia, tentang kebersamaan, dan tentang tanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan.

Seni memiliki peran penting menguatkan rasa kemanusiaan yang semakin tergerus.

“Seni bukan hanya cermin realitas, tetapi juga inspirasi untuk membangkitkan kehidupan yang lebih bermakna,” tuturnya. (oso)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#jati diri #KURATOR #Pameran Seni Rupa #Nandur Srawung #Rain Rosidi