MUNGKID — Pemkab Magelang meluncurkan langkah baru dalam pengembangan pariwisata dengan menghadirkan Borobudur Moon. Sebuah event budaya dan wisata malam yang akan digelar setiap bulan purnama di kawasan Candi Borobudur.
Gagasan ini menjadi strategi baru untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay) sekaligus membangun citra Magelang sebagai destinasi budaya berkelas dunia. Borobudur Moon akan diluncurkan perdana pada 7 Oktober 2025.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, konsep ini terinspirasi dari Kabupaten Gianyar, Bali. Sebuah daerah yang sukses menggabungkan seni, budaya, dan wisata alam menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga mencapai triliunan rupiah.
Dari Gianyar, dia belajar bahwa pariwisata tidak harus gemerlap 24 jam atau bergantung pada kebebasan tanpa batas. "Justru, Gianyar bisa maju karena punya segmen yang jelas dan kuat dalam budaya," ujar Grengseng, Minggu (5/10).
Grengseng mengaku, ide Borobudur Moon muncul setelah dirinya dan sejumlah pelaku wisata Magelang melakukan kunjungan ke Gianyar. Di sana, mereka menemukan bahwa kekuatan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisik, tetapi oleh segmentasi pasar dan karakter budaya yang konsisten.
Selama ini, kata dia, Magelang belum mempunyai segmentasi yang jelas. "Magelang dikenal dengan suasana slow living dan itu bisa jadi kekuatan kita. Menikmati hidup tidak harus dengan alkohol atau pesta malam, tapi lewat suasana damai dan budaya lokal," paparnya.
Dia menilai, Borobudur dan sekitarnya memiliki daya tarik besar untuk dikembangkan sebagai destinasi budaya dan spiritual. "Kalau orang datang ke Borobudur, jangan hanya untuk foto lalu pulang. Kita ingin mereka tinggal, merasakan kehidupan di Magelang, menikmati budaya, dan berinteraksi dengan masyarakatnya," imbuhnya.
Event Borobudur Moon nantinya akan digelar secara rutin setiap bulan purnama dengan berbagai pertunjukan seni dan atraksi budaya. Pada edisi perdana, Pemkab Magelang menggandeng Pemkab Gianyar dengan menghadirkan 200 penari yang akan berkolaborasi dengan belasan sanggar seni lokal Magelang.
Menurutnya, Borobudur Moon bukan sekadar festival, melainkan strategi ekonomi kreatif untuk menghidupkan malam di sekitar kawasan wisata. Selama ini, aktivitas wisata di Borobudur didominasi kegiatan siang hari seperti sunrise dan sunset.
Melalui konsep moon tourism, pemkab ingin menambah alasan bagi wisatawan untuk menginap. "Kalau malam ada atraksi, logikanya mereka akan memilih tidur di Magelang. Ini strategi sederhana, tapi berdampak besar bagi ekonomi lokal," tegasnya.
Grengseng menegaskan, Magelang harus berani berinovasi agar tidak hanya menjadi 'tempat singgah' wisatawan. "Wisata bukan soal monumen, tapi bagaimana kita mengelola daya tariknya secara kreatif," paparnya.
Dalam jangka panjang, pemkab ingin menjadikan Borobudur Moon sebagai wadah peningkatan kualitas kesenian lokal. Saat ini, pemerintah telah menggandeng 16 sanggar seni di Kabupaten Magelang untuk dilibatkan dalam proses pengembangan acara.
Dia ingin, seniman di Kabupaten Magelang memiliki quality control. "Tidak semua bisa tampil, tapi yang tampil harus layak jual dan bisa bersaing secara nasional maupun internasional. Kita dorong agar seni Magelang bisa naik kelas," bebernya.
Dia juga menekankan pariwisata berbasis budaya hanya akan berhasil jika para pelaku seni juga memperoleh manfaat ekonomi. "Wisata tidak boleh hanya nama besar. Pelaku di lapangan harus dapat value yang layak," sambungnya.
Grengseng berharap, Borobudur Moon akan menjadi agenda tetap yang tidak hanya memperpanjang masa tinggal wisatawan, tetapi juga meneguhkan posisi Borobudur sebagai pusat peradaban dunia. "Supaya setiap daerah ingin tampil di sini. Dengan begitu, Borobudur benar-benar hidup sebagai panggung budaya dunia," ujarnya optimistis.
Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang Mulyanto menyebut, peluncuran ini akan dibuka dengan tari kolosal di area Marga Utama, kompleks Candi Borobudur. Untuk tahap awal, Borobudur Moon belum akan dipungut biaya bagi masyarakat.
"Kami ingin melihat antusiasme masyarakat. Ini bukan hanya tontonan, tapi momentum kolaborasi budaya antara Magelang dan Gianyar," lontarnya.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Terutama bagi mereka yang mencari pengalaman wisata yang tenang, artistik, dan berakar pada budaya Nusantara. (aya)