MUNGKID – Pemerintah Kecamatan Borobudur kembali bersiap untuk menggelar pesta budaya malam hari melalui Borobudur Night Carnival (BNC) 2025, Sabtu (27/9). Meski digelar dengan sederhana, karnaval ini dipastikan tetap meriah karena melibatkan 28 kontingen, terdiri dari 20 desa di Kecamatan Borobudur serta perwakilan sekolah dan instansi.
Camat Borobudur Subiyanto menyebut, karnaval ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari strategi memperkuat sektor pariwisata di wilayahnya. Dia menekankan, pembangunan pariwisata harus berlandaskan tiga pilar, yakni akses, amenitas, dan atraksi.
Poin atraksi inilah yang sedang didorong lewat BNC. "Borobudur sudah dikenal dengan Candi sebagai ikon dunia, tapi kami juga harus menghidupkan atraksi lain yang bisa memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat," ujarnya di Kantor Kecamatan Borobudur, Jumat (26/9).
Subiyanto menegaskan, BNC dibangun dengan prinsip dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Konsep ini lahir dari kolaborasi banyak pihak yang memiliki visi sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat Borobudur melalui event budaya.
Bagi masyarakat Borobudur, lanjut dia, kehadiran BNC bukan sekadar hiburan tahunan. Lebih dari itu, acara ini menjadi momentum untuk menunjukkan identitas budaya sekaligus sarana memperluas peluang ekonomi.
Wakil Ketua Panitia BNC 2025 Rohmad Hidayat mengatakan, panitia sengaja memang memilih malam hari karena Borobudur perlu daya tarik tambahan di luar wisata siang hari. "Dari tahun ke tahun trennya makin bagus. Harapannya, tahun ini bisa start tepat waktu pukul 19.30," jelas Rohmad.
Sebelum puncak karnaval malam, panitia juga menyiapkan rangkaian kegiatan sejak pagi. Mulai dari senam massal yang melibatkan kelompok senam Borobudur, dilanjutkan pementasan kesenian tradisional dan band pelajar pada siang hingga sore hari.
Dengan tema Wiyar Budaya Wrih Jatmiko, BNC tahun ini juga menghadirkan nuansa kompetisi. Khusus kontingen dari desa, panitia menyiapkan penilaian dari dewan juri. Penampilan terbaik akan mendapat piala bergilir dari bupati Magelang.
Menurutnya, ini bukan sekadar lomba, tapi pemicu semangat desa-desa untuk menampilkan potensi budaya terbaik mereka. "Dari sinilah, desa-desa bisa lebih percaya diri mengembangkan atraksi wisata masing-masing," ujar Rohmad. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo