JOGJA - Geopark Night Specta (GNS) dan Festival Cokelat Nglanggeran 2025 akan digelar selama tiga hari di Kawasan Gunung Api Purba, Nglanggeran, Gunungkidul. Tepatnya Jumat hingga Minggu (18-20/7). Salah satu event pariwisata unggulan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut bertujuan sebagai promosi kawasan wisata geopark beserta potensi lain di kawasan Nglanggeran.
”DIY, khususnya di Gunungkidul, punya potensi alam yang luar biasa dan itu harus dijaga jangan sampai rusak," ujar Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY Aris Eko Nugroho dalam bincang Rembag Kaistimewaan di Kompleks Kepatihan, Rabu (16/7).
Menurutnya, upaya pelestarian tersebut salah satunya dengan menghidupkan kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran. Caranya dengan mengadakan berbagai macam kegiatan. Diketahui, kawasan tersebut merupakan kawasan Gunungsewu yang diakui UNESCO. Karena itu, dalam konsep tata ruang dan pemanfaatan perlu dilakukan perbaikan, penguatan, dan pengembangan di wilayah tersebut.
”Kebetulan, di sana ada tanaman kakao yang dulu pernah jaya. Kakao potensial dikembangkan," tuturnya.
Dikatakan, masyarakat bisa memanfaatkan hasil alam dan mengadakan berbagai kegiatan. Salah satunya GNS dan Festival Cokelat Nglanggeran 2025.
Event yang sudah digelar beberapa kali itu mendapat penghargaan Karisma Event Nusantara (KEN) tahun 2025. Itu menjadi salah satu bukti keberhasilan kolaborasi antara organisasi pemerintah daerah (OPD) provinsi, kabupaten, hingga pokdarwis setempat.
”Yang paling penting jangan sampai merusak, seperti yang diatur dalam Perdais Nomor 2 tahun 2017 tentang Tata Ruang," tandasnya.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Haniah Anna Susanti dalam diskusi itu juga menyampaikan bahwa event GNS tahun ini merupakan kali ketiga diselenggarakan dengan bantuan dana keistimewaan (danais). Acara tersebut sebagai ajang promosi para pelaku pegiat cokelat di wilayah Nglanggeran agar lebih dikenal di kancah nasional.
”Nanti ada lomba kebun kakao dengan peserta 12 kelompok tani di Gunungkidul, lomba biji kakao fermentasi atau uji mutu dan lomba olahan cokelat," ujarnya.
Menurutnya, potensi kakao di Gunungkidul cukup baik untuk dikembangan. Total lahan cokelat di Gunungkidul ada sekitar 1.200 hektare. Terbesar di wilayah Patuk.
Ketua Desa Wisata Nglanggeran Mursidi menambahkan, dukungan anggaran danais untuk penyelenggaraan event dan kegiatan, peremajaan bibit kakao, dan pelatihan atau pendampingan pelaku UMKM. Serta pengadaan alat produksi pengolahan kakao.
"Di Nglanggeran rata-rata setiap rumah mempunyai tanaman kakao di pekarangannya," ujarnya.
Ia menceritakan perkembangan produksi cokelat Nglanggeran di mulai dari tahun 2011. Namun, terbentuknya desa wisata mulai tahun 2008. Dari sana masyarakat mulai mengidentifikasi potensi kakao. Kemudian ibu-ibu PKK didorong untuk berusaha mengolah kakao menjadi produk cokelat.
"Awalnya uji coba biji kakao dibuat dodol," bebernya.
Seiring berjalannya waktu, kelompok ibu-ibu mulai dibina untuk membuat produk lebih baik. Tahun 2014, muncul produk olahan cokelat batangan, makanan dan minuman dengan bahan dasar buah kakao. Produksi olahan cokelat itu bertahan sampai saat ini.
"Akhirnya bisa menjadi brand oleh-oleh khas Nglanggeran," ucapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Oneng Windu Wardana menyampaikan, acara GNS yang masuk dalam tema besar kegiatan di Nglanggeran adalah Simfoni Taman Bumi. Tema tersebut diartikan sebagai upaya untuk melakukan orkestrasi potensi-potensi yang ada di sekitar Gunung Api Purba Nglanggeran.
"Mulai dari budaya, pertanian, kuliner, dan kearifan lokal yang lain akan ditampilkan dalam acara GNS," katanya.
Hari ketiga, khusus cokelat. Menurutnya, proses pengolahan kakao bisa menjadi salah satu atraksi yang menjadi daya tarik. Salah satu destinasi pariwisata di sana adalah melihat pengelolahan kakao.
Dalam rangka melestarikan bumi, rangkaian acara GNS juga disisipi kegiatan penanaman pohon di Nglanggeran. Diikuti generasi muda.
"Melibatkan siswa SD hingga SMA untuk diajak melestarikan bumi," tandasnya. (oso/zam)