Para pengunjung saat menikmati karya-karya dalam pameran seni rupa Pertemuan di Jogja Gallery.
JOGJA - Ratusan karya seni rupa dipamerkan oleh lima seniman alumni jurusan kriya seni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta angkatan 1998 di Jogja Gallery.
Pameran yang bertajuk 'Pertemuan' ini akan berlangsung selama lima hari mulai Kamis (19/6/2025) hingga Senin (23/6/2025) mendatang.
Ketua Pameran Kelompok Lima Deni Setiawan menjelaskan, pameran seni rupa Pertemuan ini merupakan acara reuni yang digagas oleh lima seniman alumni jurusan kriya seni Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta angkatan 1998.
Pameran ini juga digelar untuk membangkitkan kembali semangat berkesenian para seniman yang terlibat.
"Pertemuan dalam pameran ini tidak dipahami semata sebagai aktivitas fisik atau sosial, tetapi sebagai ruang reflektif di mana gagasan, pengalaman, dan identitas saling bersentuhan, berbenturan, dan bahkan berbaur," jelasnya di sela pameran, Rabu (18/6/2025).
Pameran ini juga digelar untuk menjelajahi gagasan melalui perjumpaannya dengan kawan-kawan lamanya sebagai reuni dan titik refleksi diri, sekaligus sebagai ruang tumbuh bersama.
Sehingga di dalam setiap karya yang dihadirkan, pertemuan dipahami bukan sekadar momen kebersamaan, tetapi sebagai proses aktif yang membuka kemungkinan transformasi-baik pada tingkat personal, sosial, maupun konseptual.
Dalam konteks ini, karya-karya yang dipilih merepresentasikan tiga dimensi pertemuan utama.
Di antaranya, pertemuan antarsahabat sebagai bentuk keintiman, nostalgia, dan penciptaan ruang bersama. Lalu pertemuan pemikiran yang menandai dialog antarwacana, antargenerasi, dan antarmedium ekspresi, dan pertemuan ideologi di mana ketegangan, negosiasi, dan resistensi hadir sebagai bagian dari dinamika sosial dan politik dalam praktik seni.
"Melalui lukisan, karya instalasi, dan keramik, para seniman dalam pameran ini mengajak kita merenungkan kembali bagaimana kita bertemu dan bagaimana pertemuan membentuk kita. Tidak selalu harmonis, tidak selalu seragam, namun selalu hidup," jelasnya.
Selain itu, Deni juga mengatakan, jika pameran Pertemuan ini dirancang sebagai ruang terbuka bukan untuk menetapkan makna, melainkan untuk menumbuhkan peluang percakapan yang dinamis.
"Total ada sekitar 300 karya yang kami pamerkan di sini. Tidak ada tema spesifik dalam pameran ini, hanya pertemuan itu saja, atau mempertemukan beberapa ideologi dari lima seniman," ucapnya.
Salah satu seniman, Dona Prawita Aristuna menjelaskan, dalam pameran kali ini dirinya membawakan karya-karya yang menceritakan tentang pertemuan yang direspon secara spiritual.
Sebagai contoh Dona menjelaskan salah satu karyanya yakni, Kisah Jataka, atau kumpulan cerita rakyat Buddhis yang menceritakan kehidupan lampau Sang Buddha, baik dalam bentuk manusia maupun hewan, sebelum ia mencapai pencerahan.
"Beberapa cerita itu saya respon ke dalam benda-benda keramik," lontarnya.
Salah satu pengunjung pameran Retno Anggraeni mengaku sangat takjub dengan karya-karya yang ditampilkan dalam pameran seni rupa Pertemuan ini.
Sebab dalam pameran ini para pengunjung disuguhkan banyak karya yang mempunyai tema beragam. "Jadi pameran ini sungguh luar biasa dan sangat unik," tandasnya. (ayu)