Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Galeri Seni EDSU House Resmi Dibuka, Tampilkan Perjalanan Artistik Bob Sick dalam Pameran “Appetite for Distortion: Dari Apotek ke MoMA”

Gregorius Bramantyo • Minggu, 23 Maret 2025 | 05:43 WIB
Foto: Pengunjung mengamati karya yang dipamerkan dalam pameran perjalanan artistik Bob Sick di Galeri Seni EDSU House, Kamis (20/3/2025).
Foto: Pengunjung mengamati karya yang dipamerkan dalam pameran perjalanan artistik Bob Sick di Galeri Seni EDSU House, Kamis (20/3/2025).

JOGJA – Galeri Seni EDSU House di Jalan Kaliurang Km 5 No 72 dibuka secara resmi pada Jumat (21/3/2025). Awal pembukaannya ditandai dengan digelarnya pameran perjalanan artistik bertajuk “Appetite for Distortion: Dari Apotek ke MoMA”.

Pameran itu merupakan perjalanan artistik seorang seniman bernama Bob Sick, atau yang dikenal dengan sebutan Presiden Tato Indonesia.

Karya yang dihadirkan merupakan koleksi milik Simon Tan, St. Eddy ‘Oyik’ Prakoso, dan Wawan Dalbo, dengan pengarah artistik Heri Pemad.

Pameran pembuka ini merangkum tiga fase penting dalam perjalanan Bob Sick. Koleksi Simon Tan menangkap periode awal Bob yang eksperimental.

Di mana eksplorasi visualnya mulai terbentuk. Koleksi St. Eddy ‘Oyik’ Prakoso mendokumentasikan puncak popularitasnya, ketika Bob mulai dikenal luas dengan karakteristiknya yang nyeleneh dan penuh pemberontakan.

Sementara koleksi Wawan Dalbo merekam fase paling personal dan reflektif.

Ketika Bob semakin tenggelam dalam ekspresi tanpa filter, menggambarkan kegelisahan dan dunia batinnya yang kompleks.

'Appetite for Distortion' merupakan perayaan terhadap semangat Bob Sick, sebuah semangat yang menolak kepastian dan terus mencari kemungkinan baru dalam seni.

Judul 'Dari Apotek ke MoMA' diadaptasi dari tulisan Wawan Dalbo yang juga menutup katalog pameran ini.

Frasa ini merangkum perjalanan Bob Sick. Dari ruang-ruang kecil tempat dia berkarya hingga mendapatkan pengakuan yang lebih luas.

Seperti Bob, pameran ini adalah undangan bagi siapa saja yang ingin merayakan ketidakterdugaan dan kebebasan dalam seni.

Founder EDSU House Wawan Dalbo mengatakan, EDSU House merupakan penggabungan warisan sejarah dengan ekspresi budaya kontemporer.

Galeri ini terinspirasi dari kehidupan dan karya pematung ternama Indonesia, Edhi Sunarso.

Nama EDSU menghormati Sunarso, sekaligus mencerminkan semangat berani, kreatif, dan sedikit memberontak yang relevan dengan dunia seni saat ini.

Foto: Pengunjung mengamati karya yang dipamerkan dalam pameran perjalanan artistik Bob Sick di Galeri Seni EDSU House, Kamis (20/3/2025).
Foto: Pengunjung mengamati karya yang dipamerkan dalam pameran perjalanan artistik Bob Sick di Galeri Seni EDSU House, Kamis (20/3/2025).

“Saya bikin galeri ini karena insting saja, prosesnya sangat mengalir dan spontan. Saya basic-nya arsitek, tapi saya juga senang seni, itu sudah lama,” kata Wawan, Kamis (20/3/2025).

Sebagai akronim dari "Eat Dat Shit Up", EDSU menegaskan diri sebagai ruang eksplorasi tanpa batas, tempat seni berkembang di luar pakem.

Mengusung konsep kontras dualitas, galeri ini menggabungkan black box yang dramatis dengan all-white gallery yang netral.

Hal itu menciptakan ruang bagi perspektif alternatif dalam seni kontemporer.

"Ada ruang putih dan ruang hitam, itu kan seperti paradoks,” ujar Wawan.

Dia mengatakan, EDSU sengaja di-branding untuk anak muda lewat pemilihan warna mencolok seperti pink dan hijau.

Kemudian penulisannya yang menggabungkan angka dan huruf. Hal ini menunjukkan keberpihakan EDSU kepada generasi muda.

"Saya lebih penting memikirkan area bermain untuk generasi muda daripada generasi tua seperti saya,” ucapnya.

Selain itu, galeri seni ini juga berkolaborasi dengan dua toko indie. Menurut Wawan, seni dan literasi merupakan dua bidang yang saling berkaitan.

Program Director Christine Toelle mengatakan, sejak awal dibentuk, EDSU memang sengaja di-branding “alay”.

Hal itu sengaja dilakukan untuk memancing rasa penasaran publik. Selian itu juga tujuannya untuk memancing diskusi agar dialog terus bergulir.

“Harapannya ke depan, EDSU House bisa membawa seniman dari berbagai daerah, tidak hanya dari Jogja saja. Menampilkan representasi yang beda-beda dan karya seni yang terus menghibur," katanya. (tyo)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#perjalanan Bob Sick #Seniman #EDSU House #Galeri Seni