Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pameran Parama Iswari Mahasakti Keraton Yogyakarta, Tonjolkan Tujuh Permaisuri dari Sri Sultan HB I hingga HB X

Elang Kharisma Dewangga • Senin, 7 Oktober 2024 | 04:37 WIB
Photo
Photo

 

 

JOGJA - Pameran akhir tahun bertajuk Parama Iswari Mahasakti Keraton Yogyakarta, resmi dibuka  Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kagungan Dalem Kompleks Kedhaton Museum Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sabtu (5/10).

Pameran yang akan berlangsung hingga 26 Januari 2025 mendatang itu menjadi tawaran atas renaisans perempuan untuk mendefinisikan kembali keperempuanannya berdasarkan peran dan kapasitasnya.

 

Penghageng Nityabudaya Keraton Yogyakarta GKR Bendara menjelaskan, pameran ini mengisahkan tentang peranan wanita, terutama permaisuri di lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka mempunyai peran penting seperti menjadi negosiator, politik, dan ahli strategi militer.

Pameran ini juga membuka narasi perempuan yang sebenarnya sangat mampu untuk berdiri dengan dua kaki sendiri. 

 Baca Juga: WJNC #9 Usung Tema Gatotkaca Wirajaya, 14 Kemantren di Kota Jogja dan Tujuh Daerah Siap Tampil

Baca Juga: Berikut 5 Kuliner Jogja Yang Ajib, Bisa Jadi Rekomendasi saat Kalian Berkunjung ke Yogyakarta

"Wanita saat ini itu sebenarnya sangat mampu untuk berdiri dengan dua kaki sendiri, punya kesempatan yang dibuka luas untuk berpendidikan, mengelola keuangan sendiri, bebas berpendapat dan sebagainya. Walaupun banyak perempuan yang belum bisa lepas dari jeratan masa lalu. Kami sesama perempuan harus saling bergandeng tangan, paling tidak mendorong perempuan merasa adil di dunia ini," jelasnya. 

 

Pameran Parama Iswari Mahasakti Keraton Yogyakarta ini menonjolkan tujuh permaisuri mulai dari HB-1 hingga HB-10. Sebab, kisah mereka tidak banyak tertuang dalam manuskrip dan sedikit sekali ceritanya. Tapi pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mencoba menggalinya dan ternyata terbukti peran mereka begitu luar biasa. 

Dengan begitu para pengunjung yang menghadiri pameran ini bisa melihat bagaimana merefleksikan diri, saling dorong sesama wanita dan menguatkan satu sama lain. 

 

"Di manuskrip biasanya bercerita tentang laki-laki, tapi bukti nyata dari arsip sehari-hari menunjukan peran wanita luar biasa. Kami tampilkan ada prajurit perempuan, ada data-data catatan keuangan dan lain sebagainya. Harapannya para perempuan bisa merefleksikan diri, saling mendorong sesama wanita, dan menguatkan satu sama lain," lontar GKR Bendara. 

 

Pimpinan Produksi Pameran Paramaiswari Nyi R. Ry. Noorsundari menjelaskan, pameran ini bercerita tentang peran perempuan di Keraton Yogyakarta dari masa HB 1 sampai saat ini. Adapun koleksi yang ditampilkan adalah yang berhubungan dengan perempuan, baik busana, perhiasan, manuskrip juga arsip catatan keuangan. 

Baca Juga: Mengenal Uha Isnaini, Dosen UGM yang Dorong Mahasiswa Hidup Sehat dengan Aktif Bersepeda

Baca Juga: Gunungkidul Gelar Fam Trip 2024 Ajak Media Nasional dan Asing Eksplor Wisata untuk Dongkrak Promosi Wisata

"Pada pameran ini juga terdapat kegiatan pendukung seperti workshop dan public lecture yang dimaksud untuk diskusi dan edukasi ke masyarakat kedudukan dan peran wanita dalam berbagai tahap kehidupan. Parama Iswari utamanya perempuan utama, bahwa sebenarnya perempuan juga berperan dalam kelangsungan hidup berbangsa," jelasnya. 

 

Kurator Pameran Paramaiswari Fajar Wijanarko menambahkan, bahwa kata Parameswari atau parama-iswari, dalam kamus bahasa Jawa berarti langkung luhuring pawestri atau lebih dari perempuan utama. Jadi bisa disimpulkan jika Parameswari adalah sebuah term yang disematkan pada perempuan utama dalam tatanan kerajaan Jawa. 

 

"Istilah tersebut telah digunakan sejak abad ke-9 dan dipelihara dalam memori kolektif budaya Nusantarasampai abad ke-21. Kedudukan parameswari dan ketokohan perempuan yang melekat acapkali berafinitas sebagai sakti," cetusnya.  

 

Jenama yang mengikat pada raja sekaligus kuasa yang melampaui kadarnya. Berangkat dari pendekatan kronologi, narasi parameswari sebagai perempuan yang melintasi sejarah dirangkap dalam satu situasi budaya. Impresi dari kiprah prameswari yang dikumpulkan dan dipadu dalam satu ruang pamer membawa intensi agar perempuan mampu membangun definisi ulang tentang keberadaannya secara adaptif. "Konteks perempuan sebagai bagian dari militer, pemrakarsa budaya, hingga aktivis sosial terus berubah dan menjelma sesuai relevansi hari ini," tutur Fajar.

Menurut Fajar, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah mencatat gender parameswari sebagai perempuan utama bukan hanya pada dikotomi perempuan di ruang privat. Raden Ayu Kadipaten adalah parameswari dari Sri Sultan Hamengku Buwono I yang juga panglima perang prajurit Langenkusumo. Kiprahnya dalam dunia militer patut diperhitungkan. Dia dicatat sebagai guru sekaligus nenek dari Pangeran Diponegoro yang kemudian hari mengibarkan Perang Jawa (1825-1830).

 

Raden Ayu Andayaningrat, seorang diplomat ulung yang menjadi negosiator dari kembalinya Sultan Hamengku Buwono II dari pengasingan di Saparua. Periode yang paling kentara adalah kehadiran GKR Kencana, permaisuri dari Sultan Hamengku Buwono VII yang memiliki daya matematis yang ulung, Ia adalah perempuan yang mengatur keuangan di Keraton Yogyakarta. "

Dari data kronologis yang dikumpulkan, akhirnya, Keraton Yogyakarta tidak secara khusus mengonstruksi dialog perlawanan terhadap dogma feminis yang sebenarnya belum selesai dipahami. Ihwal yang ditangkap cenderung berpusat pada data sejarah sebagai jalan untuk menyelami aksi-reaksi seorang parameswari sebagai perempuan," tandasnya. (ayu/din).

 

Editor : Heru Pratomo
#HB X #HB I #Keraton Yogyakarta #Sri Sultan Hamengku Buwono X #Pameran #permaisuri #Parama