Koordinator acara Lutfia Septiningrum mengatakan, tenant yang mendaftar diakui melebihi ekspektasi, yakni lebih dari 900 pedagang. "Hampir 1.000 tenant yang daftar. Tapi kami kurasi jadi 200 pedagang saja. Karena kapasitas tempatnya terbatas," katanya kepada Radar Jogja kemarin (18/5).
Adapun 200 tenant yang sudah dikurasi itu dikelompokkan sesuai kategori masing-masing, mulai makanan, pakaian, mainan, hingga buku dan jasa. Lutfia menyebut sebisa mungkin seluruh tenant menampilkan produk yang berbeda. Selain itu juga harus ada muatan budaya dan hal-hal lawasan dalam produknya.
Dalam praktiknya, mewakili panitia Lutfia juga menekankan pada seluruh tenant agar memasang tarif harga. Sudah disepakati bersama harga produk tidak boleh lebih dari Rp 20 ribu.
"Jadi harganya wajib ditulis dan disepakati per item maksimal Rp 20 ribu. Karena ini kan targetnya mayoritas mahasiswa, jadi kami sesuaikan," ungkapnya.
"Kami tidak ada target pengunjung spesifik, tapi sejauh ini terpantau cukup ramai. Apalagi sore menuju malam, itu hampir penuh," tuturnya.
Sementara itu, salah seorang penjual Miko Saputra membeberkan, ini kali pertama keterlibatannya di Pasar Kangen. Ia senang dengan antusiasme pengunjung, sekaligus secara personal akhirnya tahu banyak soal budaya hingga makanan jadul khas Indonesia.
"Pengunjungnya ramai, pas pembukaan kemarin alhamdulilah dagangan sold out. Ini juga mulai rame, tapi kalau malam lebih rame lagi," ungkap lelaki yang berjualan nasi krawu ini.
Menurutnya, konsep yang dijalankan Pasar Kangen sangat menarik. Ia sendiri menyebut dari 200 tenant hanya dirinya yang menyajikan nasi krawu. Beragam diferensiasi produk itu menarik jadi daya tarik bagi masyarakat untuk mau datang dan mencoba. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun