BANTUL – Pencapaian 17 tahun Visinema Pictures kembali mencuri perhatian, terutama setelah film animasi terbarunya, Jumbo, sukses besar dan menjadi sorotan utama di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025. Namun, di balik kesuksesan yang berawal dari garasi kecil di Jakarta, CEO Visinema, Angga Dwimas Sasongko, mengungkap sebuah strategi kepemimpinan yang terbilang unconventional di industri film.
Angga menegaskan bahwa perannya sebagai CEO telah bergeser dari pengendali kreativitas menjadi fasilitator utama produksi, distribusi, dan target box office.
“Saya sangat bangga Visinema jadi nomor satu box office of all time tanpa kreativitas saya di dalamnya. Produk Visinema itu talent. Kami investasi pada talent, memberi kesempatan dan ruang untuk berkarya,” ujar Angga.
Tak Baca Naskah Jumbo, Kunci Leadership Minim Over Control
Salah satu pengakuan Angga yang paling menarik adalah bahwa ia tidak pernah membaca naskah film Jumbo sebelum penayangan perdananya.
“Saya hanya tanya durasinya berapa, siap deliver kapan. Jumbo terlambat satu tahun, dan saya harus memastikan semua kru bisa tetap bekerja satu tahun lagi. Ini yang CEO lakukan: tidak boleh over control,” jelas Angga.
Strategi ini mencerminkan filosofi Angga bahwa Visinema harus tumbuh secara kolektif, didorong oleh talenta-talenta di dalamnya, bukan hanya representasi tunggal dari dirinya. “Perusahaan itu dinamis, bukan tentang kertas dan bangunan, tapi orang-orangnya,” tambahnya.
Ekspansi Bisnis Visinema: Tidak Hanya Bergantung pada Box Office
Dalam menghadapi dinamika industri, Angga juga membeberkan strategi bisnis Visinema untuk mencapai keberlanjutan. Perusahaan kini fokus pada pengembangan Intellectual Property (IP) untuk memastikan pendapatan tidak hanya bergantung pada capaian box office film semata.
“Box office hanya salah satu. Banyak lini lain yang menghidupi. Jangan pernah kawin dengan satu ide,” tegas Angga, menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan.
Baca Juga: Kemnaker RI Perkuat Pengembangan Talenta Muda, Serap 4.103 Peserta Program Pemagangan
Perjalanan 17 tahun Visinema, dari mulai menyewa garasi pada 2008 untuk melahirkan film debut Hari Untuk Amanda, hingga sukses besar lewat film-film ikonik seperti Cahaya Dari Timur, Filosofi Kopi, dan Surat dari Praha, adalah tentang membangun kepercayaan.
Konsistensi dan kesabaran menjadi kunci utama Angga dalam membangun ekosistem ini. “Saya jalan 10 tahun baru berani bicara ke investor. Ini tidak bisa sendirian, harus kolektif,” imbuhnya.
Kini, dengan visi menjadikan Visinema “mercusuar Indonesia” di level regional, Angga Sasongko menegaskan bahwa pengaruh pribadinya semakin kecil. Visinema di masa depan akan digerakkan oleh kekuatan kolektif dari orang-orang luar biasa dan talenta yang diinvestasikan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin