Rahasia di Balik Tawa GJLS Berapi-Api, Dari Seragam Kekecilan Hingga Kobra Asli Tanpa Stuntman

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:19 WIB
Para cast dan kru GJLS Berapi-Api bersama penonton di XXI Jogja City Mall (JCM), Senin (19/10/2026).
Para cast dan kru GJLS Berapi-Api bersama penonton di XXI Jogja City Mall (JCM), Senin (19/10/2026).

 SLEMAN - Gelak tawa bergemuruh riuh di dalam ruang bioskop saat adegan demi adegan diputar di layar lebar. Penonton dibuat tak berhentinya terkekeh melihat tingkah konyol para personel pemadam kebakaran yang mengocok perut.

Film komedi Gajelas Berapi-api sukses mencuri perhatian dan menghangatkan suasana bioskop XXI Jogja City Mall (JCM), Senin (19/10/2026). Karya visual terbaru ini menghadirkan warna anyar yang segar dalam lanskap sinema komedi nasional.

Berbeda dari proyek pertamanya yang terkesan sangat absurd, cerita kali ini dibuat jauh lebih tertata. Formula humornya dirancang agar bisa dinikmati oleh khalayak umum serta seluruh anggota keluarga.

"Keputusan tim produksi untuk memfokuskan cerita pada profesi petugas pemadam kebakaran terbukti sangat tepat. Damkar dikenal sering kali menjadi pahlawan tak terduga yang selalu ada di tengah masyarakat kita," ujar co-produser GJLS Berapi-Api, Fiqi Wandiya Septa. 

Tugas mereka tidak cuma soal menjinakkan si jago merah yang melahap bangunan pemukiman. Mereka kerap mengisi celah-celah unik yang sering kali tidak ditangani oleh instansi kedinasan lainnya.

Mulai dari permintaan menyelamatkan kucing di atas pohon hingga mengevakuasi ular berbisa di dalam rumah warga. Kejadian-kejadian nyata inilah yang menjadi inspirasi utama lahirnya cerita komedi yang penuh kehangatan.

Momen penyelamatan hewan liar di dalam film ini dikemas dengan nuansa menggelitik sekaligus menegangkan. Penonton diajak merasakan kepanikan yang dibalut dengan lelucon yang sangat alami dan membumi.

Pengalaman syuting yang paling mendebarkan terjadi saat para aktor harus berhadapan langsung dengan ular kobra asli. Adegan berisiko tinggi tersebut berlangsung di dalam sebuah ruangan berukuran cukup sempit.

Rasa takut yang terpancar dari wajah para pemain saat pengambilan gambar bukanlah sekadar akting belaka. Mereka benar-benar mengandalkan keberanian diri tanpa bantuan dari pemeran pengganti.

Ketegangan di dalam ruangan itu nyata terasa karena posisi kamera berada di luar area bahaya. Praktis hanya para pemain dan seekor kobra berbahaya saja yang berada di dalam ruangan tersebut.

Keputusan tanpa pemeran pengganti ini juga berlaku saat adegan memadamkan kobaran api yang membumbung tinggi. Para pemain terjun langsung menerobos kepulan asap tebal demi menghasilkan visual yang autentik.

Beban fisik yang ditanggung jajaran pemain terasa semakin berat akibat pakaian dinas yang mereka kenakan. Jaket pelindung khusus Damkar memiliki bobot hingga sepuluh kilogram dalam kondisi kering di lapangan.

"Bobot baju seragam tersebut bisa membengkak drastis hingga dua puluh kilogram saat tersiram air. Ditambah lagi, harus menahan dorongan kuat dari semprotan selang air bertekanan amat tinggi," tutur Rigen Rakelna. 

Perjuangan fisik di lokasi syuting kian berwarna dengan hadirnya cerita-cerita unik di luar skenario. Kendala cuaca hujan yang sering turun memaksa proses pengambilan gambar ditunda beberapa saat.

Waktu tunggu di sela-sela syuting tersebut kerap dimanfaatkan para pemain untuk berkumpul dan jajan bersama. Mangkuk demi mangkuk bakso hangat dan camilan malam dilahap demi mengusir rasa dingin yang melanda.

Kebiasaan makan bersama ini rupanya membawa dampak kocak yang sama sekali tidak diduga sebelumnya. Ukuran tubuh para pemeran perlahan membengkak seiring berjalannya hari-hari pengambilan gambar di lokasi.

Pihak penata busana bahkan sampai melayangkan teguran keras karena kancing seragam mulai tak muat. Seragam yang tadinya pas di badan mendadak menjadi terlalu sempit akibat porsi makan malam yang berlebihan.

Kekuatan film ini juga tidak lepas dari proses pengembangan naskah yang digarap dengan sangat matang. Keterlibatan Bang Awe dalam penyusunan alur cerita memberikan fondasi komedi yang kuat dan tertata rapat.

Tangan dingin sutradara Pamonti Tiwa memberikan kebebasan berkreasi bagi para aktor di depan kamera. Improvisasi organik yang lahir spontan dibiarkan mengalir alami tanpa banyak interupsi penghentian adegan.

Penonton di bioskop pun dibuat terpingkal-pingkal menyaksikan lelucon berulang yang dieksekusi dengan sangat ciamik. Setiap lelucon berhasil mendarat dengan mulus dan mengundang gelak tawa yang tiada henti.

Perpaduan antara aksi nekat, komedi segar, dan cerita yang dekat dengan masyarakat membuat film ini wajib ditonton. Gajelas Berapi-api siap memberikan pengalaman menonton yang menghibur dan penuh gelak tawa.

Film ini dijadwalkan mulai tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 5 November 2026. 

GJLS: Berapi-Api yang disutradarai oleh Monty Tiwa dibintangi oleh trio komika GJLS sebagai pemeran utama bersama jajaran aktor, aktris, dan komika lainnya. 

Pemeran utama film ini (Trio GJLS) Ananta Rispo sebagai Rispo, Rigen Rakelna sebagai Rigen, dan Hifdzi Khoir sebagai Hifdzi. 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Sinema Indonesia Gajelas Berapi-api Film Komedi Indonesia Pamonti Tiwa Petugas Damkar