JOGJA - Ruang pemutaran Empire XXI Yogyakarta pada Senin malam (21 September 2026) diselimuti keheningan yang sarat makna. Usai pemutaran perdana film Lobang Buaya, sutradara kenamaan Hanung Bramantyo hadir. Kehadirannya bukan sekadar untuk mempromosikan karya sinematik terbarunya itu, melainkan membawa sebuah wacana tebal yang merangsek jauh ke dalam ingatan kolektif bangsa.
Film yang diproduksi oleh Adhya Pictures bekerjasama dengan Dapur Film ini sekilas tampak seperti tayangan horor mencekam. Namun, di balik orkestrasi ketakutan dan teror mistis yang disajikan, Hanung menyembunyikan sebentuk jeritan sejarah. Ia menautkan alur ceritanya pada noktah kelam tahun 1965, masa ketika gesekan sosial dan politik menyengsarakan begitu banyak jiwa di pelosok negeri.
Hanung mengungkapkan bahwa jauh sebelum tragedi pembantaian para perwira militer di Jakarta meletus, ada penderitaan sunyi yang mengendap di tingkat tapak. Cerita berfokus pada nasib tragis seorang perempuan desa yang menjadi korban dari kesewenang-wenangan penguasa lokal. Sosoknya terhimpit oleh struktur kekuasaan yang rakus, yang serakah memangsanya tanpa belas kasihan.
Baca Juga: Penyebab Keracunan di SMKN 2 Jogja Masih Ditelusuri, Uji Sampel Butuh Waktu Dua Minggu
Dalam narasi sejarah masa lalu, figur penindas ini kerap diidentikkan dengan istilah "tujuh setan desa". Mereka adalah representasi dari lintah darat, lintah birokrasi, tuan tanah jahat, hingga oknum aparat yang tega memeras rakyat miskin. Hanung menegaskan bahwa potret ketidakadilan semacam ini nyata terjadi pada medio 1960-an, di mana struktur sosial kerap melukai mereka yang tak berdaya.
Keberanian Hanung mengemas isu historis nan sensitif ini ke dalam genre horor bukanlah tanpa alasan yang kuat. Ia menyadari sepenuhnya betapa peristiwa trauma sejarah 1965 masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka dalam format drama dokumenter murni. Sinema horor lantas dipilih sebagai "kuda troya" yang efektif untuk menyusupkan wacana kritis tersebut ke benak penonton luas.
Format horor dinilai memiliki daya pikat luar biasa, tidak hanya bagi penikmat film domestik tetapi juga di pasar internasional. Ketika film ini melenggang di Rotterdam dan Busan, publik dunia menyambutnya dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka tidak hanya menikmati sajian mistisnya, melainkan terkesima oleh sudut pandang personal sang sutradara dalam memotret trauma masa lalu negaranya.
Inspirasi estetika dan struktur penceritaan film ini diakui Hanung terilhami dari mahakarya thriller klasik dunia, Seven. Melalui adaptasi rasa lokal, ia menyelaraskan konsep tujuh dosa besar ke dalam konteks ketimpangan sosial di tanah Jawa. Film ini memadukan mitologi gaib, aliterasi mistis, dan realisme pahit tentang manusia yang tega bertindak lebih kejam daripada makhluk halus.
Secara tajam, Hanung menggarisbawahi bahwa ketidakadilan sosial yang digambarkan dalam periode 1960-an itu sejatinya belum benar-benar sirna hingga kini. Wajah "setan desa" masa lalu mungkin telah berganti rupa menjadi korporasi rakus, skema pinjaman daring yang mencekik, atau pejabat korup. Rakyat kecil tetap menjadi pihak yang paling rentan dikorbankan demi syahwat kekuasaan.
Melalui film Lobang Buaya, penonton diajak untuk melampaui rasa takut dari sekadar jeritan atau penampakan sosok mengerikan di layar lebar. Teror yang sejati justru hadir tatkala kita menyadari betapa manusia sanggup berbuat zalim kepada sesamanya ketika nurani telah mati. Keheningan warga desa yang berdiam diri melihat kejahatan adalah cermin pantul bagi masyarakat modern hari ini.
Baca Juga: Target Awal Rp 32 Juta, Retribusi Parkir FKY 2026 di Sleman Melonjak Hampir Dua Kali Lipat
Kehadiran film ini secara resmi pada 1 Oktober 2026 di gedung bioskop menjadi pemantik diskusi penting yang sudah lama mengendap di bawah karpet sejarah. Hanung tidak bermaksud membelokkan fakta sejarah, melainkan mengajak generasi muda untuk berani menengok kembali luka masa lalu dengan empati. Sinema hadir sebagai jembatan kemanusiaan yang merawat ingatan agar kesalahan serupa tak terulang kembali.
Pada akhirnya, Lobang Buaya bukan sekadar tontonan pemacu adrenalin di kegelapan studio bioskop. Ia adalah sebuah monumen peringatan yang dibalut dalam keindahan seni peran dan tata sinematografi yang memikat. Film ini menantang kita untuk merenung: apakah kita sudah benar-benar merdeka dari cengkeraman kezaliman, ataukah kita masih hidup di bawah bayang-bayang setan desa yang bersolek modern?
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja