Neurotopia Rilis Album Debut eXperimen Berbahaya, Eksperimen Liar Tanpa Personel Tetap, Buka Ruang Kolaborasi Lintas Genre

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 12:38 WIB
Official music video Budak Korporasi. (Tangkapan layer kanal Youtube Neurotopia)
Official music video Budak Korporasi. (Tangkapan layer kanal Youtube Neurotopia)

JAKARTA - Dunia musik independen Indonesia kembali diramaikan oleh hadirnya proyek musik dengan konsep unik.

Bernama Neurotopia, proyek yang digagas oleh kreator sekaligus penulis lagu Sabrecs ini resmi merilis album debut bertajuk eXperimen Berbahaya pada 3 Juli 2026.

Album yang memuat delapan lagu ini telah tersedia di seluruh layanan digital streaming platform.

Berbeda dengan band pada umumnya, Neurotopia tidak memiliki personel tetap. 

Baca Juga: Viral! Kipas Angin Jatuh Menimpa Pasien di IGD Rumah Sakit Delhi, Nyawa Melayang Beberapa Jam Kemudian 

Proyek ini dirancang sebagai collaborative hub -- ruang kreatif yang mempertemukan musisi dari berbagai latar belakang untuk menerjemahkan ide-ide Sabrecs menjadi karya yang utuh. 

Konsep inilah yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik utama dari Neurotopia.

Judul eXperimen Berbahaya bukanlah sekadar pemanis. 

Di baliknya tersimpan filosofi mendalam tentang proses kreatif yang terbilang berani—bahkan liar. 

Baca Juga: Lagi-Lagi Terjadi, Ratusan Siswa SMPN 3 Wates Kulon Progo Diduga Keracunan MBG

Sabrecs menyerahkan sepenuhnya sketsa lagu mentah kepada musisi-musisi yang sebelumnya sama sekali tidak ia kenal, lalu mereka mengolahnya menjadi karya utuh tanpa intervensi dari dirinya.

Kenapa berbahaya? "Karena saya menyerahkan sepenuhnya sketsa lagu mentah kepada musisi lain, yang sebelumnya saya tak mengenal mereka sama sekali, lalu mereka olah menjadi karya utuh, tanpa intervensi dari saya."

"Ini eksperimen yang liar, tapi justru di situlah letak kejujuran musikalitas mereka," ujar Sabrecs dalam keterangan tertulis, Selasa 21 Juli 2026.

Album ini menjadi wadah bagi delapan kisah nyata yang dikumpulkan Sabrecs selama bertahun-tahun, baik dari pengalaman pribadinya maupun cerita orang-orang di sekelilingnya. 

Kedelapan lagu tersebut, Budak Korporasi (focus track), Dialektika Semesta, Cerita Di Dadaku, The Unsolved, Palestina Tanpa Cinta, Innerverse, Rindu Itu Kamu, dan Adios Companero (Revisited).

Baca Juga: Mengulik Sejarah Taman Kyai Langgeng Obyek Wisata di Magelang, dari Bekas Kuburan dan Sempat jadi Primadona

Meski memiliki benang merah berupa rock ballad, setiap lagu dibalut dengan pendekatan musikal yang berbeda, mulai dari sentuhan blues hingga folk akustik. 

Pilihan ini menjadi bagian dari filosofi Neurotopia yang menolak membatasi diri dalam satu genre tertentu.

"Mengenai genre, saya berusaha melepaskan diri dari labeling satu genre, karena masing-masing lagu memerlukan cara penyajian yang paling sesuai dengan tema yang diangkat," lanjut Sabrecs.

Dari delapan lagu yang ada, Budak Korporasi dipilih sebagai focus track karena dianggap paling dekat dengan realitas generasi muda saat ini.

Baca Juga: Mengenang Kevin Keegan, Legenda Nomor 7 The Reds Bagian Dari Kejayaan Liverpool

Khususnya Gen Z yang tengah memasuki dunia kerja. 

Mengusung nuansa alternative pop-rock, lagu ini menghadirkan potret tentang individu yang harus bertahan di tengah tekanan pekerjaan, penghasilan terbatas, hingga dilema antara mengejar stabilitas hidup atau meninggalkan rutinitas yang melelahkan.

"Lagu ini mengangkat kisah tentang individu yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang menekan, dengan penghasilan terbatas, tekanan dari atasan, serta dilema antara bertahan atau keluar dari zona yang sudah terasa melelahkan," kata Sabrecs.

Lagu ciptaan Sabrecs tersebut diaransemen oleh Harsha Tanjung bersama Agib Tanjung, sekaligus menjadi karya pertama yang diperkenalkan kepada publik melalui video musik resmi yang telah mengudara di kanal YouTube Neurotopia pada 18 Juli 2026.

Baca Juga: Mengapa Kevin Keegan Dijuluki "King Kev" dan "Mighty Mouse"? Ini Kisah di Baliknya

Pada album perdananya, Sabrecs menggandeng sejumlah musisi lintas skena Yogyakarta, di antaranya Tommy Dharma (Dexter, Glassy, Dharmaformusic, Danger Stranger), Ceria Hadini (Amorisa).

Ada Fafa Goola (Enjoy Drink, Nyi Ageng Ethnic), Agib Tanjung (Smarai, Danger Stranger, Roket, Alter\ego), Reo Sigit (solois), Moko Piano (Ifan Seventeen).

Termasuk Penot Themad (Nyi Ageng Ethnic), Uchin DS (The Godspeed), dan Bonang Woo (The Hud, Amorisa).

Alih-alih memberikan arahan rinci, Sabrecs hanya membagikan lirik, rekaman notasi sederhana melalui voice note ponsel, serta beberapa referensi aransemen dasar yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Baca Juga: Kevin Keegan Meninggal Dunia di Usia 75 Tahun, Legenda Sepak Bola Inggris Tinggalkan Warisan Abadi

Dari materi tersebut, para kolaborator bebas menerjemahkannya menjadi karya utuh sesuai interpretasi musikal masing-masing. 

Khusus pada lagu The Unsolved, Sabrecs ikut menyumbangkan suara sebagai vokal utama.

Seluruh proses rekaman berlangsung di Neverland Studio bersama Tutoet Daru dan Ardhani Leo sebagai sound engineer

Sementara proses mixing dan mastering dipercayakan kepada Harsha Tanjung di G-8 Studio.

Baca Juga: Hibah Tuwanggana Akan Buat Jalan Desa Mulus, Program Padat Karya APBD dan BKK Dais Sasar 39 Titik di Kulon Progo

Untuk misi selanjutnya, Neurotopia akan terus berkembang sebagai collaborative hub yang membuka kesempatan bagi musisi bertalenta dari berbagai genre untuk berkolaborasi dalam karya-karya berikutnya. 

Dengan konsep yang cair, setiap rilisan Neurotopia berpotensi menghadirkan kombinasi personel, warna musik, dan pendekatan kreatif yang selalu berbeda.

"Neurotopia bukan band dalam arti konvensional. Ini adalah ruang eksperimen. Siapa pun bisa masuk, berkontribusi, lalu menciptakan sesuatu yang baru dalam musik,"* tutup Sabrecs. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Neurotopia eXperimen Berbahaya Musik Independen Budak Korporasi kolaborasi musik