RADAR JOGJA - Ranah hiburan global bersiap menyambut kembalinya petualangan geng mainan ikonik milik Pixar.
Seri kelima dari Toy Story ini dijadwalkan akan rilis pada 19 Juni 2026 mendatang.
Berbeda dengan sekuel sebelumnya yang menceritakan ketakutan sekelompok mainan akan dibuang oleh pemiliknya, Toy Story 5 membawa premis yang sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini, yaitu persaingan antara mainan konvensional dengan gawai.
Sutradara sekaligus penulis skenario Toy Story 5, Andrew Stanton, mengungkapkan bahwa film ini akan membawa Woody, Buzz Lightyear, Jessie, dan kawan-kawan berhadapan dengan musuh terbesar mereka, yaitu teknologi.
Dalam rilis trailernya, sang pemilik, Bonnie yang kini berusia 8 tahun, mulai mengabaikan mainan lamanya setelah mendapatkan sebuah hadiah berupa tablet pintar berbentuk katak yang diberi nama Lilypad.
“Ini adalah realisasi dari masalah eksistensial yang nyata di dunia kita sekarang: bahwa hampir tidak ada anak-anak yang benar-benar bermain dengan mainan fisik lagi,” ujar Andrew.
Film ini semakin menarik jika kita menyadari betapa dekatnya tema yang diangkat dengan kehidupan saat ini. Anak-anak tidak lagi bermain dengan mainan, melainkan bermain dengan gawai.
Baca Juga: Pererat Solidaritas, Kopdar Safety With Honda BeAT Hadir di Yogyakarta
Film ini juga menjadi kritik keras bagi pola asuh orang tua dan orang dewasa modern yang menjadikan gawai sebagai pengasuh anak-anak.
Di era serbacepat ini, kesibukan dan tekanan rutinitas sering kali mendorong orang tua terjebak dalam tren menjadikan gawai sebgai jalan pintas.
Ketika anak mulai rewel, bosan, atau menangis, menyodorkan layar sentuh kerap menjadi pilihan pertama untuk membungkam kegaduhan, alih-alih memberikan dekapan atau ruang dialog.
Toy Story 5 tidak sedang menghakimi kemajuan teknologi, melainkan memberikan refleksi bagi kita semua. Pixar ingin mengetuk kesadaran para orang tua modern bahwa secanggih apa pun fitur yang ditawarkan oleh tablet pintar tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan interaksi fisik, kehadiran yang utuh, dan imajinasi bebas.
(Bunga Faizati Hudianna).
Editor : Iwa Ikhwanudin