JOGJA – Heboh! Film komedi investigasi Agak Laen 2: Menyala Pantiku! resmi memecahkan rekor baru sebagai film terlaris sepanjang masa di Indonesia.
Hanya dalam 104 hari tayang sejak 27 November 2025, film ini sudah ditonton 10.980.933 orang, mengalahkan rekor Avengers: Endgame yang bertahan 7 tahun di puncak dengan 10.976.338 penonton.
Rekor ini bukan cuma buat Jakarta atau kota besar. Bioskop di Yogyakarta ikut menyumbang besar!
Warga Jogja dari Malioboro hingga Sleman dan Bantul ramai memadati XXI, CGV, dan Cinepolis sejak hari pertama rilis.
Banyak yang nonton berulang karena ketagihan dialog kocak dan chemistry para komika.
Agak Laen 2 Geser Jumbo & Endgame, Film Lokal Pertama yang Juara!
Sebelumnya Agak Laen 2 sudah mengalahkan Jumbo (10,23 juta penonton) pada awal Januari 2026.
Kini giliran Avengers: Endgame yang “digusur” pada Selasa-Rabu (10-11 Maret 2026) berdasarkan data resmi Cinepoint.
Ini pertama kalinya dalam sejarah modern perfilman Indonesia, film lokal mampu mengalahkan blockbuster Hollywood di daftar penonton terbanyak!
Film arahan Muhadkly Acho ini produksi Imajinari, dibintangi kuartet komika legendaris: Boris Bokir, Bene Dion, Indra Jegel, dan Oki Rengga.
Cerita investigasi kocak plus horor ringan bikin penonton dari anak muda Jogja sampai keluarga tak berhenti tertawa.
Bahkan film pertama “Agak Laen” (2024) saja sudah 9,12 juta penonton, kini sekuelnya jauh melampaui.
“Film ini bikin bangga, lokal tapi kualitasnya dunia. Kami di Jogja nonton beramai-ramai, bahkan ada yang beli tiket paket keluarga,” ujar salah satu penonton di bioskop XXI Ambarrukmo.
Catatan Produksi & Rekor Lain: Sutradara: Muhadkly Acho; Produksi: Imajinari (Ernest Prakasa & Dipa Andika); Genre: Komedi Investigasi; Pemain Utama: Boris Bokir, Bene Dion, Indra Jegel, Oki Rengga; Rekor sebelumnya: 10 juta penonton di hari ke-35 (31 Desember 2025).
Agak Laen 2: Menyala Pantiku! bukan cuma film, tapi momentum emas perfilman Indonesia 2026.
Buktinya, film lokal kini bisa bersaing bahkan mengalahkan raksasa Hollywood di negeri sendiri. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin