RADAR JOGJA - Prilly Latuconsina akhirnya angkat bicara dan menyampaikan permintaan maaf usai menuai kritik karena memasang fitur #OpenToWork di LinkedIn.
Melalui video klarifikasi yang diunggah di Instagram pribadinya @prillylatuconsina96, Prilly menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat menciptakan kegaduhan, apalagi bersikap tidak empati terhadap kondisi sulit pencari kerja saat ini.
Ia mengaku memahami emosi publik dan bertanggung jawab atas kesalahpahaman yang terjadi.
Awal Mula Prilly Pakai Fitur Open to Work
Polemik itu bermula ketika Prilly Latuconsina membuat akun LinkedIn dan menyematkan badge #OpenToWork sebagai tanda bahwa ia terbuka terhadap peluang kerja.
Langkah ini awalnya mendapat respons positif dari warganet yang melihat Prilly ingin mencoba hal baru di luar dunia hiburan, terlebih setelah ia keluar dari rumah produksi Sinemaku Pictures.
Setelah mengaktifkan fitur #OpenToWork di akun LinkedIn-nya, Prilly mengungkap bahwa ia menerima lebih dari 30.000 connection request serta berbagai tawaran kerja dari perusahaan, organisasi, hingga komunitas.
Tawaran tersebut datang dari berbagai bidang, termasuk isu lingkungan dan media.
Ia juga menyebut telah mulai menjalin komunikasi dengan beberapa pihak dan berencana mencoba peran baru, termasuk menjadi reporter di salah satu media.
Mengapa Prilly Dikritik Warganet?
Situasi berubah ketika muncul dugaan bahwa kehadiran Prilly di LinkedIn berkaitan dengan kampanye salah satu brand pasta gigi, karena ia sempat mencantumkan identitas sebagai brand ambassador di profilnya.
Hal ini memicu kemarahan sebagian warganet yang menilai langkah Prilly hanya gimmick dan dianggap tidak sensitif terhadap para pencari kerja yang benar-benar kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Baca Juga: Gulung Vietnam, Timnas Futsal Indonesia Melangkah ke Semifinal Piala Asia untuk Pertama Kalinya
Klarifikasi dan Permintaan Maaf Prilly
Menanggapi kritik yang berkembang, Prilly menyampaikan klarifikasi secara terbuka melalui Instagram pribadinya pada Selasa (3/2/2026).
Dalam videonya, Prilly menyampaikan permintaan maaf dengan tulus dan mengakui bahwa tindakannya memunculkan rasa tidak nyaman bagi sebagian orang.
“Aku paham kalo situasi ini memunculkan banyak reaksi dan emosi. Aku juga mengerti mengapa sebagian dari kalian merasa marah, kecewa, atau nggak nyaman. Untuk itu, aku ingin menyampaikan klarifikasi ini dengan itikad baik, sebagai bentuk tanggung jawabku dalam berkomunikasi,” ujar Prilly.
Ia menegaskan bahwa sejak awal tidak pernah berniat bersikap tidak sensitif atau tidak empati terhadap kondisi sulit yang sedang dihadapi banyak orang dalam mencari pekerjaan.
“Aku sadar posisiku dan pengalaman hidupku tidak sama dengan semua orang, dan aku mengerti kenapa hal ini bisa terasa menyakitkan bagi sebagian pihak,” lanjutnya.
Tujuan Sebenarnya Open to Work Menurut Prilly
Prilly menjelaskan bahwa penggunaan fitur Open to Work ia maksudkan untuk membuka peluang kolaborasi lintas industri dan memperluas jejaring profesional, terutama di bidang yang belum pernah ia coba sebelumnya.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari proses belajar dan upaya untuk terus berkembang, bukan untuk mengambil kesempatan orang lain.
Soal Akun LinkedIn yang Sempat Hilang
Prilly juga menanggapi pertanyaan publik terkait akun LinkedIn-nya yang sempat tidak bisa diakses.
Ia menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena lonjakan aktivitas yang sangat tinggi dan berada di luar kendalinya. Hingga kini, akun tersebut masih dalam proses pemulihan.
“Soal akun LinkedIn yang sempat hilang, aku juga ingin menyampaikan dan menjelaskan secara terbuka bahwa hal tersebut di luar kendaliku karena saat itu akun LinkedIn-ku mengalami pelonjakan aktivitas yang sangat tinggi dan akhirnya sampai saat ini belum bisa dibuka dan sekarang dalam proses pemulihan,” katanya.
Komitmen Prilly ke Depan
Menutup klarifikasinya, Prilly menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan kerja sama dan kegiatan yang memberikan dampak positif bagi banyak orang.
“Kedepannya, aku tetap berkomitmen untuk menjalankan dan melanjutkan kerjasama serta kegiatan yang memberikan dampak positif bagi banyak orang. Dan komitmen ini akan terus menjadi prioritas utamaku,” tutup Prilly.
Ia berharap polemik ini bisa menjadi pelajaran, baik bagi dirinya maupun publik, agar komunikasi di ruang digital bisa berjalan lebih bijak dan saling memahami. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva