JOGJA - Dari balik suara lembut yang pernah mengudara di frekuensi Yasika FM, tersimpan sebuah program yang melekat dalam ingatan banyak pendengarnya: Greatest Memory. Program curhat legendaris ini bukan sekadar acara radio biasa, tapi ruang aman, tempat ribuan hati bercerita dan melepaskan beban, tanpa takut dihakimi.
Salah satu sosok yang pernah suaranya ditungu-tunggu selama program ini adalah Riska Ardila P yang lebih dikenal dengan nama udara Aura. Ia bukan hanya penyiar, tapi juga penjaga emosi dan penerima rahasia.
Kepada Radar Jogja, Riska mengenang masa-masa ketika Greatest Memory menjadi bagian dari hidupnya dan banyak pendengar. "Saya mulai siaran untuk Greatest Memory pada 2012,” kenangnya saat dihubungi, Jumat (10/10) sore.
"Acara itu sudah lama sekali ada. Bahkan mungkin sudah dibawakan puluhan penyiar sebelum saya. Ini salah satu acara legenda,” ungkapnya.
Sebelum mengudara di Yasika FM, Riska memulai kariernya di Polaris FM Magelang pada 2009, yang saat itu berada dalam satu manajemen dengan Yasika. Tak lama berselang, ia diminta pindah ke Jogja untuk menjadi asisten station manager. Hingga akhirnya pada 2011 ia resmi bergabung di Yasika FM, dan setahun kemudian dipercaya memegang kendali Greatest Memory.
Di era sebelum media sosial menjadi panggung utama curahan hati, para pendengar Greatest Memory memilih menulis surat tangan, mengirim e-mail, atau pesan Facebook. Setiap harinya, redaksi menerima puluhan cerita dari berbagai kota, kisah tentang cinta, rindu, kehilangan, pengkhianatan, dan harapan.
Bagi Riska, membawakan program curhat seperti Greatest Memory bukan pekerjaan ringan. Ia harus menjadi pembaca cerita yang profesional, tapi juga peka terhadap emosi. Tantangan terbesarnya, kata dia, bukan soal teknis siaran, melainkan bagaimana tetap netral saat mendalami kisah satu pihak.
“Kita tidak boleh terbawa perasaan. Kalau sedih, tidak boleh ikut menangis. Kalau bahagia, juga tidak berlebihan tertawa. Harus tetap netral,” katanya.
Ia belajar banyak dari program ini: tentang empati, tentang tidak menghakimi, dan tentang bagaimana seseorang bisa perlahan berdamai dengan luka mereka. Setiap kisah, menurutnya, adalah pelajaran hidup.
“Setiap cerita memberi arti. Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka,” ucapnya lirih.
Pendengar Greatest Memory berasal dari berbagai usia, mulai pelajar SMP hingga mereka yang sudah berkeluarga. Meski begitu, dominasi usia remaja hingga dewasa muda menjadi bukti bahwa masa-masa transisi adalah periode yang paling rawan akan kegelisahan hati, dan Greatest Memory hadir sebagai tempat pelampiasan paling aman.
“Banyak yang melow, tapi nggak semua cerita sedih. Ada juga yang bahagia, tentang cinta yang berhasil, sahabat yang menginspirasi, atau perjalanan hidup yang membaik,” kisahnya.
Kini, ketika media sosial dan platform audio digital berkembang pesat, Riska yakin bahwa ruang curhat seperti Greatest Memory masih relevan. Hanya saja, cara penyampaiannya yang harus beradaptasi.
“Mungkin sekarang bisa lewat podcast, Instagram, atau live streaming. Tapi esensinya tetap sama, manusia butuh tempat untuk bercerita,” tegasnya.
Riska menitipkan pesan kepada pendengar setia Greatest Memory. Sebuah refleksi yang lahir dari ratusan, bahkan ribuan kisah yang pernah ia bacakan.
“Jadikan cerita di Greatest Memory sebagai momen positif. Jangan untuk menjustifikasi atau menyalahkan orang lain. Belajarlah berdamai dengan diri sendiri. Fokus bukan pada masalahnya, tapi bagaimana menyelesaikannya,” tuturnya.
Dan di tengah lalu lintas suara yang berseliweran di era digital ini, Greatest Memory tetap punya tempat tersendiri. Bukan hanya di udara, tapi di hati mereka yang pernah mengirimkan cerita, dan juga mereka yang setia mendengarkan. (aya/laz)