Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Film Orang Ikan Perpaduan Sinema Monster Klasik dan Sejarah Perang Dunia II di Asia Tenggara

Heru Pratomo • Jumat, 11 Juli 2025 | 03:42 WIB
Film Orang Ikan Perpaduan Sinema Monster Klasik dan Sejarah Perang Dunia II di Asia Tenggara
Film Orang Ikan Perpaduan Sinema Monster Klasik dan Sejarah Perang Dunia II di Asia Tenggara

 

RADAR JOGJA - Film-film horor Indonesia seringkali mengambil inspirasi dari mitologi dan legenda daerah. Film-film ini menghadirkan cerita-cerita menyeramkan yang berakar pada kepercayaan dan cerita rakyat Indonesia.

Lewat acara Special Screening Gala Premiere Film “Orang Ikan”, rumah produksi Gorylah Pictures, berkerjasama dengan Zhao Wei Films (Singapore) dan Infinite Studio (Indonesia) mempersembahkan sebuah karya unik yang memperluas cakrawala dengan genre creature horror action dengan sentuhan Asia Tenggara.

Disutradarai dan ditulis oleh Mike Wiluan, film ini menggabungkan mitologi lokal, kisah sejarah, dan elemen sinematik monster klasik dalam satu pengalaman sinema yang segar dan menggugah secara visual maupun emosional.

“Tema yang mendasari film ini adalah tentang kemanusiaan, bagaimana manusia dapat dengan mudah menghancurkan satu sama lain dalam peperangan, tetapi ketika dihadapkan dengan sesuatu yang tidak diketahui dari alam, mereka dapat bekerja sama untuk bertahan hidup. Film ini merujuk pada bagaimana manusia dapat merusak sesuatu yang tidak dipahami. Makhluk seperti Orang Ikan bertahan hidup karena ia perlu menyukai semua satwa liar. Pada akhirnya, antagonis di dunia ini tidak selalu makhluk. Melainkan manusia,” jelas Mike Wiluan, sutradara Indonesia, yang juga pemimpin Infinite Studios.

“Orang Ikan” adalah film horor aksi yang memadukan kisah sejarah dan mitologi lokal dengan sinema monster klasik. Berlatar belakang Perang Dunia II, Film Orang Ikan mengisahkan seorang tentara Jepang dan tawanan perang Inggris yang terdampar di pulau terpencil dan harus berhadapan dengan makhluk ganas.

Film mitologi "Orang Ikan" terinspirasi dari cerita rakyat Melayu dan film klasik "Creature from the Black Lagoon". Mengangkat kisah makhluk mitologi Indonesia, perpaduan manusia dan ikan, yang hidup di perairan. Mike Wiluan membawa visinya pada sinema horor Asia dengan pendekatan yang tidak biasa.

Ia menyebut film ini sebagai “kisah asal muasal tentang monster, yang lahir dari tragedi kemanusiaan Perang Dunia II.” “Sebagian besar cerita rakyat di Indonesia berbasis daratan. Selain Nyai Roro Kidul yang merupakan Dewi Laut, Orang Ikan adalah makhluk yang tidak memiliki kekuatan khusus atau hubungan dengan ritual kuno, agama, atau budaya sosial seperti banyak cerita rakyat lainnya,” ujar Mike.

“Film "Orang Ikan" bukan hanya sebuah film horor, tetapi juga sebuah upaya untuk mengangkat cerita rakyat dan mitologi Indonesia ke layar lebar, serta memperkenalkan budaya Indonesia kepada penonton global. Film ini juga menceritakan tentang konflik, penyembuhan luka sejarah, dan kemungkinan perdamaian dalam kondisi paling ekstrem,” ujar Mike.

Meskipun melibatkan banyak orang dari berbagai lintas negara, Film “Orang Ikan” 100% diproduksi di Indonesia, mengambil lokasi di Curug Sodong, Sukabumi, Kawasan Geopark Ciletuh dan Studio Infinite di Batam serta dibuat oleh tim Indonesia, seperti Asep Kalila (Director of Photography) yang mengambil pendekatan kontras antara lanskap tropis dan atmosfer horor laut, Ernaka Puspita Dewi (Make Up Designer) dan Fajrul Fadillah (FVX Artist).

Terlibatnya tim Indonesia dalam proyek film ini menjadi bukti bahwa filmmaker Indonesia telah mumpuni dalam menjalankan produksi dengan pihak asing. Untuk dialog dalam Film “Orang Ikan” menggunakan Bahasa Inggris dan Jepang. Karena cerita tersebut mengharuskan adanya karakter Jepang dan Inggris, itulah yang menjadi alasan untuk menghadirkan Dean Fujioka dan Callum Woodhouse dalam film ini.

Meskipun banyak melibatkan para filmmaker hebat, bagi Mike tantangan terbesar dalam film yang mengangkat sosok makhluk adalah desain dan bentuk makhluk yang ingin ditampilkan karena pada dasarnya makhluk tersebut adalah karakter utama. “Saya pernah punya pengalaman dengan prostetik tetapi belum pernah bekerja dengan kostum lengkap dan animatronik sebelumnya. Untuk membuat film ini membutuhkan waktu dan pemilihan aktor makhluk juga merupakan bagian dari proses tersebut. Aspek lain yang menantang dalam pembuatan film ini adalah lokasi yang sangat terpencil. Prosesnya menantang secara fisik dan mental,” cerita Mike.

Film “Orang Ikan” merupakan film Indonesia yang menggunakan teknik kostum monster yang mumpuni yang melibatkan Allan Holt, creature designer dari Amerika dengan prostetik dan teknik practical effects ala era klasik dengan detil kostum yang sangat riil. Terkait teknik khusus yang digunakan dalam proses pembuatan film “Orang Ikan” ini, Mike Wiluan mengatakan “Kami melakukan syuting di medan yang berbahaya, jadi keselamatan menjadi hal yang penting. Kami melakukan syuting di hutan, tebing, gua, dan pantai liar dengan arus yang kuat. Tim pemeran pengganti dan personel keselamatan kami selalu siap sedia. Proses khusus perlu dilakukan pada kostum Orang Ikan dan pemainnya karena kostum tersebut sangat panas. Kostum tersebut memiliki sistem pendingin khusus yang sangat mirip dengan pembalap F1. Kostum tersebut juga memiliki animatronik yang sangat sensitif yang memerlukan operator yang terampil.”

Editor : Heru Pratomo
#Film Orang Ikan #perang dunia ii