RADAR JOGJA - Yati Pesek, perempuan kelahiran Yogyakarta, 8 September 1952, adalah ikon seni tradisional Indonesia yang dikenal sebagai pelawak, pesinden, dan pemain ketoprak.
Dengan nama asli Suyati, ia tumbuh di lingkungan seni yang kaya; ibunya seorang penari, sementara ayahnya adalah pengrawit.
Meski hanya bersekolah hingga tingkat dasar, semangat Yati untuk berkarya tak pernah surut.
Sejak usia muda, ia bergabung dengan komunitas Wayang Orang Jati Mulya di Kebumen pada tahun 1964, meniti karier di dunia seni tradisional.
Keterampilan dan dedikasinya membawa Yati ke panggung-panggung besar, hingga akhirnya ia membintangi berbagai film dan acara televisi terkenal, seperti Serangan Fajar (1982), Mekah I’m Coming (2020), dan Teluh (2022).
Tak hanya itu, Yati mendirikan Padepokan Seni Yati Pesek di Klaten pada 2005 sebagai pusat pelatihan seni tradisional untuk generasi muda.
Dengan kontribusinya yang luar biasa, ia menjadi simbol seni budaya Indonesia yang tidak hanya menghibur tetapi juga melestarikan warisan tradisional.
Kontroversi Ucapan Gus Miftah
Baru-baru ini, Yati Pesek menjadi sorotan setelah komentar kontroversial dari Gus Miftah, seorang pendakwah sekaligus pimpinan Pesantren Ora Aji di Sleman.
Dalam sebuah video viral, Gus Miftah menyebut Yati Pesek “jelek” dan berandai-andai bahwa jika ia cantik, ia mungkin menjadi pekerja seks komersial.
Ucapannya berbunyi:
“Kulo bersyukur Bude Yati elek. Nek ayu dadi lont** iki” (Saya bersyukur Bude Yati jelek, kalau cantik jadi pelacur ini)," katanya dalam video yang beredar.
Komentar ini memicu kecaman publik, terutama dari kalangan perempuan.
Ni Luh Djelantik, anggota DPD RI asal Bali, meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi posisi Gus Miftah sebagai Utusan Khusus Presiden.
Yati Pesek sendiri merespons dengan nada tegas, menyebut ucapan Gus Miftah tidak pantas dan tidak mencerminkan akhlak seorang tokoh agama.
Ia juga melaporkan insiden tersebut kepada Ki Warsono, menunjukkan rasa kecewanya atas penghinaan yang dirasakan.
Sosok yang Tetap Dihormati
Di usia 72 tahun, Yati Pesek tetap konsisten berkarya dan menginspirasi.
Ia bukan hanya seorang pelawak, tetapi juga pelestari budaya yang dicintai banyak orang.
Dengan sikap positifnya, Yati mengingatkan bahwa seni bukan hanya hiburan, tetapi juga cerminan identitas bangsa.
Kontroversi ini tidak mengurangi penghormatan terhadap Yati Pesek sebagai salah satu simbol seni tradisional Indonesia.
Ia membuktikan bahwa tawa dan dedikasi dapat menjadi kekuatan luar biasa di tengah berbagai tantangan. (Latri Rastha Dhanastri)
Editor : Winda Atika Ira Puspita