RADAR JOGJA - Pasca perceraian mereka pada Agustus 2017, konflik antara Atalarik Syach dan mantan istrinya Tsania Marwah terkait hak asuh anak terus berlanjut tanpa penyelesaian.
Tsania Marwah menuding Atalarik mempersulit pertemuan anak-anaknya Syarif Muhammad Fajri dan Asiyah Shabira.
Tsania mengaku tidak diperbolehkan melihat kedua anaknya. Setelah bungkam cukup lama, Atalarik Syach akhirnya menjelaskan argumen tersebut.
Ia membantah keras tudingan Tsania yang mempersulit dirinya menemui anak-anaknya.
"Saya dari saya pribadi, pengacara saya tidak punya inisiatif seperti saya saat itu. Bagi hari deh, itu inisiatif dari saya, Jumat, Sabtu, Minggu, silakan bawa anak, enak dong. Habis Jumatan sepulang sekolah dia free bisa bawa anak-anak jalan-jalan, Sabtu dia free mau ajak jalan anak-anak ke Singapura pulang Minggu juga bisa mau ke mana aja, kita kan kerja sampai Minggu. Ini ditolak mentah-mentah karena dia mau 100 persen," jelas Atalarik.
Menurut Atalarik, kenyataannya adalah anak-anaknya nyaman bersamanya, meski Tsania memiliki hak asuh yang sah.
"Kenyataannya si anak nggak mau, makanya saya itu cuman kelimpahan anak yang lebih percaya kepada saya. Seburuk-buruknya saya mungkin, tapi anak lebih prefer kepada saya," kata Atalarik.
"Dari pihak mantan istri saya dibilang brainwash anak, sebetulnya saya bisa tuntut balik, fitnah. Dengan tools apa dia bisa ngomong saya brainswash anak, saya minta. Kan saya tulis di IG saya, saya tidak bilang tuh, hanya orang bodoh," tegasnya.
Atalarik juga menceritakan saat anak-anak mereka dieksekusi selama 6 jam oleh 17 aparat saat dirinya tidak berada di rumah, anak-anak tetap tidak mau ikut bersama ibunya.
"Orang-orang yang sayang anak ini bantuin anak-anak supaya bisa keluar kamar, biar bisa berangkat sama ibunya. Tapi anak-anak nggak mau keluar kamar, anaknya nggak mau diculik sama ibunya," ungkap Atalarik.
Baca Juga: Berkunjung ke Jogja? Jangan Lewatkan Singgah ke Beberapa Tempat Vintage, Ini Dia Rekomendasinya
Konflik ini sebenarnya bermula dari perceraian mereka yang diwarnai berbagai isu.
Sejarah perselisihan ini menarik perhatian publik karena menyangkut hak asuh anak yang selalu menjadi isu sensitif.
Atalarik menegaskan, dirinya selalu mengutamakan kesejahteraan anak-anaknya dan berharap masyarakat memahami keadaan sebenarnya.
Di sisi lain, Tsania terus memperjuangkan haknya sebagai seorang ibu dengan harapan bisa lebih sering bertemu dengan anak-anaknya.
Editor : Winda Atika Ira Puspita