RADAR JOGJA - AI telah menjadi pusat perhatian di berbagai industri, termasuk industri gaming yang sedang berkembang pesat.
Baru-baru ini, Unity, salah satu perusahaan pengembangan perangkat lunak terkemuka di industri game, mengungkapkan informasi menarik melalui Laporan Unity mereka.
Menurut laporan ini, 62% dari studio pengembangan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengembangan mereka, dilansir pada Selasa (19/3).
Laporan Unity menyoroti bahwa penggunaan AI telah menjadi strategi yang umum di kalangan studio pengembangan game.
Teknologi ini membantu menghemat waktu dan membuat pekerjaan menjadi lebih efisien daripada metode manual.
Menariknya, pada tahun 2022, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk merilis game adalah 218 hari, namun angka tersebut meningkat menjadi 304 hari pada tahun ini.
Meskipun demikian, 71% studio melaporkan peningkatan dalam operasional dan pengiriman produk mereka.
AI digunakan dalam berbagai aspek pengembangan game, termasuk animasi karakter, pemrograman, pembuatan gambar, level, narasi, dan playtesting otomatis.
Hal ini memungkinkan pengembang untuk mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam fase prototyping.
Menurut laporan tersebut, 68% pengembang memilih untuk menggunakan AI untuk mempercepat proses tersebut.
Tidak hanya itu, AI juga terlibat dalam pembangunan dunia game. Sebanyak 56% pengembang menggunakan AI untuk membangun dunia game mereka, sementara 64% menggunakannya untuk menciptakan dan mengembangkan karakter non-pemain (NPC) yang mengisi dunia tersebut.
Laporan Unity ini sejalan dengan laporan dari Inworld, sebuah perusahaan AI yang bermitra dengan Microsoft pada tahun sebelumnya untuk menyediakan Tools AI kepada para pengembang.
Menurut laporan Inworld, 75% pengembang merasa puas dengan penggunaan NPC AI.
Hampir separuh dari mereka percaya bahwa lebih dari 40% studio akan mengadopsi NPC AI.
Namun, tidak semua pengembang setuju dengan penggunaan AI. Sebanyak 43% dari mereka ragu-ragu menggunakan teknologi ini, meskipun tertarik dengan potensinya.
Alasan ragu tersebut bisa berasal dari kurangnya waktu, keahlian teknis, atau pertimbangan etis.
Sekitar 24% pengembang mengaku tidak memiliki pengetahuan teknis yang cukup tentang pengembangan AI.
Perlu dicatat bahwa laporan ini hanya mencerminkan data dari pengembang yang menggunakan alat dan engine Unity, serta hasil survei dari perusahaan riset pasar Cint pada tahun 2023.
Fokus utama laporan adalah pada studio kecil dan studio mobile yang menggunakan engine Unity.
Meskipun demikian, angka yang diperoleh memberikan gambaran yang jelas tentang tren penggunaan AI dalam industri game yang sedang berkembang.
Editor : Bahana.