RADAR JOGJA - Belakangan ini, pengguna jejaring sosial tengah diramaikan dengan tren makan baru yang dikenal dengan sebutan hahu hoheng.
Istilah hahu hoheng ini diambil dari plesetan kata tahu goreng.
Diberi sebutan hahu goreng lantaran mereka yang mengikuti tren tersebut kesulitan mengucapkan kata tahu goreng dikarenakan sensasi panas di lidah.
Lalu, seperti apa tren tersebut?
Hahu Hoheng adalah fenomena yang muncul di berbagai platform media sosial, di mana pengguna membuat dan membagikan video pendek yang menampilkan aksi menggoreng dan makan tahu dalam keadaan masih panas yang kemudian dilumuri bubuk cabai pedas.
Hal tersebut dianggap menimbulkan perpaduan cita rasa yang unik dan menantang.
Meski tujuannya untuk memberikan hiburan, tren ini juga memiliki beberapa dampak yang perlu dipertimbangkan mengingat potensi bahaya yang ditimbulkan.
Menurut studi Journal of Internasional Cancer menyoroti korelasi antara konsumsi minuman atau makanan dalam keadaan panas beresiko menimbulkan kanker Esofagus.
Selain itu, penelitian ini juga menegaskan pemahaman mengenai suhu minuman atau makanan yang dikonsumsi.
Studi ini menunjukkan bahwa paparan suhu panas secara terus menerus selama bertahun-tahun berpotensi menjadi faktor risiko kanker esofagus.
Kendati kajian studi ini lebih berfokus pada minum teh, namun konsepnya berlaku untuk semua jenis makanan atau minuman panas.
Dampak lain yang ditumbulkan adalah Iritasi pada selaput tenggorokan dan esofagus, yang menimbulkan cedera termal.
Cedera tersebut, apalagi terjadi berulang kali, dapat menimbulkan radang kronis dan menambah risiko pembentukan sel kanker.
Studi ini menyimpulkan bahwa suhu di atas 60 derajat Celcius tergolong tinggi untuk dikonsumsi.
Untuk perbandingan, suhu maksimal hot tub paling tinggi hanya mencapai 40 derajat Celcius.
Nah, bagi Anda penggemar minuman atau makanan panas, sebaiknya pertimbangkan terlebih dahulu untuk mengurangi konsumsi minuman atau makanan panas untuk mengurangi potensi risiko terhadap kesehatan esofagus.|
Editor : Bahana.