RADAR JOGJA - Pengalaman lucu dan tak terlupakan dialami Inaya Wahid, putri presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.
Dia menceritakan pengalamannya ditegur paspampres saat main sepeda di sekitaran Istana Kepresidenan, kala itu ayahnya masih menjabat sebagai Presiden Indonesia.
"Dimarahin, saya naik sepeda terus ditanya, 'Hai ngapain lu di sini, emangnya tempatnya bapak lu?' gitu," ungkap Inaya Wahid saat menjadi bintang tamu "Lapor Pak" beberapa waktu lalu.
Tak ingin mengaku anak presiden, ia pun ketawa sembari pergi, meninggalkan lokasi.
Berpenampilan biasa-biasa saja, memakai sandal jepit bermain di sekitar istana, membuat dirinya yak diyakini anak seorang presiden.
Sebab diakui Inayah penampilannya kaya bocah di kampung pada umumnya.
Kendati begitu, Inaya Wahid sendiri tak mengambil hati atas kejadian tersebut dan hanya menganggapnya sebagai pengalaman lucu saja saat ia kecil.
"Biasa aja sih kalau orang nggak kenal nggak apa-apa, itu kejadiannya pas di istana jadi lucu aja," kata Inaya Wahid.
Dia memaklumi jika pada saat itu sang paspampres tak mengetahui bahwa dirinya merupakan anak dari presiden Gus Dur.
"Orang juga nggak tahu bentukannya kaya apa atau mungkin bisa jadi yang ada di dalam bentukan mereka anak presiden itu begini dan aku tidak memenuhi standar itu, jadi santai aja," tutur Inaya Wahid.
Ternyata, kejadian tersebut sampai ke telinga komandan Paspampres.
"Terus tiba-tiba ada yang dateng komandannya. 'Tunjuk yang mana mbak, tunjuk yang mana' gitu," ujar Inaya menirukan sang komandan itu.
Inaya hanya tertawa saja ketika komandannya itu bertanya anak buah yang mana yang menegurnya.
"Ya aku nggak tahu orang bentukannya sama semua," ujar Inaya Wahid.
"Lagian aku nggak mempermasalahkan itu, biasa aja. Kayaknya sih temennya ada yang ngadu, cuma aku biasa aja," tutupnya. Ia tak ingin memperpanjang masalah tersebut. (Dwi Putri Birgita Lumban Nahor/Radar Jogja)
Baca Juga: Presiden Jokowi Targetkan Bandara IKN Mulai Beroperasi Desember 2024, Total Luasan Lahan 347 Hektare
Editor : Meitika Candra Lantiva