Fakta ini turut diamini sineas muda Hanung Bramantyo saat menghadiri program vaksinasi seniman dan budayawan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK).
Menurutnya dampak dari pandemi Covid-19 meluluhlantakkan semua sektor. Produktivitas perfiliman menurun drastis selama pandemi. Jikalau tetap dipaksakan produksi, justru jumlah penonton atau penikmat seni tidak banyak.
"Kami seniman dan budayawan terdampak serius meski pekerjaan kami dianggap hiburan atau tidak penting. Karena masuknya kebutuhan tersier bukan primer. Padahal dampaknya benar-benar terasa," jelasnya ditemui usai vaksinasi di PSBK, Rabu (10/3).
Hanung menyadari bahwa masih ada yang mengesampingkan vaksinasi kepada seniman dan budayawan. Padahal sosok seniman dan budayawan sendiri merupakan bagian dari elemen masyarakat. Termasuk memiliki aktivitas publik yang cukup padat.
Sejatinya aktivitas berkesenian tidak berhenti sepenuhnya. Hanya saja pergerakan para seniman dan budayawan tidaklah bebas. Setidaknya harus benar-benar patuh dalam menjalankan protokol kesehatan sebagai wujud komitmen bersama.
"Akhirnya kami bekerja dengan ketakutan. Takut kalau terpapar, takut kalau dibubarin Satgas Covid. Maka dari itu adanya program vaksinasi bagi seniman itu penting," katanya.
Hanung memandang vaksinasi adalah solusi jitu di tengah pandemi Covid-19. Merupakan langkah kongkrit dari pemerintah yang perlu diapresiasi. Dengan tujuan kegiatan ekonomi kreatif khususnya di bidang seni dan budaya bisa menggeliat kembali.
Dia mendorong agar target vaksinasi semakin meluas. Dengan harapan seluruh elemen masyarakat telah terlindungi dari pandemi Covid-19. Setidaknya dari resiko tinggi setelah terpapar Covid-19.
"Vaksin ini penting meski dampak belum tentu 100 persen bagi tubuh tapi ini langkah kongkrit untuk membangkitkan rasa percaya diri untuk kembali ke lapangan. Tentunya dengan prokes yang tertata," ujarnya.
Hanung sempat sambat kepada Presiden Jokowi. Dia berharap seluruh seniman maupun budayawan di Indonesia, Jogjakarta khususnya mendapatkan vaksin. Khusus untuk pekerja film di Jogjakarta mencapai 2.000 hingga 2.500 orang.
"Awalnya ragu ke gedung pertunjukan atau bioskop, jadi ada optimisime saat sudah divaksin. Lalu kami bisa kembali berkarya dan berjumpa melalui gedung pertunjukan atau bioksop," harapnya. (dwi/sky) Editor : Editor News