Salah satu lompatan besar adalah pemilihan tokoh Bagong. Sosok punakawan yang diidentikan tak pernah serius hadir dengan watak yang berbeda. Menjadi tokoh wayang yang cerdas dan aktual.
"Ini lompatan besar yang menurut saya benar. Sosok Bagong versi Seno ini cerdas dan ini betul dari sisi penalaran pertunjukan. Kelihatannya nekat tapi ini yang benar," jelasnya ditemui di rumah duka Dusun Gayam, Sedayu Bantul, Rabu (4/11).
Langkah Seno, lanjutnya, berbanding terbalik dengan dalang lainnya. Tokoh punakawan ini ya pernah hadir dengan pembawaan yang serius. Lebih kerap dikemas sebagai sosok lucu bahkan terkesan tak cerdas.
"Ada dalang tertentu, mengesankan Bagong itu bloon, goblok tapi Seno berbeda. Ini cerdas dan aktual. Itulah kelebihan yang dimiliki seorang Seno," katanya.
Seno selalu memilih untuk tampil dalam setiap pewayangannya. Menurutnya tak ada yang salah dalam pola pementasan ini. Walau dalam masa Pandemi Covid-19.
Menurut Susilo, sudah sewajarnya wayang kulit tampil secara fisik. Baginya esensi pertunjukan wayang kulit tak sekadar tentang pesan-pesan nilai moral. Namun ada edukasi dalam setiap pertunjukannya.
"Memang dalam artian dikotomi tuntunan dan tontonan selalu diperdebatkan, tapi dia memilih tontonan tidak bisa dihindarkan. Ini juga benar karena ini (wayang kulit) pertunjukan," ujarnya. (dwi/tif) Editor : Editor News