Putuskan Downgrade demi Jaga Keuangan; Lebih Sehat Dibanding Andalkan Utang, Paylater, Kartu Kredit

Naila Nihayah • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 19:48 WIB
Anissa Hakim Purwantini, Dosen FEB Unimma. (Dok. Pribadi)
Anissa Hakim Purwantini, Dosen FEB Unimma. (Dok. Pribadi)

 

MAGELANG - Belakangan fenomena 'in this economy' ramai diperbincangkan. Di balik keputusan menurunkan standar konsumsi atau downgrade, terdapat upaya untuk menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan. Seperti memilih produk lokal ketimbang merek premium, membawa kopi dari rumah daripada nongkrong di kafe, hingga menunda liburan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) Anissa Hakim Purwantini menilai, fenomena itu bukan semata-mata menunjukkan hilangnya daya beli. Bagi sebagian orang, keputusan downgrade justru menjadi bentuk menata ulang anggaran agar kebutuhan utama tetap terpenuhi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Dia menjelaskan, tekanan muncul ketika pendapatan nominal tidak sejalan dengan kenaikan harga barang dan jasa. Meskipun pendapatan seseorang tetap atau meningkat, kemampuan uang tersebut untuk membeli kebutuhan bisa berkurang apabila kenaikannya tidak sebanding dengan inflasi.

Kondisi itu, kata dia, praktis semakin terasa ketika pengeluaran rutin, seperti cicilan rumah, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan sehari-hari, terus berjalan. Seseorang akhirnya harus memilah pengeluaran yang masih bisa ditekan, terutama dari pendapatan yang tersisa setelah kebutuhan utama dibayar.

"Pendapatan nominal itu tidak sama dengan pendapatan riil karena adanya inflasi, sehingga mereka perlu melakukan realokasi terhadap pengeluarannya," kata Anissa kepada Radar Jogja, beberapa hari lalu.

Baca Juga: Hardjuno: Indonesia Perlu Kembali Menemukan Arah Pembangunan Ekonomi Kerakyatan

Dia menyebut, kelompok kelas menengah menjadi satu kelompok yang menghadapi tekanan itu. Di satu sisi, mereka dinilai memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun di sisi lain, mereka belum tentu memperoleh bantuan sosial yang ditujukan kepada kelompok berpendapatan rendah. Sementara pengeluaran rutin dan tanggungan keuangan tetap harus dipenuhi.

Anissa mencontohkan, seseorang yang memiliki pendapatan relatif besar, tetapi juga menanggung cicilan rumah, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan lain yang terus meningkat. Situasi itu membuat kemampuan keuangan tidak bisa hanya diukur dari besarnya pendapatan atau barang yang dimiliki.

Seseorang yang mempunyai mobil atau telepon genggam mahal misalnya, belum tentu memiliki arus kas yang cukup longgar setiap bulan. Ketika biaya hidup meningkat, lanjut dia, sebagian pengeluaran yang sebelumnya dianggap wajar akhirnya perlu dikurangi.

Dalam praktiknya, kata Anissa, downgrade tidak selalu berarti seseorang berhenti membeli barang atau kehilangan kemampuan untuk berkonsumsi. Perubahan justru bisa terjadi pada pilihan merek, tingkat harga, maupun cara memenuhi kebutuhan.

Dia mengutarakan, sebelum tekanan ekonomi semakin terasa, sebagian konsumen kelas menengah membeli barang bukan hanya karena fungsi, tetapi juga karena prestise. Merek tertentu dipilih untuk menunjukkan status sosial atau memperoleh pengakuan dari lingkungan.

Namun ketika pengeluaran semakin menekan, pertimbangan konsumen dapat bergeser. Fungsi barang menjadi lebih penting daripada merek atau citra yang melekat padanya.

Baca Juga: Pidato Prabowo, Targetkan Pertumbuhan Ekonomi di Kisaran 5,8 - 6,5 Persen RAPBN 2027

Konsumen yang sebelumnya memilih produk premium bisa beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau selama fungsi yang diperoleh relatif sama. Keputusan serupa dapat terjadi pada penggunaan kendaraan, pilihan ponsel, hingga kegiatan liburan.

"Sekarang orang-orang jadi sadar. Dengan adanya fenomena downgrade ini, malah positifnya jadi lebih sadar akan pengelolaan keuangan," paparnya.

Menurut Anissa, keputusan itu dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali pola konsumsi. Konsumen tidak harus selalu mempertahankan gaya hidup lama apabila pengeluaran tersebut tidak lagi sebanding dengan kondisi keuangan.

Meski begitu, dia menekankan, downgrade perlu dilihat dari jenis kebutuhan yang dikurangi. Mengganti barang bermerek dengan produk lebih murah yang memiliki fungsi serupa berbeda dengan mengurangi kebutuhan pokok karena tidak memiliki cukup uang.

Yang lebih berbahaya lagi, menurutnya, ketika downgrade-nya sudah menyentuh level yang dasar. Seperti mengorbankan pendidikan dan kebutuhan pokok.  "Ini yang mencerminkan real purchasing power-nya benar-benar melemah," kata Anissa.

Dia juga mengingatkan, tekanan keuangan tidak selalu terlihat dari angka pendapatan. Biaya pendidikan anak, misalnya, dapat meningkat dari tahun ke tahun, sementara cicilan dan kebutuhan rutin lainnya sulit dikurangi dalam waktu singkat.

Karena itu, Anissa menyebut, fenomena in this economy tidak seharusnya hanya dipahami sebagai tren konsumen yang sedang berhemat. Menurutnya, fenomena itu juga dapat menjadi sinyal sebagian orang atau rumah tangga sedang menghadapi tekanan untuk mempertahankan keseimbangan keuangan.

Baca Juga: Gap Literasi dan Inklusi Keuangan DIY Masih 22 Persen, OJK Perkuat Edukasi

Dia menilai, pertumbuhan ekonomi secara agregat tidak selalu menggambarkan kondisi yang dirasakan setiap rumah tangga. Perbedaan antara angka ekonomi makro dan pengalaman masyarakat sehari-hari perlu diperhatikan, terutama ketika biaya hidup meningkat sementara pendapatan tidak bertambah sebanding.

Di tengah kondisi itu, Anissa menilai, keputusan menurunkan konsumsi dapat menjadi pilihan yang lebih sehat dibanding mempertahankan gaya hidup dengan mengandalkan utang, paylater, atau kartu kredit.

"Daripada memilih untuk berutang, yang pastinya juga ada efeknya, harus membayar cicilan dan bunganya, keputusan downgrade justru bisa menunjukkan kesadaran finansial yang lebih baik," bebernya.

Dia menambahkan, fenomena downgrade juga berpotensi mengubah pola konsumsi dalam jangka panjang. Perubahan itu bergantung pada alasan seseorang mengambil keputusan tersebut.

Jika pengurangan konsumsi hanya dilakukan karena mengikuti tren media sosial atau takut tertinggal dari percakapan publik, kebiasaan tersebut bisa berakhir ketika tren mereda atau kondisi ekonomi membaik.

Sebaliknya, apabila keputusan itu muncul dari evaluasi keuangan pribadi, konsumen berpeluang mempertahankan pola hidup yang lebih hemat. Mereka dapat menyadari barang dengan harga lebih murah tetap bisa memenuhi kebutuhan, tanpa harus mengeluarkan uang tambahan demi merek atau prestise.

Anissa menilai, pengalaman mengatur ulang pengeluaran dapat mendorong seseorang membedakan kebutuhan dan keinginan. Ketika pendapatan meningkat kembali, tambahan uang tidak harus langsung digunakan untuk menaikkan standar konsumsi. (aya/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
In this economy Downgrade Unimma kartu kredit paylater