Resmikan 11 Proyek Rp180 T, Prabowo Lepas Ekspor Baterai EV Weda Bay

Della Hardi Puspita • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 15:21 WIB
Presiden Prabowo melepas ekspor perdana baterai EV dari Weda Bay, Maluku Utara, dan meresmikan 11 proyek industri senilai Rp180 triliun. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Presiden Prabowo melepas ekspor perdana baterai EV dari Weda Bay, Maluku Utara, dan meresmikan 11 proyek industri senilai Rp180 triliun. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

RADAR JOGJA - Presiden Prabowo Subianto resmi melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara. Dalam momentum yang sama, Presiden juga meresmikan 11 proyek industri baru di kawasan tersebut.

Peluncuran dilakukan pada Kamis dengan penekanan sirine oleh Presiden. Prabowo didampingi jajaran pejabat tinggi, di antaranya Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara Rosan Roeslani.

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, hari ini saya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan empat proyek industri yang memasuki tahap komersial,” ujar Prabowo.

Empat proyek yang sudah masuk fase komersial adalah Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioneer Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing. Sementara tujuh proyek lainnya baru memasuki tahap groundbreaking, yakni Guangqing Nickel Cobalt, Eno Prima Material, Tinci Materials Indonesia, Weda Bay Aluminium, Bintang Karya Aluminium, Flat Solar Energy Indonesia, dan Guangqing Motor Indonesia.

Total nilai investasi dari 11 proyek tersebut mencapai 10,2 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp180 triliun. Menteri Investasi Rosan Roeslani merinci, empat proyek komersial menyumbang 3,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun, sedangkan tujuh proyek yang baru dibangun nilainya 6,8 miliar dolar AS.

Rosan menjelaskan, lingkup proyek yang diluncurkan sangat strategis karena membentuk ekosistem baterai dari hulu ke hilir. Mulai dari material baterai berbasis nikel, separator dan elektrolit baterai EV, aluminium elektrolitik, truk listrik untuk pertambangan, hingga kaca fotovoltaik untuk industri tenaga surya.

 

Dari sisi tenaga kerja, seluruh proyek ini diproyeksikan menyerap lebih dari 10 ribu pekerja baru. Secara nasional, realisasi investasi semester I 2026 sendiri sudah mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen, dan menyerap 1,4 juta tenaga kerja. Kontribusi hilirisasi terhadap total investasi pun naik dari 25 persen menjadi 35 persen dalam dua tahun terakhir, dengan lebih dari 75 persen investasi berada di luar Jawa. 

Khusus Maluku Utara, dampak hilirisasi sangat terasa. Industri pengolahan kini menyumbang hampir setengah PDRB provinsi. Pada 2025, surplus perdagangan Maluku Utara mencapai 31,1 triliun, didominasi produk olahan nikel seperti ferronikel, nikel matte, MHP, nikel sulfat, dan kobalt.

Kawasan IWIP sendiri saat ini sudah menampung 52 tenant dari berbagai negara termasuk raksasa global seperti Glencore dan Trafigura. Sejak 2018, total investasi yang masuk mencapai 20 miliar dolar AS, dan dengan tambahan proyek baru sekitar 7 miliar dolar AS, totalnya menjadi 27 miliar dolar AS dengan serapan 117 ribu tenaga kerja.

Nilai ekspor IWIP tercatat 11 miliar dolar AS. Jika digabungkan dengan Kawasan Industri Morowali, total ekspornya mencapai 28 miliar dolar AS atau setara 10 persen dari total ekspor nasional.

Dari sisi energi, kapasitas listrik terpasang dan yang sedang dibangun di IWIP mencapai 7,1 gigawatt, dan jika digabung Morowali menjadi 8,8 gigawatt, sehingga totalnya 15,9 gigawatt. Angka ini bahkan melampaui konsumsi listrik Singapura yang sebesar 13,1 gigawatt.

Selain industri, aspek sosial juga diperhatikan. Program tanggung jawab sosial perusahaan di IWIP menjangkau 32 desa lingkar industri dan tambang dengan anggaran lebih dari Rp650 miliar.

Rosan menegaskan, dengan ekosistem baterai yang lengkap hingga ke tahap daur ulang, Indonesia akan semakin kokoh di rantai pasok global kendaraan listrik. Bahkan, pihak Tsingshan disebut sudah berkomunikasi dengan Danantara untuk ikut dalam program pengembangan 100 gigawatt panel surya.

Sumber:ANTARA

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Weda Bay investasi Rp180 triliun hilirisasi nikel Prabowo Subianto baterai ev