RADAR JOGJA - Di Indonesia, penggunaan QRIS telah mencapai 67 juta pengguna dan diperkirakan akan terus meningkat.
Angka ini sudah hampir setara dengan seperempat total penduduk Indonesia dan menjadi bukti percepatan adopsi pembayaran digital yang semakin marak.
Percepatan penggunaan transaksi digital ini cukup berdampak terhadap penggunaan uang kartal yang saat ini semakin berkurang.
Masyarakat menjadi lebih terbiasa melakukan transaksi secara non tunai daripada harus mengeluarkan uang tunai untuk bertransaksi.
Baca Juga: Melesat di Aragon, Ramadhipa Jaga Peluang Tembus Tiga Besar Moto3 Junior
Lonjakan penggunaan QRIS ini menunjukkan adanya perubahan kebiasaan masyarakat dalam melakukan pembayaran.
Kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan menjadi beberapa faktor yang mendorong masyarakat untuk beralih ke pembayaran digital dalam berbagai aktivitas transaksi sehari-hari.
Walaupun demikian, uang tunai tetap mempunyai peran penting untuk kegiatan transaksi di Indonesia.
Wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) tentu masih mengandalkan pembayaran menggunakan uang tunai karena keterbatasan akses internet dan belum terpengaruh dengan tren pembayaran digital.
Bank Indonesia (BI) juga menegaskan bahwa uang kertas dan logam akan terus dipakai sebagai alat pembayaran yang sah, sementara perkembangan sistem pembayaran digital dapat berjalan berdampingan.
Baca Juga: Hakim PN Jogja Periksa Bangunan Daycare dan TK Little Aresha, Ortu Korban Sebut Pengap dan Tak Layak
“Namun, kita tetap tidak melarang orang kalau mau pakai cash. Karena tetap bahwa payment di kita ini ada digital atau melalui cash. Jadi buat para merchant, kalaupun ada yang memang ingin bayar cash, ya mereka harus bisa menerima,” ujar Destry, dilansir Antara.
Dengan trend pembayaran melalui QRIS yang terus meningkat, diharapkan mampu menjadi standar pembayaran nasional, sementara uang tunai tetap berjalan berdampingan sebagai opsi penting bagi masyarakat di berbagai wilayah.
Editor : Meitika Candra Lantiva
Sumber : Berbagai Sumber