Bahan Cuma Rp 4 Ribu Dijual hingga Rp 350 Ribu, Bank Sampah di Jogja Sulap Botol Plastik Jadi Wayang

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 06:07 WIB
Seksi Pengembangan Wayang Upcycle Pak Q One Budi Anggoro sedang memegang wayang berbahan dasar plastik
Seksi Pengembangan Wayang Upcycle Pak Q One Budi Anggoro sedang memegang wayang berbahan dasar plastik 

 

 

 

 

 

Sampah botol plastik tak selalu berakhir di tempat pembuangan. Di tangan pengelola Bank Sampah Pak Q One, botol plastik bekas diolah menjadi lembaran bahan baku wayang. Produk kerajinan tersebut kemudian dibentuk menjadi berbagai karakter, mulai dari tokoh wayang hingga karakter film dan anime.

 

Pemasaran produk saat ini banyak dilakukan melalui media sosial, terutama Instagram dan TikTok. Pesanan datang dari berbagai daerah, seperti Salatiga dan Jakarta. Bahkan, produk tersebut telah dieskpor ke sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, India, Korea Selatan, dan Australia.

 

Pasarnya tidak hanya berasal dari pencinta budaya. Konsumen dari luar negeri juga dinilai memiliki ketertarikan terhadap produk berbahan limbah karena membawa nilai lingkungan.

 Baca Juga: Kota  Jogja Waspadai Penularan Influenza Tipe A, Sekolah Diimbau Terapkan Lima Langkah Pencegahan

"Orang luar mungkin lebih concern soal lingkungan. Jadi mereka sangat tertarik dengan olahan sampah," ujar Seksi Pengembangan Wayang Upcycle Pak Q One Budi Anggoro saat ditemui di tempat produksi Gedongkiwo, Mantrijeron, Kota Jogja Jumat (25/9). 

 

Harga jualnya pun bervariasi. Produk ukuran kecil dibanderol sekitar Rp 80 ribu, sedangkan ukuran sekitar 40 sentimeter bisa mencapai Rp 150 ribu. Untuk ukuran besar, harga dapat menembus Rp 350 ribu.

 

Menariknya, bahan utama yang digunakan memiliki harga sangat murah. Satu botol plastik bekas ukuran 1,5 liter hanya dihargai sekitar Rp 500. "Kalau wayang Bima itu habis sekitar delapan botol. Kalau satu botol cuma Rp 500, berarti bahan bakunya sekitar Rp 4 ribu. Tapi bisa dijual sampai Rp 350 ribu," ungkapnya.

 Baca Juga: Huistra Optimistis PSS Segera Bangkit; Permainan Sudah di Jalur Benar, Poles Penyelesaian Akhir

Inspirasi membuat wayang dari plastik muncul setelah melihat proses pengolahan limbah plastik menjadi lembaran. Dari sana, pengelola mulai mencoba membuat wayang dengan bahan dasar botol plastik. "Wayang kan salah satu budaya asli Indonesia yang diakui dunia. Jadi kami cari yang paling bagus," katanya.

 

Proses riset dan pengembangan dimulai pada 2021. Pengelola kemudian belajar membuat wayang berbahan plastik. Hingga 2023, produk tersebut terus diuji dan diperkenalkan melalui berbagai kegiatan, termasuk di Pasar Kangen.

 

Dari kegiatan tersebut, produk wayang berbahan botol plastik mendapat respons positif. Konsumen tidak hanya tertarik karena bentuknya, tetapi juga karena material yang digunakan berbeda dari wayang pada umumnya.

Baca Juga: Pertahankan Banyak Pemain Lokal Musim Lalu, Van Gastel Ungkap Pandangannya di PSIM

"Banyak yang menganggap wayang itu sudah kuno. Tapi ketika tahu ada wayang yang bentuknya seperti tokoh film atau anime, mereka tertarik," jelasnya.

 

Untuk membuat wayang, botol plastik berwarna bening terlebih dahulu diproses menjadi lembaran. Botol dibelah kemudian direntangkan pada papan dan dikunci pada bagian sisinya. Setelah itu, plastik dipanaskan menggunakan heat gun hingga menjadi lembaran yang rata.

 

Menurutnya, penggunaan heat gun membuat proses lebih praktis dibandingkan cara sebelumnya yang menggunakan kompor atau setrika. Selain hasilnya lebih rata, alat tersebut juga menggunakan daya listrik rendah.

 

Baca Juga: Atap TPS Pasar Imogiri Jebol, Usulan Perbaikan Belum Terealisasi sejak Awal Tahun

"Sekitar lima menit untuk membuat lembarannya. Setelah jadi, tinggal pakai solder untuk mengukir," terangnya.

 

Ukiran pada lembaran plastik kemudian dibuat menyerupai proses membatik. Solder yang ujungnya telah dibuat lebih kecil digunakan untuk membentuk detail karakter. Setelah bagian tubuh selesai, wayang dirangkai menggunakan bambu, benang, katenbat sebagai engsel tangan, serta kayu.

 

Meski demikian, produksi masih dilakukan secara manual sehingga belum diarahkan untuk produksi massal. Saat ini terdapat delapan orang yang terlibat dalam pengelolaan.

 Baca Juga: Cegah TPPO, Kanwil Ditjen Imigrasi DIY Bakal Tambah Desa Binaan Imigrasi: Baru 21 Titik di DIY

Namun, kapasitas produksi pernah diuji ketika mendapat pesanan 25 plakat berbentuk kayon atau gunungan untuk sebuah kejuaraan dunia. Setiap plakat membutuhkan sekitar dua lembar bahan plastik atau setara dua botol plastik.

 "Belum satu bulan kami bisa selesai. Kami coba karena sayang kalau dilepas, acaranya tingkat dunia. Alhamdulillah selesai," ujarnya. (cin/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
ekspor bank sampah Botol plastik australia wayang