Bimbingan Teknis Optimalisasi Potensi Desa Pengembangan dan Pemberdayaan Pelaku Usaha Anggrek
SLEMAN - Keberadaan Festival Anggrek Vanda Tricolor kesembilan menjadi momentum penting menunjukkan florikultura tidak sebatas pada kecantikan tanaman. Tapi juga peluang menggerakkan ekonomi. Perkembangan gaya hidup masyarakat, kebutuhan dekorasi ruang, dan meningkatnya minat pada tanaman hias menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Anggrek adalah tanaman hias dengan nilai ekonomi yang relatif stabil. Ketika kualitasnya bagus, harganya juga sangat lumayan,” ucap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho saat talkshow bertajuk “Anggrek sebagai Peluang Bisnis Milenial dan Gen Z” dalam Festival Anggrek Vanda tricolor ke-9 di Alun-Alun Royal Ambarrukmo, Depok, Sleman, kemarin (18/9).
Salah satu anggrek asal DIY adalah Vanda tricolor varietas suavis yang memiliki warna bunga dan aroma khas. Tidak hanya menarik dari sisi estetika, Aris menyebut memiliki nilai sejarah dan ekologis dengan kawasan Merapi. "Kekayaan ini jadi kesempatan bagi teman-teman memunculkan idealismenya," ujarnya.
Idealisme yang dimaksud Aris adalah proses pengembangan anggrek varietas baru dengan proses pengkawinan. Ketika berhasil bisa memberikan nama tersendiri atas temuan tersebut. “Harapannya, lahir varietas baru dengan karakter khas Yogyakarta dengan nilai ekonomi tinggi. Nantinya bisa bersaing di pasar nasional hingga internasional. Memiliki identitas dan branding yang kuat sehingga mampu membawa nama Yogyakarta semakin dikenal," lanjut mantan kepala Dinas Kebudayaan DIY ini.
Aris terus berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung masyarakat. Khususnya generasi muda agar berkembang dalam usaha florikultura ini. Dukungan yang diberikan mulai dari bantuan sarana produksi, peningkatan kapasitas, pengenalan teknologi budidaya, dan pendampingan. Kemudian, penguatan kelembagaan, membuka akses terhadap pasar, ditambah jejaring usaha.
Kepala Dinas Pariwisata DIY Eling Priswanto juga menjadi narasumber. Dia menilai, pentingnya membangun narasi dalam pemasaran anggrek. Itu dengan harapan tercipta branding. “Ketika ingin melihat anggrek yang tak biasa, harus datang ke DIY.
Narasumber lainnya Pemilik Anggrek Astuti Jogja, Hananda Hutami Putri. Dia mengatakan, anggrek tak hanya tanaman hias. Namun juga menyangkut kesabaran dan kecantikan.
Sehari sebelumnya, di Pendapa Ambarrukmo pada Kamis (17/9), diadakan bimbingan teknis (bimtek) optimalisasi potensi desa yang digelara DPKP DIY. Acara berlangsung dua hari hingga Jumat (18/9) kemarin. Pesertanya enam kelompok wanita tani (KWT) dari Kapanewon Pakem, Tempel, Godean, dan Kapanewon Depok, Sleman.
Anggota DPRD DIY Arif Kurniawan menilai, pengembangan anggrek ini bisa sebagai alternatif menambah pendapatan masyarakat. Terutama bagi ibu-ibu rumah tangga.
Lewat pendampingan yang dilakukan DPKP DIY, dia berharap peserta bimtek bisa mengetahui cara memilih bibit yang baik. Lalu pengembangan yang dilakukan, proses perawatan, hingga pemasarannya. "Potensinya luar biasa, tidak hanya di Indonesia tapi berpeluang menembus pasar ekspor," ujarnya saat menjadi narasumber bimtek.
Ketika ekosistem kewilayahan dan kolaborasinya kuat, anggrek bisa menjadi daya tarik pengembangan ekowisata. Dia harap masyarakat di lereng Merapi bisa menjaga varietas anggreknya agar tetap eksis. "Anggrek ini punya pasar yang bagus dan bisa terus dikembangkan nilai tambahnya," pesan Arif. Narasumber lain dalam bimtek dari Yayasan Pelestarian Anggrek Merapi. (del/kus)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja