MUNGKID - Batok kelapa yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah justru menjadi sumber penghasilan bagi perajin di Desa Kebonsari, Borobudur. Di tangan Giyanto, tempurung kelapa diolah menjadi bahan panel dinding bernilai jual dan kini rutin dikirim ke pasar Bali, bahkan mulai merambah Dubai.
Setiap pekan, sekitar 30.000 potongan batok kelapa dikirim dari tempat produksinya. Pesanan terbesar saat ini datang dari Bali. Sementara pasar Dubai masih dalam tahap pengembangan karena kuota produksi untuk pengiriman tersebut belum terpenuhi.
Giyanto menuturkan, batok yang diproduksinya dipotong sesuai spesifikasi yang diminta pembeli. Contoh ukuran yang banyak dikerjakan yakni 5 x 2,5 sentimeter. "Biasanya saya kirim ke Bali. Untuk ke Dubai saya masih proses karena kuota belum tercukupi," katanya.
Baca Juga: Pohon Pinus di Lahan 1,5 Hektare Milik Perhutani di Kebumen Terbakar
Pengiriman ke pelanggan dilakukan rutin seminggu sekali. Dalam sekali pengiriman, jumlahnya dapat mencapai sekitar 30.000 potong. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Giyanto tidak hanya mengandalkan limbah kelapa yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
Bahan baku juga didatangkan dari sejumlah daerah, yakni Purworejo, Temanggung, dan Jogja. Harga batok kelapa juga tidak selalu tetap karena mengikuti kondisi pasar. Namun, rerata Giyanto membelinya dengan harga sekitar Rp 2.500 per kilogram (kg).
Stok bahan baku yang disiapkan pun tidak terlalu banyak. Dia biasanya menyimpan persediaan untuk kebutuhan produksi sekitar satu minggu. Pola tersebut dilakukan lantaran produksi mengikuti pesanan yang masuk.
Baca Juga: SSB Bangunharjo Bantul Konsisten Bina Pesepak Bola Muda Lokal Tembus Level Nasional
Giyanto menyebut, produk yang kini menjadi andalan adalah batok panel. Yakni potongan-potongan tempurung kelapa yang digunakan sebagai material panel dinding atau dekorasi. Namun, Giyanto belum sampai pada tahap merakit batok tersebut menjadi panel siap pasang.
Produk yang keluar dari tempat produksinya masih berupa potongan-potongan batok sesuai ukuran pesanan. "Cuma kayak gitu saja. Soalnya belum bisa merakit. Kita belum dapat tukangnya," lontarnya.
Selain panel dinding, dia juga pernah mengembangkan batok menjadi berbagai produk kerajinan lain. Beberapa di antaranya berupa suvenir, gantungan kunci, hingga lampu hias.
Baca Juga: Sempat Absen karena Sakit Punggung, Pedro Caracoci Diharapkan Segera Pulih dan Perkuat PSS Sleman
Menurut Giyanto, kuncinya bukan semata-mata pada bahan yang digunakan, melainkan bagaimana bahan alam tersebut dikembangkan menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi. "Batok ini nggak harus cuma panel. Kita kemarin-kemarin itu suvenir, ada gantungan kunci, ada lampu-lampu," katanya.
Model usahanya pun menyesuaikan permintaan pasar. Ketika sebuah produk sedang ramai, dia akan mengarahkan tenaga kerja untuk mengerjakan pesanan tersebut. Sebaliknya, ketika permintaan menurun, dia mencari jenis pekerjaan lain yang masih dapat dikerjakan oleh para pekerjanya.
Baca Juga: KAI Yogyakarta Hadirkan Kereta Tambahan ke Jakarta, Jawaban Cepat Saat Bandara Soetta Lumpuh
Giyanto menambahkan, sebagian besar perajin di lingkungannya memang mengolah bambu. Namun, tidak semua pengunjung mencari kerajinan berbahan bambu. Dari situlah muncul ide untuk menghadirkan alternatif berbahan alam lain, yakni menggunakan batok kelapa.
Dia mengaku, akan terus mengikuti permintaan pasar Jika panel batok sedang banyak diminati, produksi diarahkan ke produk tersebut. Jika peluang lain muncul, dia siap kembali mengembangkan bentuk kerajinan berbeda. (aya)
Editor : Heru Pratomo