Industri Kopi di Jogja Kian Bergairah, Konsumen Mulai Melek Kualitas hingga Asal Beans

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 09:15 WIB
Gelaran Jogja Coffee Week 2026 yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Gelaran Jogja Coffee Week 2026 yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
 
JOGJA - Industri kopi di Jogja terus menunjukkan perkembangan. Pertumbuhan tersebut tak hanya terlihat dari semakin banyaknya kedai kopi, tetapi juga dari perubahan karakter konsumen yang mulai memiliki ketertarikan lebih terhadap kualitas dan asal-usul kopi.
 
Hal tersebut menjadi salah satu gambaran yang muncul dalam penyelenggaraan Jogja Coffee Week (JCW) 2026 di Jogja Expo Center (JEC). Ajang tersebut mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem kopi, mulai dari petani, roastery, barista, pelaku usaha, hingga konsumen.
 
 
Wakil Ketua Organizing Committee Jogja Coffee Week 2026 Danendra Marlen mengatakan, bahwa perkembangan industri kopi di Jogja dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi sebatas bertambahnya jumlah coffee shop. Menurutnya, masyarakat mulai memahami kopi secara lebih mendalam.
 
"Yang menarik, perkembangannya sekarang bukan hanya soal semakin banyak coffee shop, tapi juga semakin banyak orang yang mulai memahami dan mengapresiasi kopi lebih dalam," ujar Marlen, Sabtu (5/9).
 
Perubahan tersebut terlihat dari pola konsumsi masyarakat. Konsumen yang sebelumnya mengenal kopi terutama melalui produk seperti kopi susu, kini mulai tertarik mengetahui jenis biji kopi, tasting notes, hingga roastery yang memproduksinya.
 
 
"Yang awalnya tertarik dengan kopi hanya dari kopi susu, sekarang mulai banyak yang mengulik jenis beans, tasting notes, bahkan sampai roastery-nya. Eksperimen dengan kopi juga semakin diminati," katanya.
 
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kopi mulai dipandang bukan hanya sebagai minuman, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman dan gaya hidup.
 
Di sisi lain, perkembangan industri kopi juga memberikan efek ekonomi yang lebih luas. Ekosistem kopi tidak berhenti pada bisnis kedai, tetapi melibatkan berbagai sektor mulai dari petani, roastery, supplier, barista, pengemasan, hingga penyedia peralatan.
 
"Ekosistem kopi itu panjang. Bukan hanya kedai kopinya, tapi ada roastery, petani, supplier, barista, packaging, peralatan, sampai berbagai UMKM yang ikut terlibat," jelasnya.
 
 
Meski demikian, pertumbuhan jumlah pelaku usaha juga membuat persaingan semakin ketat. Danendra menilai pelaku usaha perlu memiliki pembeda yang kuat agar tidak sekadar mengikuti tren.
 
"Tantangan terbesarnya adalah memiliki unique selling point. Bukan hanya dari produknya, tapi juga dari ekosistem cafe atau usaha kopinya secara keseluruhan," tuturnya.
 
Pertumbuhan pasar kopi Jogja turut dirasakan pelaku usaha dari luar daerah. Salah satunya Thana Subur Roastery asal Temanggung, Jawa Tengah.
 
Perwakilan Thana Subur Roastery M. Sahrul Gunawan mengatakan, pihaknya melihat Jogja sebagai pasar yang potensial dalam jangka panjang. Terlebih, tingkat konsumsi kopi di Jogja dinilai terus meningkat.
 
"Kalau untuk jangka panjang bisa jadi untuk potensi. Apalagi tingkat konsumsi kopinya kan lebih meningkat," kata Sahrul.
 
 
Thana Subur sendiri mengembangkan konsep ekosistem kopi dari hulu hingga hilir. Pemiliknya, merupakan petani sekaligus prosesor, roaster, hingga barista.
 
Produk yang dibawa ke JCW 2026 juga cukup beragam, mulai dari Robusta, Arabika, Liberika, hingga Ekscelsa. Salah satu produk yang menjadi best seller adalah Arabika wine dengan proses fermentasi.
 
Keikutsertaan Thana Subur di JCW tahun ini juga tidak hanya berorientasi pada penjualan kepada konsumen. Mereka membidik peluang relasi bisnis yang lebih luas.
 
Sahrul menyebut kehadiran delegasi dari Singapore Coffee Association dan Asian Coffee Federation menjadi salah satu daya tarik bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring, khususnya menuju pasar regional ASEAN.
 
 
"Untuk ekspansi ke minimal ke regional, khususnya ke wilayah ASEAN, bisa ada peluang lebih dibanding yang kemarin-kemarin," ujarnya.
 
Menurutnya, JCW juga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk membangun relasi business-to-business (B2B) sekaligus berinteraksi langsung dengan konsumen atau business-to-customer (B2C).
 
Menariknya, meningkatnya konsumsi kopi juga dibarengi tantangan dari sisi pasokan. Sahrul menyebut perubahan iklim mulai menjadi persoalan yang dapat memengaruhi ketersediaan pasokan kopi.
 
"Walaupun dari suplainya mungkin agak terbatas karena perubahan iklim," katanya.
 
Meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap kopi juga tercermin dari pengunjung JCW 2026. Salah satunya Afni Oktavia, mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja.
 
 
Afni sengaja datang karena memang memiliki ketertarikan terhadap kopi. Menurutnya, keberadaan banyak coffee shop di Jogja membuat dirinya memiliki banyak pilihan untuk mengeksplorasi kopi sekaligus menjadikan kedai sebagai ruang beraktivitas.
 
"Saya senang juga untuk eksplorasi itu, baik untuk sekadar nongkrong, kerjain tugas, atau juga bikin konten," ujar Afni.
 
Menurutnya, JCW memberikan pengalaman berbeda karena pengunjung tidak hanya bisa menikmati kopi, tetapi juga mencoba berbagai jenis kopi dari sejumlah daerah di Indonesia.
 
"Di JCW ini juga seru, karena banyak aktivasi dan bisa coba beragam jenis kopi dari berbagai daerah di Indonesia," katanya. (iza)
 
 
Editor : Winda Atika Ira Puspita
perubahan karakter asal-usul kopi konsumen kualitas Industri Kopi