JOGJA – Inflasi DIY Agustus 2026 naik menjadi 3,07 persen secara tahunan, dari 2,54 persen pada Juli. Kondisi ini mendorong pengelola pusat perbelanjaan semakin jeli membaca karakter dan kebutuhan konsumen karena strategi bisnis setiap mal tak bisa disamaratakan.
Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih mencatat inflasi bulanan pada Agustus 2026 mencapai 0,27 persen, sedangkan secara tahun kalender atau year to date (ytd) sebesar 1,55 persen.
"Kenaikan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya," katanya, Sabtu (5/9/2026).
Dia menjelaskan, komponen daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil inflasi bulanan terbesar, yakni 0,15 persen. “Sementara secara tahunan, emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan andil 0,89 persen," ujarnya.
Baca Juga: PSIM Jogja Bangkit di Pengujung Laga, Persita Tangerang Gagal Bawa Pulang Tiga Poin dari Stadion SSA
Kondisi tersebut juga menjadi salah satu konteks yang perlu diperhatikan pelaku ritel ketika membaca pola konsumsi masyarakat. Sebab, pusat perbelanjaan tidak berhadapan dengan satu karakter konsumen yang sama.
Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIJ Surya Ananta mengatakan, sejatinya karakter pasar menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan komposisi tenant dalam sebuah pusat perbelanjaan.
Menurutnya, pusat perbelanjaan yang menyasar masyarakat lokal memiliki pola berbeda dengan mal yang banyak dikunjungi wisatawan. Karena itu, jenis produk, tenant, hingga rentang harga perlu menyesuaikan profil pengunjung.
Plaza Malioboro, misalnya, memiliki karakter pengunjung yang lebih banyak berasal dari wisatawan karena lokasinya berada di kawasan Malioboro. Sementara Plaza Ambarukmo lebih banyak mengandalkan masyarakat lokal yang datang secara berulang.
Baca Juga: PSIM Jogja Nyaris Tumbang di Laga Perdana, Gol Adrian Purzycki Selamatkan Laskar Mataram Skor 1-1
"Perbedaan tersebut membuat strategi penjualan di masing-masing pusat perbelanjaan tidak bisa dibuat seragam," urainya.
Kondisi ini semakin penting ketika masyarakat menghadapi perubahan harga berbagai kebutuhan. Pelaku ritel dinilai harus bisa melihat barang atau jasa apa yang masih jadi prioritas konsumen dan bagaimana mereka menentukan pengeluaran ketika di pusat perbelanjaan.
Sementara itu, industri pusat perbelanjaan DIY sendiri diakui Surya sepanjang 2026 dengan prospek yang sebelumnya dinilai masih positif. APPBI DIJ mencatat kunjungan pusat perbelanjaan di DIJ sepanjang 2026 ini tumbuh sekitar 5 hingga 10 persen.
"Meski pertumbuhannya berbeda-beda di setiap lokasi. Tapi cukup progresif," sebutnya.
Baca Juga: Buku Datang ke Sekolah, Fiksi Jadi Favorit Siswa: Perpustakaan Keliling Perluas Akses Sumber Belajar
Dengan kondisi inflasi yang meningkat, persaingan pusat perbelanjaan ke depan bukan hanya soal menghadirkan program diskon. Kemampuan membaca karakter pengunjung, menentukan komposisi tenant.
"Penting juga menawarkan pengalaman yang sesuai kebutuhan konsumen menjadi bagian penting untuk menjaga aktivitas belanja tetap tumbuh," pesannya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita