Hadapi Tren Promo Gen Z dan Food Waste, ESB Tawarkan Solusi Digital Berbasis Data di JIFHEX Jogja

Heru Pratomo • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:55 WIB
 ESB Tawarkan Solusi Digital Berbasis Data di JIFHEX Jogja
ESB Tawarkan Solusi Digital Berbasis Data di JIFHEX Jogja

 

 

YOGYAKARTA – Di tengah lonjakan pertumbuhan sektor kuliner dan akomodasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang melesat hingga 10,56 persen, PT Esensi Solusi Buana (ESB) resmi hadir di Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) 2026.

 

 Perusahaan teknologi penyedia sistem operasional terintegrasi bisnis kuliner ini memboyong ekosistem digitalnya ke Jogja Expo Center (JEC) pada 28–30 Agustus 2026 untuk membantu pelaku usaha lokal mengatasi kompleksitas operasional di tengah ketatnya persaingan pasar.

 

Kehadiran ESB di JIFHEX 2026 momentumnya sangat tepat di tengah lonjakan pertumbuhan sektor kuliner dan hospitality di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berdasarkan data BPS DIY, perekonomian wilayah ini tumbuh 5,75% secara tahunan (yoy) pada triwulan II-2026.

Baca Juga: Susunan Pemain PSIM Jogja Lawan Deltras FC, Adrian Dalmau Menjadi Ujung Tombak

 

Menariknya, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum di DIY mencatat lonjakan pertumbuhan yang jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 10,56% pada periode yang sama.

 

Angka tersebut mencerminkan masifnya aktivitas bisnis yang berkaitan dengan pariwisata, perhotelan, restoran, dan konsumsi makanan-minuman di Yogyakarta. Namun, di balik pertumbuhan yang pesat ini, para pelaku usaha lokal kini dihadapkan pada kompleksitas operasional yang semakin tinggi.

 

“Yogyakarta adalah contoh yang sangat menarik. Aktivitas bisnis kuliner dan hospitality di sini terus bergerak dinamis, tetapi pertumbuhan ini otomatis membuat tantangan operasionalnya semakin besar. Pengusaha kuliner di Jogja tidak bisa lagi hanya mengejar volume penjualan,” ujar Gunawan Woen, CEO & Co-Founder ESB.

Baca Juga: Tragis! Kebakaran di RS PIMS Islamabad Pakistan, 14 Bayi Dilaporkan Tewas

Menurut Gunawan, dengan pasar Jogja yang semakin kompetitif, pemilik bisnis dituntut untuk bergerak berbasis data. “Mereka perlu tahu pasti outlet mana yang sehat, menu apa yang paling menguntungkan, bagaimana kondisi stok riil, hingga apakah strategi promosi yang dijalankan benar-benar berdampak positif pada profit, bukan sekadar bakar uang,” tambahnya.

Selain kompleksitas internal, pelaku usaha kuliner di Yogyakarta juga harus beradaptasi dengan tiga tantangan besar industri F&B saat ini:Integrasi Multikanal (Omnichannel): Kanal pemesanan online terus meroket. Data Momentum Works mencatat total nilai transaksi (GMV) makanan via food delivery (GrabFood, GoFood, ShopeeFood) di Indonesia menembus US$6,4 miliar pada 2025 (tumbuh 18%).

 

 Artinya, kata dia, kemampuan restoran dalam mengelola pesanan fisik dan digital secara terpusat menjadi harga mati.Sensitivitas Harga & Promo Gen Z: Berdasarkan survei Populix terhadap 3.138 responden Gen Z dan milenial—yang merupakan ceruk pasar terbesar di kota pelajar seperti Jogja—harga dan promo diskon tetap menjadi faktor penentu utama dalam memilih tempat makan.

Baca Juga: Festival Mustika Rasa 2026 Resmi Dibuka di Alkid Jogja, Angkat Kuliner Warisan Bung Karno

Pelaku usaha di Jogja dituntut mengelola promosi secara cerdas dan terukur agar tidak menggerus margin keuntungan.

 

Bappenas memperkirakan kerugian ekonomi akibat food loss and waste di Indonesia mencapai Rp213–551 triliun per tahun (4-5% dari PDB). Di bisnis kuliner, pengendalian stok, ketepatan produksi, dan perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang meleset bisa langsung memicu pemborosan bahan baku dan kerugian fatal.

 

Menjawab kebutuhan tersebut, ESB memboyong ekosistem teknologi F&B lengkapnya ke JIFHEX 2026. Berbeda dengan aplikasi kasir biasa, ESB menghubungkan seluruh proses operasional secara end-to-end, mulai dari area transaksi depan (front office) hingga manajemen data di belakang (back office).

Baca Juga: Nicolas Jackson Gabung Aston Villa dari Chelsea, Diproyeksikan Sebagai Pengganti Ollie Watkins

Layanan yang dipamerkan meliputi ESB POS untuk mengelola transaksi kasir, menu, promosi, dan integrasi pesanan online; ESB Order untuk mendukung ekosistem pemesanan digital; serta ESB Core, sebuah sistem ERP khusus bisnis kuliner yang mengintegrasikan pengadaan (procurement), manajemen stok/inventori, produksi, HPP, hingga penyeragaman laporan keuangan.

 

“Tujuan kami bukan sekadar menyediakan aplikasi kasir restoran atau software pencatat transaksi. Tantangan bisnis kuliner hari ini saling terhubung, sehingga sistemnya juga harus terintegrasi. Jika data penjualan, stok, dan keuangan masih berjalan sendiri-sendiri, pemilik bisnis di Jogja akan semakin sulit melihat kondisi riil keseimbangan bisnis mereka,” tegas Gunawan.

 

Melalui partisipasi di JIFHEX 2026, ESB menegaskan komitmennya untuk mempercepat digitalisasi dan memperkuat daya saing bisnis kuliner di Yogyakarta, baik untuk skala UMKM yang sedang berkembang maupun jaringan resto besar yang memiliki banyak cabang (multi-outlet).

Selama pameran di JEC berlangsung, pengunjung dan pelaku usaha kuliner dapat berkunjung langsung ke booth ESB untuk melihat demonstrasi teknologi, mencoba sistem secara langsung, serta berkonsultasi gratis dengan tim ahli ESB mengenai solusi sistem operasional yang paling sesuai dengan karakteristik bisnis mereka.

Editor : Heru Pratomo
ESB JIFHEX 2026 Bisnis kuliner JEC Gen Z