Aloesalacca, Inovasi Minuman KWT Lestari untuk Dorong Produk Unggulan Pakembinangun

Bahana. • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 14:33 WIB
 Tim Dosen  Stikes Panti Rapih bersama dengan mitra Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari, Padukuhan Tegalsari, Pakembinangun.
Tim Dosen  Stikes Panti Rapih bersama dengan mitra Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari, Padukuhan Tegalsari, Pakembinangun.

SLEMAN — Potensi lidah buaya dan salak di Kapanewon Pakem, Sleman, terus didorong untuk memiliki nilai tambah. Salah satunya melalui pengembangan minuman fungsional Aloesalacca yang digagas oleh Tim Dosen  Stikes Panti Rapih bekerja sama dengan mitra Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari, Padukuhan Tegalsari, Pakembinangun.

Pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan Tim PKM STIKes Panti Rapih Yogyakarta melalui pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) 2026, dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula.

Kegiatan bertajuk Pemberdayaan Masyarakat Kelompok Wanita Tani “Lestari” Tegalsari Melalui Diversifikasi Minuman Fungsional Aloesalacca Menjadi Produk Khas Unggulan untuk Penguatan Kawasan Agropolitan Pakembinangun tersebut berlangsung selama Juni hingga Juli 2026 di Limasan Raharjo, Tegalsari, Pakembinangun, Kapanewon Pakem.

Tim pelaksana terdiri atas tiga dosen STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Veronica Ima Pujiastuti, S.TP., M.Gizi bertindak sebagai ketua, sedangkan Hiasinta Anatasia Purnawijayanti, S.TP., MP dan Fransisca Anjar Rina Setyani, M.Kep., Ns.Sp.Kep.M.B. menjadi anggota.

Baca Juga: Gabriel Jesus Dilirik Dua Klub Premier League, Arsenal Siap Lepas Sang Penyerang?

Program ini berangkat dari potensi pertanian di Padukuhan Tegalsari yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil lidah buaya dan tergabung dalam jejaring Tani Organik Merapi (TOM). Di sisi lain, kawasan Pakem-Turi juga memiliki produksi salak yang melimpah yang mendukung pengembangan potensi agrowisata di kawasan tersebut.

Istimewa
Istimewa

Namun, pemanfaatan lidah buaya oleh KWT Lestari masih menghadapi sejumlah kendala. Sebagian produk yang dihasilkan berupa olahan basah dengan umur simpan relatif pendek sehingga kurang optimal apabila dipasarkan ke luar daerah.

Selama ini, pemasaran lidah buaya hasil budidaya KWT berupa pelepah lidah huaya yang disetorkan untuk dipasarkan oleh jejaring TOM. Sekitar 20 hingga 30 persen lidah buaya tidak lolos proses sortir diolah oleh KWT menjadi produk olahan basah seperti cendol.  Kondisi tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan produk olahan yang memiliki masa simpan lebih panjang sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bahan baku.

Melalui program PKM, lidah buaya kemudian dikembangkan menjadi minuman fungsional siap minum atau ready to drink dengan memadukannya bersama sari salak, bunga telang, dan jeli lidah buaya. Produk tersebut diberi nama Aloesalacca.

Teknologi tepat guna berupa metode modified hot filling diterapkan dalam proses produksi. Teknik tersebut digunakan untuk membantu meminimalkan kontaminasi bakteri sekaligus memperpanjang umur simpan produk tanpa mengabaikan kandungan fungsional bahan yang digunakan.

Sebanyak 25 anggota KWT Lestari mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Pelaksanaan diawali dengan sosialisasi program, pengenalan tim PKM, serta penyampaian komitmen peserta. Peserta juga mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman sebelum memperoleh materi pelatihan.

Minuman Aloesalacca
Minuman Aloesalacca

Materi yang diberikan mencakup pengenalan minuman fungsional berbahan salak, bunga telang, dan lidah buaya, serta penerapan prinsip keamanan pangan dalam proses produksi minuman olahan.

Peserta kemudian mendapatkan praktik langsung pembuatan Aloesalacca, termasuk penerapan metode modified hot filling. Pelatihan juga mencakup pengemasan dan pelabelan produk agar minuman yang dihasilkan lebih siap untuk dikembangkan sebagai produk komersial.

Dalam kegiatan tersebut, Tim PKM turut menyerahkan bantuan berupa peralatan produksi, alat pengemasan dan penyimpanan produk, serta perlengkapan pemasaran. Bantuan tersebut diberikan melalui dukungan pendanaan program Kemendiktisaintek 2026.

Penguatan pemasaran juga menjadi perhatian. Mahasiswa dilibatkan dalam pelatihan digital marketing dengan memanfaatkan media sosial yang telah dimiliki KWT Lestari. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan konten pemasaran yang lebih menarik dan sesuai dengan karakter konsumen saat ini.

Peserta juga dilibatkan dalam menentukan informasi yang akan dicantumkan pada label kemasan yang telah dirancang oleh tim. Dengan demikian, produk Aloesalacca tidak hanya diarahkan memiliki kualitas produksi yang baik, tetapi juga identitas produk yang sesuai untuk dipasarkan.

Baca Juga: Kabar Baik Bagi Tenaga Pendidik, Pemerintah Buka Peluang Guru PPPK Jadi PNS 2027

Pada pertemuan berikutnya, peserta mendapatkan pendampingan dalam menghitung harga pokok produksi dan menentukan harga jual yang layak. Materi juga mencakup informasi mengenai perizinan BPOM serta berbagi pengalaman pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bersama praktisi.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan post-test dan focus group discussion (FGD). Dalam forum tersebut, kondisi internal KWT Lestari dianalisis menggunakan pendekatan SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan pengembangan produk.

Hasil pembahasan kemudian menjadi dasar penyusunan rencana tindak lanjut (RTL). KWT Lestari didampingi untuk menyusun langkah berikutnya, terutama terkait keberlanjutan produksi, pengelolaan usaha, serta strategi pemasaran Aloesalacca.

Antusiasme peserta dan dukungan dari Kepala Padukuhan Tegalsari menjadi modal positif dalam keberlanjutan program. Melalui inovasi tersebut, pemanfaatan komoditas lokal diharapkan tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat.

Aloesalacca pun diharapkan dapat menjadi salah satu produk khas unggulan Pakembinangun sekaligus mendukung penguatan kawasan agropolitan berbasis potensi lokal.

Editor : Bahana.
Aloesalacca KWT Lestari pakembinangun STIKES Panti Rapih salak