Jogjakarta Ditarget Jadi Pusat Perekonomian Syariah Nasional, Empat Sektor Digenjot

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 15:56 WIB
Launching Jogja Halal Festival (JHF) 2026 yang diselenggarakan di Balai Mataram, Kantor Bank Indonesia Jogjakarta, Kamis (30/7/2026). (Foto: Iwan Nurwanto/Radar Jogja) 
Launching Jogja Halal Festival (JHF) 2026 yang diselenggarakan di Balai Mataram, Kantor Bank Indonesia Jogjakarta, Kamis (30/7/2026). (Foto: Iwan Nurwanto/Radar Jogja) 

JOGJA - Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) memiliki target agar Jogjakarta bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi syariah. Khususnya pada sektor kuliner, pendidikan, wisata, dan fashion. Salah satu upaya menggenjotnya dengan penyelenggaraan Jogja Halal Festival (JHF) di tanggal 4-6 Desember 2026 nanti.

Ketua Umum Pimpinan Wilayah MES DIY Edy Suandi Hamid mengatakan, penyelenggaraan JHF menjadi bagian untuk mendukung masterplan ekonomi syariah Indonesia. Menurutnya, DIY memiliki potensi besar sebagai pusat kegiatan untuk berkontribusi aktif dalam mencapai target tersebut.

Menurutnya, DIY dapat diproyeksikan menjadi pusat kegiatan utama pada empat sektor unggulan. Meliputi pendidikan syariah, fashion muslim, wisata ramah muslim, dan kuliner halal.

“Kami berharap Jogjakarta berkontribusi. Tidak usah nomor satu untuk semua variabel syariah, tapi paling tidak empat sektor tadi bisa menjadi hub utamanya," ujar Edy dalam launching JHF 2026 yang diselenggarakan di Kantor Bank Indonesia Jogjakarta, Kamis (30/7/2026).

Baca Juga: Proses Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Kulon Progo Minim Campur Tangan, Kalurahan hanya Membantu Sediakan Lahan

Edy mengungkapkan, JHF tahun ini merupakan kali ketiga. Pihaknya menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY sebagai mitra strategis agar dapat ikut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi syariah nasional sekaligus memperkuat posisi DIY di panggung internasional.

Dalam setiap penyelenggaraan JHF, menurutnya cukup mencatat kenaikan jumlah partisipan dan pengunjung signifikan. Pada edisi pertama tercatat 33.000 pengunjung, sementara edisi kedua meningkat menjadi 37.000 pengunjung. Kemudian untuk edisi ketiga tahun ini ditarget 70.000 pengunjung.

Edy menyatakan, dalam JHF tahun ini pihaknya telah memperluas jangkauan ke pasar internasional. Upayanya dilakukan dengan komunikasi bersama Indonesian Network Global di Australia supaya dapat memboyong delegasi serta pelaku usaha luar negeri dalam pameran.

Menanggapi pertanyaan terkait potensi benturan antara nilai syariah dan tradisi budaya di Jogjakarta. Ia menegaskan bahwa ekonomi syariah dan budaya lokal tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. 

Baca Juga: Proses Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Kulon Progo Minim Campur Tangan, Kalurahan hanya Membantu Sediakan Lahan

“Saya ingin menunjukkan ini Jogja Halal Festival berbasis kultural,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jogjakarta Sri Darmadi Sudibyo berharap penyelenggaraan JHF bisa menjadi penguat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di wilayah DIY. Sebab ekonomi syariah bisa menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Penyelenggaraan JHF menurutnya tidak hanya berperan sebagai wadah promosi produk halal. Namun juga sarana penguatan UMKM, perluasan akses pasar, serta edukasi gaya hidup halal.

“Kami sangat berharap Jogja Halal Festival semakin menjadi katalis penyelarasan program ekonomi syariah di DIY, sehingga memiliki dampak masif, berkelanjutan, dan dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Halal festival Yogyakarta ekonomi syariah Pendidikan bank indonesia