JOGJA - Gejolak yang melanda pasar keuangan Indonesia dinilai telah memasuki fase yang perlu mendapat perhatian serius.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) serta penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi sinyal menurunnya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Ekonom Sekolah Vokasi UGM Yudistira Hendra Permana mengatakan, bahwa kondisi makroekonomi Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.
Menurutnya, pemerintah perlu melihat perkembangan tersebut secara objektif dan tidak menganggap gejolak yang terjadi sebagai persoalan biasa.
"Kondisi makro ekonomi Indonesia kini berada di tahap serius dan mengkhawatirkan. Ini tidak akan menguntungkan bagi pemerintah atau risiko ekonomi bagi masyarakat. Pemerintah tidak bisa melawan pasar dengan mengatakan kondisi ekonomi sekarang ini masih baik-baik saja secara umum," ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Yudistira menilai, salah satu persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah ketidakpastian arah kebijakan pemerintah.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat pelaku pasar dan investor kesulitan membaca prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah maupun panjang.
Baca Juga: Raudi Akmal Ditetapkan Tersangka Korupsi, Tak Ada Perwakilan Fraksi PAN di Komisi D DPRD Sleman
Ia mengingatkan pemerintah agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan maupun mengeluarkan kebijakan yang berpotensi menimbulkan persepsi berubah-ubah di mata investor.
"Investor kebingungan dalam melihat ekonomi Indonesia, di mana selalu diliputi dengan rasa ketidakpastian," ungkapnya.
Menurut Yudistira, ketidakkonsistenan kebijakan dapat terlihat dari rencana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Padahal, regulasi tersebut baru diberlakukan pada 2023.
"Revisi undang-undang dalam waktu singkat, dinilai menunjukkan ketidakjelasan arah pemerintah," bebernya.
Baca Juga: Temui Kader Pendamping Keluarga, Menteri Kemendukbangga Wihaji Edukasi Penyaluran MBG 3B di Sleman
Ia menilai dampak gejolak ekonomi tidak hanya dirasakan investor, tetapi juga berpotensi membebani masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.
Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan akan meningkatkan tekanan inflasi yang pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat.
Selain itu, melemahnya pasar keuangan juga dapat menghambat pertumbuhan sektor riil. Ketika investasi di pasar keuangan tidak memberikan keuntungan yang memadai, investor cenderung menahan ekspansi usaha sehingga aktivitas ekonomi tidak tumbuh optimal.
"Risikonya kepercayaan investor bisa turun," tegasnya.
Baca Juga: Was-Was Desil DTSEN Kurang Tepat Sasaran, Dewan Dorong Perubahan Regulasi Penerima JPD
Dosen ekonomi UGM tersebut menilai pemulihan kondisi pasar sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menghadirkan kepastian dan konsistensi kebijakan.
Dalam jangka pendek, pemerintah diminta tidak terburu-buru merespons setiap isu dengan kebijakan baru yang justru berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan pelaku usaha.
Sebagai salah satu pusat kajian ekonomi dan pendidikan tinggi di Indonesia, Jogja melalui kalangan akademisinya turut menyoroti perkembangan ekonomi nasional yang dinilai perlu segera direspons secara terukur.
Baca Juga: Aliansi Mahasiswa UNY Tolak Kampus Kelola SPPG untuk MBG: Pasang Spanduk Penolakan di Gerbang Masuk
Menurut Yudistira, pemulihan kepercayaan pasar menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong investasi yang berkelanjutan.
"Inkonsistensi hanya akan membuat pengusaha enggan berinvestasi, kondisi ini tidak menguntungkan bagi pemerintah dan masyarakat," jelasnya. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita