JAKARTA — Pengumuman kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berlaku mulai hari ini kembali memicu efek domino di berbagai sektor.
Di saat ruang publik sibuk memperdebatkan angka inflasi dan APBN, ada satu kelompok yang langsung merasakan "pukulan telak" di lapangan tanpa jeda: para gig workers, alias pengemudi ojek online (ojol) dan kurir logistik.
Bagi mereka yang 100% mata pencahariannya bergantung pada aspal jalanan, bensin bukan lagi sekadar biaya operasional, melainkan "nadi" dari pendapatan harian. Kenaikan harga BBM hari ini menempatkan mereka pada dilema pemakan buah simalakama yang rumit.
Pasca-kenaikan harga BBM, para mitra ojol dan kurir kini dihadapkan pada dua skenario yang sama-sama menjepit posisi tawar mereka:
Jika Tarif Aplikasi Tetap: Pendapatan bersih mereka dipastikan terjun bebas. Biaya isi bensin membengkak, sementara uang yang dibawa pulang ke rumah untuk anak-istri otomatis berkurang drastis.
Jika Tarif Aplikasi Naik, ada risiko nyata berupa penurunan minat konsumen. Konsumen yang sensitif terhadap harga (price sensitive) kemungkinan besar akan mengurangi frekuensi memesan makanan (food delivery) atau beralih ke moda transportasi lain. Ujung-ujungnya, orderan menjadi sepi.
Dilema inilah yang membuat kenaikan BBM hari ini terasa jauh lebih mencekik bagi pekerja sektor informal digital dibanding sektor lainnya.
Efek Domino ke Ongkir dan Kantong Konsumen
Melambungnya biaya operasional ojol dan kurir dipastikan akan langsung merembet ke sektor e-commerce dan layanan pesan-antar. Biaya pengiriman (ongkir) yang selama ini menjadi stimulus belanja masyarakat berpotensi mengalami penyesuaian.
Bagi para kurir paket ekspedisi, terutama mereka yang bersatus mitra dengan sistem upah per paket, kenaikan BBM memaksa mereka menghitung ulang rute pengantaran. Mereka harus ekstra efisien dan meminimalkan rute bolak-balik agar tidak boncos di jalan.
Setiap liter bensin yang terbakar kini memiliki nilai taruhan yang jauh lebih tinggi.
Menanti Langkah Nyata Pihak Aplikator dan Pemerintah
Di tengah situasi ini, komunitas pengemudi ojol dan asosiasi kurir kini mulai menyuarakan kegelisahannya. Mereka mendesak pihak aplikator (perusahaan penyedia layanan) untuk segera meninjau ulang persentase potongan aplikasi serta menyesuaikan tarif batas bawah dan batas atas secara adil.
Masyarakat urban kini hanya bisa berharap ada kebijakan bantalan sosial atau insentif khusus yang tepat sasaran bagi para pekerja transportasi online ini. Sebab, jika garda terdepan penggerak ekonomi digital ini limbung di jalanan, roda aktivitas ekonomi kota pun lambat laun akan ikut melambat.
Hari ini, di balik kemudi motor dan tumpukan paket, para gig workers harus kembali memutar otak, bertahan di bawah terik matahari demi mengejar angka income yang standarnya mendadak berubah akibat harga BBM yang tak lagi sama.
Editor : Bahana.