Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPS Ungkap Sederet Sinyal Pertumbuhan Ekonomi DIY, Dari Inflasi hingga Ekspor Beri Kontribusi Positif

Fahmi Fahriza • Rabu, 3 Juni 2026 | 20:54 WIB
Caption: Ilustrasi foto kegiatan masyarakat yang mempengaruhi perekonomian di DIY.  Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Caption: Ilustrasi foto kegiatan masyarakat yang mempengaruhi perekonomian di DIY. Fahmi Fahriza/Radar Jogja

JOGJA - Perekonomian di DIY secara progresif menunjukkan kinerja positif pada awal 2026. Sejumlah indikator strategis mencatat tren pertumbuhan yang menggembirakan, mulai dari inflasi yang tetap terkendali, meningkatnya kesejahteraan petani, menguatnya ekspor, hingga pulihnya sektor pariwisata dan transportasi.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,15 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Sementara inflasi tahun kalender Januari–Mei mencapai 1,22 persen dan inflasi tahunan year-on-year (you) sebesar 2,77 persen.

Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, bahwa laju inflasi pada Mei terutama dipengaruhi kenaikan harga pada kelompok transportasi, khususnya tarif angkutan udara. Meski demikian, tekanan tersebut masih dapat diimbangi oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan.

Baca Juga: Gubernur DIY HB X Minta Industri Jasa Boga Jadi Aktor Strategis Kedaulatan Pangan, Ini Alasannya

"Kondisi harga di DIY masih relatif terkendali. Kenaikan tarif angkutan udara dan beberapa komoditas pangan memang memberi tekanan inflasi, tapi masih diimbangi oleh penurunan harga komoditas lain sehingga laju inflasi tetap terjaga," ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Selain inflasi yang terkendali, sektor pertanian juga menunjukkan perkembangan positif. Nilai Tukar Petani (NTP) DIY pada Mei 2026 tercatat sebesar 109,16 atau meningkat 2,47 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan tersebut menunjukkan membaiknya kemampuan tukar hasil produksi petani terhadap kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi pertanian. Kenaikan NTP didorong oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas unggulan seperti cabai merah, salak, gabah, dan sapi potong.

Baca Juga: Dishub Bantul Naikkan Target PAD Parkir hingga Dua Kali Lipat, Kejar Juru Parkir untuk Kantongi Izin

Subsektor hortikultura menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan pertumbuhan NTP mencapai 3,97 persen, disusul subsektor tanaman pangan sebesar 3,30 persen.

"Kenaikan NTP menunjukkan secara rata-rata kondisi petani membaik. Harga yang diterima petani meningkat lebih tinggi dibanding kenaikan harga yang harus mereka bayar. Ini indikator positif bagi kesejahteraan petani di DIY," jelas Endang.

Di sektor perdagangan luar negeri, DIY mencatat kinerja yang juga impresif. Selama periode Januari hingga April 2026, nilai ekspor mencapai US$206,83 juta atau naik 17,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Gubernur DIY Hamengku Buwono X Minta Kasus TKD Lurah Condongcatur Tetap Diproses Hukum, Ini Kata Raja Keraton

Sebaliknya, nilai impor turun 22,60 persen menjadi US$50,72 juta. Kondisi tersebut mendorong surplus neraca perdagangan DIY mencapai US$156,12 juta, meningkat sekitar US$45,67 juta dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kinerja ekspor DIY masih didominasi sektor industri pengolahan yang menyumbang lebih dari 99 persen total ekspor daerah. Produk pakaian jadi, tekstil, barang kulit, plastik hingga perabot rumah tangga menjadi komoditas utama yang diminati pasar internasional. Amerika Serikat, Australia, dan Jerman tercatat sebagai tiga negara tujuan ekspor terbesar DIY.

"Ekspor DIY masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi lebih dari 99 persen terhadap total ekspor. Produk-produk industri DIY tetap memiliki daya saing yang kuat di pasar internasional," kata Endang.

Baca Juga: Korsleting Listrik, Bawa Ban Bekas dan Oli Eceran Mobil Carry Terbakar di Srumbung, Magelang

Pemulihan juga terlihat pada sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) pada April 2026 mencapai 8.689 kunjungan atau meningkat 33,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara kumulatif, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke DIY selama Januari–April 2026 mencapai 29.394 kunjungan, tumbuh 27,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, perjalanan wisatawan nusantara ke DIY pada April 2026 mencapai 3,59 juta perjalanan atau meningkat 4,55 persen dibandingkan Maret 2026.

Meningkatnya mobilitas wisatawan turut berdampak pada sektor perhotelan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang naik menjadi 24,97 persen, sementara hotel nonbintang mencapai 48,23 persen. Jumlah tamu hotel yang menginap juga meningkat menjadi 701.094 orang atau naik 17,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga: Dialog di UNM, Mentan Amran Respons Cepat Suara Mahasiswa dan Dosen

"Kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara menunjukkan bahwa daya tarik Jogja sebagai destinasi wisata masih kuat," ungkapnya.

Sementara itu, sektor transportasi juga menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari hingga April 2026, jumlah penumpang kereta api yang berangkat dari DIY mencapai 3,90 juta orang, meningkat 7,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja angkutan barang kereta api juga tumbuh positif, mencerminkan meningkatnya aktivitas distribusi dan perdagangan di wilayah DIY.

Baca Juga: Berangkat Ceria, Naura Tak Pernah Sadar Lagi: Begini Cerita Orang Tua Balita yang Meninggal usai Tiga Kali Suntikan sebelum CT Scan di RSUD Prambanan

Berbagai indikator tersebut menunjukkan perekonomian DIY terus bergerak dalam jalur pertumbuhan yang sehat. Stabilitas harga yang terjaga, meningkatnya kesejahteraan petani, kinerja ekspor yang menguat.

"Serta bangkitnya sektor pariwisata dan transportasi jadi modal penting bagi penguatan ekonomi daerah di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung," tambahnya. (iza)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#pertumbuhan #BPS DIY #Pariwisata #inflasi #perekonomian