JOGJA - Pendidikan vokasi di Indonesia terus memperkuat kerjasama dengan dunia internasional. Salah satunya dengan lembaga pendidikan vokasi dan industri di Cina. Hal tersebut diwujudkan dalam Konferensi China-Indonesia Tvet Industry-Education Alliance (CITIEA) yang diselenggarakan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (27/4/2026).
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan, kerjasama sekolah vokasi dan industri antara Indonesia-Cina merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut juga sesuai dengan arahan presiden dalam hal peningkatan dunia pendidikan.
Menurutnya, kerjasama dengan dunia internasional sangat diperlukan di masa yang penuh perkembangan atau disrupsi seperti sekarang. Baik itu disrupsi teknologi, disrupsi perubahan iklim yang dapat mengakibatkan krisis pangan, krisis kesehatan hingga bencana. Serta disrupsi geopolitik seperti perang.
Pratikno mencotohkan, ketika ada masalah perubahan iklim kedua negara harus menemukan solusi bagaimana sektor pertanian bisa tetap produktif. Lalu mengembangkan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) bisa dikembangkan supaya dapat berkontribusi dalam peningkatan sejahtera masyarakat. Misalnya untuk membantu petani, membantu nelayan untuk lebih produktif, hingga membantu pelayanan pendidikan di daerah terpencil.
“Semua itu harus kita lihat bukan hanya sebagai tantangan, tapi sebagai peluang bagaimana lembaga pendidikan tinggi bekerja sama dengan industri untuk menemukan solusi yang dihadapi masyarakat,” ujar Pratikno di sela kegiatan.
Rektor UGM periode 2012 hingga 2017 itu juga berharap, kerjasama antara Indonesia dengan Cina bisa menjadi upaya untuk memaksimalkan potensi bonus demografi Indonesia. Sehingga sekolah vokasi mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.
"Prinsipnya adalah link, match, and meaning bagi masyarakat," katanya.
Sementara itu, Dekan Sekolah Vokasi UGM Prof. Agus Maryono menyampaikan, kolaborasi antar organisasi pendidikan vokasi menjadi suata hal yang penting. Sebab membawa dampak langsung bagi kampus maupun mahasiswa. Terkhusus dalam proses belajar mengajar.
Agus membeberkan, kerjasama yang sudah terwujud di antaranya pertukaran mahasiswa dan magang ke China. Kemudian kedepannya akan menyasar pengiriman dosen untuk studi banding serta riset bersama.
Disamping itu juga ada rencana pembangunan laboratorium pelatihan oleh salah satu institusi asal Cina di lingkungan sekolah vokasi UGM untuk menunjang praktik mahasiswa. Serta membuka peluang bagi mahasiswa asal China untuk menempuh pendidikan jenjang D4 di UGM maupun sebaliknya.
"Dengan kerja sama ini, kami bisa mendapatkan pengajar langsung dari praktisi industri dan mengirimkan mahasiswa untuk PKL atau magang. Setelah lulus, mereka bisa langsung terserap bekerja di dunia usaha," ungkap Agus. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin